Membaca Ulang 'Postingan' Kita di Media Sosial

- July 03, 2018

Membaca Ulang 'Postingan' Kita di Media Sosial

Ketika setiap kali mengeposkan (memosting/memposting) status, membagikan status orang lain atau berita, berbagi momen kebahagian seperti foto-foto bersama atau swafoto di media sosial, apakah yang terlintas di benak kita? Keinginan untuk mempengaruhi orang lain, pamer kesibukan, atau justeru menyerang kelompok yang berbeda, unjuk kebolehan, mendulang simpati, berharap pengakuan atau sekadar berbangga dengan ide dan pikiran-pikiran sendiri.


Pertanyaan itulah yang berusaha untuk terus saya ajukan kepada diri sendiri. Sehingga akhirnya, saya berusaha untuk menahan diri membagikan apapun di media sosial, selain dari membagi bahan bacaan yang saya harapkan bermanfaat untuk orang banyak, meski barangkali itu juga tidak bisa lepas landas dari keinginan-keinginan yang bisa mengotori niat pertama, karena bisa memicu penilaian, sok ideal, sok moralis, dan sok-sokan lainnya.

Namun, biarlah. Berharap bisa tetap bertahan untuk tidak men-share apapun selain hal-hal yang bisa menularkan kebaikan, memotivasi atau mengetuk peduli dari pembaca media sosial lainnya. Intinya berusaha untuk dar'ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih. (mencegah kemudaratan harus lebih didahulukan dibanding menarik kemanfaatan).
Awalnya, saya berpendapat bahwa adakalanya perlu juga menyerang kelompok-kelompok yang berbeda pandangan dengan saya, sebagaimana mereka juga seringkali menyerang secara membabi buta, mengabaikan etika dan logika. Tetapi, akhirnya saya berpikir untuk apa? Kepuasan tak diraih, justeru permusuhan dan benih-benih kebencian yang berpotensi subur bersemi.

Pernah, suatu waktu saya menjadikan media sosial sebagai semacam diary atau buku catatan, buku catatan harian kala dulu masih usia sekolah, menuangkan segala kelu-kesah, curahan hati, atau beberapa kenangan masa lalu yang berlatar suka maupun duka, tetapi tetap saja memiliki ruang untuk diinterpretasi menyindir, menyerang sehingga berakibat melukai perasaan seseorang. Duh, betapa susahnya bermedia sosial, di tengah-tengah manusia yang baperan, meski yang baperan ketika mengeposkan status jarang berpikir sama, bahwa manusia lainnya juga baperan.

Seorang karib, menasehati, "peduli amat dengan penilaian orang lain." Dulu, saya adalah orang yang tak pernah mau tahu, orang yang masabodo dengan penilaian dan perasaan orang lain, terlebih jika hal tersebut dengan kehidupan pribadi dan prinsip hidup, selama itu menurutku benar dan tidak kuniatkan menyakiti orang lain.

Belakangan? Sebenarnya masih, meski aku berusaha keras untuk mengubah cara pikir itu. Terkadang gagal juga untuk tak selalu mengindahkan setiap 'kecerewatan' orang lain, tetapi tetap sebisa mungkin untuk tak menyakiti dan menambah jumlah daftar kebencian dan orang-orang membenci, waktu teramat pendek untuk digunakan memelihara benci, usia menjadi sia-sia untuk hanya dipakai menghadirkan kebencian yang ujung-ujungnya melelahkan hati, memeras perasaan. Terbersit tanya, seberapa lama diri mampu bertahan menyemburkan amarah dan kebencian? Untung apa yang didulang dari kebiasaan terus menyerang dan memojokkan orang lain? Perubahan apa yang didapat, dari mendebat dengan caci maki tanpa kasih?

Apapun dan dengan alasan apapun, ambisi, benci, keserakahan dan keangkuhan tak pernah dibenarkan dan tak akan pernah bisa membahagiakan. Cinta dan ketulusanlah yang pada akhirnya mampu mempengaruhi dan merubah cara pikir dan perilaku orang lain, cintalah pada akhirnya mampu menaklukkan tanpa harus menabuh genderang perang, dan cinta yang paling rendah sebagai ikhtiar tak menyukai kemungkaran adalah mendoakan setiap pelaku kejahatan dan kemungkaran untuk bertemu cahaya, jalan kasih dan kebenaran.

Semakin sering kita menyebar konten berisi kebencian dan caci maki terhadap kelompok yang berbeda dengan kita, semakin  tajam permusuhan dan semakin dalam dendam yang akan kita dapat. Dan, yakinlah, pasti tak akan ada secuilpun perubahan dan kebaikan dari segala perdebatan, diskusi yang di dalamnya benci selalu dipupuk, kejumawaan dirawat dan kesombongan merasa selalu benar, ditonjolkan.

Maka, untuk diri yang merindukan ketenangan dan kebahagiaan, cobalah baca ulang status dan postingan kita di media sosial, pertanyakan dan jawablah dengan jujur, apakah motif yang melatarbelakanginya.

Dan, kepada engkau yang pernah tersakiti, dengan segala kelemahan dan kerendahan hati, maafkanlah diri ini yang sedang belajar untuk berhenti membenci.

Tabik.