Akhlak dan Pemutus Kelezatan

- August 04, 2018

Akhlak dan Pemutus Kelezatan


Pada suatu waktu, seorang sahabat Anshor pernah mendatangi Rasulullah SAW, lalu mengajukan pertanyaan, "Ya Rasulullah, mukmin manakah yang lebih utama (baik)?" Rasulullah menjawab: "Yang paling baik akhlaknya," lalu sahabat tersebut kembali bertanya, "Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?" Nabi bersabda: "Mukmin yang paling banyak mengingat kematian."


Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dengan redaksi yang sedikit berbeda "Yang paling banyak mengingat pemutus kelezatan," diriwayatkan pula oleh Iman Nasai.

Hadits tersebut, menunjukkan bahwa ukuran kebaikan itu selalu terkait erat dengan keluhuran budi, kemuliaan akhlak, kesantunan sikap. Bukan pada rupa-rupa pencitraan 'kebaikan kagetan', tiba-tiba baik, tiba-tiba jahat, tiba-tiba dermawan, tiba-tiba serakah. Di satu sisi menampakkan citra gemar bersedekah, namun di sisi kehidupannya yang lain gemar menjarah.

Imam Al Ghazali menulis dalam Ihya Ulumuddin bahwa akhlak adalah sesuatu yang mengacu kepada keadaan batin manusia (ash-shurat al bathina), yaitu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang secara mudah dan ringan, tanpa perlu dipikirkan atau direncanakan sebelumnya dengan kata lain perbuatan itu lahir secara spontan, mudah, tanpa menghitung untung rugi.

Akhlak mensyaratkan dua hal, spontan (ringan tanpa paksaan) dan stabil (berkelanjutan). Akhlak merupakan kebiasaan bawaan (tabiat) bukan rekayasa dan pencitraan, munculnya tidak hanya pada waktu-waktu dan tempat-tempat tertentu. Semisal tiba-tiba menjadi baik, ketika musim pemilu dan maju sebagai kontestan pemilu.

Menurut Al Ghazali, ia adalah hay'a rasikha finnafs, keadaan jiwa yang mantap, bukan pengetahuan apalagi semacam ilmu strategi pemasaran. Akhlak di samping sesuatu yang 'given' dibawa dari lahir, ia dibentuk oleh perjalanan hidup seseorang, ditunjukkan dengan konsistensi (sesuatu yang menetap).

Dalam hadits di atas, hubungan kebaikan dan kecerdasan sangatlah erat. Jika akhlak adalah soal kebiasaan spontan dan terus menerus bukan pengetahuan (teori), maka kecerdasan juga sama sekali bukan soal retorika dan kepandaian berdalil dan berdalih, tetapi tentang sebanyak-banyaknya mengingat pemutus kelezatan.

Sebagaimana lanjutan hadits tersebut, bahwa mukmin yang cerdas itu adalah mukmin yang paling banyak mengingat kematian (pemutus kelezatan) sehingga berdampak pada kesiapan dan persiapan terbaiknya untuk menyongsong fase berikutnya, yang bisa saja sama sekali tidak senikmat (selezat) kehidupan sebelumnya.

Dan yang terpenting, ketika transisi (ketika proses mengalami diputus) dari kelezatan itu digambarkan sebagai satu fase/waktu yang paling menyakitkan dari segala hal yang menyakitkan.
Barangkali setiap orang pernah mengalami satu fase di mana ia sedang klimaks, berada di puncak kenikmatan dan sedang senang-senangnya, sangat cinta, sangat menikmati (sedang sayang-sayangnya) kemudian 'dipaksa' harus berpisah, tentulah perpisahan menjadi sesuatu yang sangat dibenci dan menyakitkan saat itu.

Dan, semua kita meminjam istilah Soleh Solehun, adalah orang-orang yang memang ditakdirkan untuk selalu harus merelakan perpisahan dengan orang atau sesuatu yang kita cintai. Pasti!

Kematian, sebagai pemutus kelezatan tentu akan lebih sangat menyakitkan.
Mengingat pemutus kelezatan, kematian tentu bukan hanya soal ingat, datang ke makam (kuburan), ziarah, melewatinya setiap hari, tapi mati rasa, tidak peka bahwa kematian itu begitu dekat, tak pernah mengambil hikmah sehingga mendasari setiap kebaikan sebagai investasi, menyambut fase setelahnya.

Akhlak mulia yang lahir, adalah kebaikan-kebaikan yang 'given/tabiat' dan menjadi karakter, bukan kebaikan musiman. Ia adalah kebaikan permanen (stabil dan terus menerus) bukan mendadak baik di waktu dan tempat tertentu, spontan bukan rekayasa (disesuaikan dengan strategi dan kebutuhan pasar).

Kebaikan, keluhuran budi dan kebermanfaatan seharusnya adalah tabiat, karakter permanen, kecenderungan dan kegandrungan kemanusiaan, sikap cerdas sebelum akhirnya sampai pada fase 'terputus' dari kelezatan hidup.

Sayang 'banget'kan jika kebaikan itu hanya menyebar perdapil dan musim pemilu aja!