Menjadi Pemilih Beradab atau Rasional?

- June 30, 2018

Menjadi Pemilih Beradab atau Rasional?

Saya tertarik dengan postingan Haz Algebra, di facebook yang mengutip pernyataan Yuval Noah Harari, "democracy is not based on human rasionality; its based on human feelings. During elections and referendums , you're not being asked, "what do you think?" You're actually being asked, "How do you feel?" And if somebody can manipulate your emotions effectively, democracy will become an puppet show."

"Demokrasi tidaklah didasarkan pada rasionalitas manusia; ia didasarkan pada perasaan manusia. Selama Pemilihan dan referendum, Anda tidak ditanya, 'Bagaimana menurut akalbudi Anda?' Anda sebenarnya ditanya, 'Bagaimana kata hati Anda?' Dan jika seseorang bisa memanipulasi perasaan Anda secara efektif, demokrasi akan menjadi pertunjukan boneka emosional."

Menurut Haz, ada paradoks,  ketika dalam berdemokrasi, kita menggaungkan slogan 'akal sehat' (pemilih cerdas) di satu sisi, tapi sebenarnya berharap mengedepankan 'perasaan/hati nurani' pemilih di sisi lain.

Saya entah kenapa, tak kuasa untuk tidak mengiyakan pernyataan ini. Apalagi, ketika seringkali menjumpai strategi atau metode kampanye yang sering digunakan oleh beberapa orang dalam pemilihan umum (pemilu), yang terbukti efektif dan efisien (murah), adalah dengan strategi pendekatan emosi. Hubungan kekerabatan, suku, agama dan kesamaan latar organisasi.

Saya menjadi teringat sebuah pernyataan menarik dari buku Nalar Batas karya Donald B. Calne, "Jika kita berpikir banyak,apakah kita akan bertindak lebih baik?" atau barangkali bisa kita sederhanakan dengan pertanyaan, "apakah semakin bernalar (cerdas) manusia akan lebih beradab?" Jawabannya, "Tidak!" Dan untuk merunut dan mengetahui alasan ilmiah dari jawaban tersebut, berikut fakta sejarah bagaimana evolusi nalar, saya sarankan Anda untuk membaca buku Sapien karya Yuval Noah Harari dan Nalar Batas tersebut.

Saya hanya ingin sedikit mengungkap bahwa dengan nalar, betapa ambisiusnya manusia untuk tak berhenti menaklukkan sesama dengan segala cara. Para konsultan politik, berikut lembaga surveinya, menjadi pemberi saran yang merekomendasikan penggunaan uang untuk menang dalam pemilihan, hingga muncul adagium "lebih baik menang bermasalah daripada kalah terhormat," yang sebenarnya lebih pas menjadi, "menang bermasalah dan kalah bermasalah," karena pada hakikatnya tak ada yang menang terhormat dan kalah terhormat, semua menggunakan cara-cara yang kotor.

Bagaimana menilainya? Lagi-lagi tak perlu gunakan banyak teori dan rumus sebagaimana nalar butuhkan, cukup dengan mengajak hati kita bicara, meminjam istilah Maulana Jalaluddin Rumi, hati adalah cermin, jika kamu masih menganggap dunia sesuatu yang menggiurkan, dan berusaha mengejarnya dengan segala cara, maka sesungguhnya engkau sedang berkaca dengan punggung cermin.

Kemegahan dunia hanyalah bayangan, memperindah bayangan adalah dengan cara memperindah diri, bukan membedaki bayangan.

Mengajak pemilih untuk menjadi pemilih cerdas yang outputnya adalah pemimpin atau wakil yang dipilih adalah orang cerdas, jujur, amanah dan peduli bisa jadi memang hanyalah ilusi, di tengah-tengah trust yang terjun bebas pada titik terendah dalam kehidupan demokrasi, sehingga nalar bisa mendorong setiap pemilih untuk berpikir memilih yang memberi daripada tak mendapatkan sama sekali.

Penyelenggara dan orang-orang pintar, sebenarnya tak perlu sibuk membuat rumus dengan membagi uang 100 ribu rupiah yang didapat pemilih, hingga limit terkecil, 5 rupiah misalnya dalam jangka lima tahun, karena menurut nalar pemilih pastilah itu lebih baik daripada tidak mendapatkan apa-apa. Toh, menolak bayaran tersebut dan pergi ke TPS dengan tulus dan riang gembira, pada akhirnya juga tak mendapatkan apa-apa, selain janji yang nyaring diteriakkan pada saat kampanye.

Berbeda halnya, dengan orang yang menjalani hidupnya dengan iman, sesuatu yang dibenarkan dengan hati, meta-empirik. Melampui sesuatu yang profan dan imanen. Hati seringkali tak bisa diukur dengan hal-hal yang bersifat duniawi, material, kesementaraan dan tidak memiliki makna yang pasti dihadapan realitas yang Maha Mutlak. Pilihan hati, selalu mengisi keterdalaman dari segala sesuatu, selalu berada di balik yang nyata, di balik kemungkinan yang tak mungkin dikatakan.

Maka tak perlu repot-repot hendak merasionalisasi 10% pemilih pasangan Mustafa-Ahmad Jazuli, karena sejak calon gubernurnya ditersangkakan KPK, pertarungannya bukan lagi sekadar menang-kalah, atau mengajukan pertentangan-pertentangan epistemik soal kenapa kotak kosong menang di Makassar?

Jadi, selama kita masih bernafsu menguasai, menaklukkan, menunjukkan eksistensi dan memamerkan survival, barangkali kita masih belum bisa berucap terimakasih atas posisi kita saat ini.

Marilah lebih beradab, dengan bertindak menggunakan hati!

Wallahu a'lam.