Menggugat Nalar

- June 21, 2018

Menggugat Nalar
"Jika kita berpikir banyak, apakah kita akan bertindak lebih baik?" Pertanyaan di halaman kedua buku ini, memang bernada menggugat dan mempertegas bahwa nalar tidak dapat menentukan arah dan tujuan manusia.


Kegelisahan Donald B. Calne, sebagai seorang neurolog yang sering menjumpai perilaku disorders pada lingkungan sosialnya, memacunya untuk terus-menerus mencari jawaban tentang nalar. Sesuai dengan profesinya, sebagai Direktur Neurodegenerative Disorder Centre, Calne mencari jawaban ini melalui pengamatan terhadap neuron dan otak manusia, dalam perspektif teoretik biologi evolusioner.

Belakangan ini,  kita memang sering menyaksikan betapa banyak orang pintar dan cerdas yang goncang kejiwaannya, narasi-narasi yang disemburkan di media sosial, terlebih soal kekuasaan dan dukungan politik, seakan meneguhkan pendapat Calne, bahwa nalar adalah perkakas biologis yang berkembang secara evolusioner, bertugas menjawab pertanyaan 'bagaimana' bukan 'mengapa'. Nalar merupakan fasilitator, bukan inisiator. Nalar kita gunakan untuk mendapatkan apa yang kita mau, bukan untuk menentukan apa yang kita mau.  Nalar tak menjamin kita lebih beradab dan baik.

Berbeda dengan moral dan nurani yang bertautan dengan hal-hal yang seharusnya dan diinginkan, terpaut dengan emosi dan perintah budaya. Nurani dan emosi mendorong kita karena memuaskannya akan membawa kebahagiaan, dan mengabaikannya akan menimbulkan kekecewaan. Kebudayaan dapat mengaitkan tujuan-tujuan dengan nurani dan emosi, dan keduanya memunculkan motivasi. Nalar jauh dari gelora hasrat manusia, sedangkan nurani berkait erat dengan hasrat, kepuasan dan kebahagiaan.

Di buku ini, Calne menunjuk bagaimana fakta historis tampilnya era Enlightment di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18, di saat yang tak terpaut jauh dari era kebangkitan nalar tersebut, abad ke-19, justeru para cendekiawan Jerman yang paling awal memeluk ideologi Nazi, Wagner dan Nietzsche adalah dari sekian banyak perintis itu, termasuk tokoh perguruan tinggi, golongan terdidik, ahli hukum dan dokter.

Buku ini sangat keren dan wajib dibaca. bagi mereka yang selama ini memuja-muja nalar, apalagi jika disandingkan dengan dengan buku 'Sapiens' karya Yuval Noah Harari yang banyak menceritakan evolusi berkembangnya nalar. Termasuk ada dua buku yang layak kita tunggu untuk diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama, The God Delusion dan Homo Deus.


Kemajuan ini diiringi dengan perubahan sosial-politik di Eropa, di mana nalar dan rasionalitas mendapat tempat yang makin tinggi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, kepercayaan dan harapan semakin meningkat bahwa sains dan nalar mampu melenyapkan kemiskinan, kebodohan, dan kekejaman di dunia.

Namun, Calne menilai bahwa harapan yang digantungkan pada nalar terlalu berlebihan. Meletusnya perang dunia dan krisis ekonomi berulang-ulang menjadi bukti keterbatasan nalar dalam menjalankan peranan sebagai ’dewa penyelamat.’ Gerakan menjauhi nalar secara berangsur mulai tampil kembali ke panggung sejarah. Bandul sejarah kembali ke titik yang berlawanan. Bagi Calne, keterbatasan bukan hanya pada sains, tapi juga pada dunia akademis secara umum.

”Bahwa kekuatan nalar betul-betul merupakan kemampuan manusia yang nyata, jelas, dan tidak-boleh-tidak bekerja dalam hampir semua aspek kehidupannya. Tapi nalar tidak bisa memberi atau mengendalikan tujuan-tujuan yang terkait dengannya.” Tulis Calne

Manusia menurut Yuval Noah Harari memang tak pernah lelah memamerkan keistimewaan-keistimewaannya, meneguhkan superioritasnya dari makhluk-makhluk lain, dan dengan congkak mendaulat diri sebagai homo sapiens (manusia bijak), setelah sebelumnya mereka berevolusi  dari homo rudolfensis (manusia dari Danau Rudolf), homo ergaster (manusia bekerja) dan mengasuh spesies-spesies baru lainnya.

Manusia lupa, bahwa dulunya, mereka hanyalah spesies yang bersembunyi di semak-belukar, menunggu makanan dari buruan serigala dari yang tersisa, begitu hendak keluar mengambil sisa-sisa, segerombolan anjing akhirnya menghentikan niatnya itu, mereka pun harus kembali bersabar, menunggu sisa-sisa anjing tersebut, dan akhirnya memakan sum-sum yang ada di dalam tulang yang tersisa.

Nalar, dalam catatan panjang sejarah memang lebih sering tampil sebagai alat untuk menjinakkan, memperluas kekuasaan, menjajah, menciptakan senjata untuk memusnahkan, meneguhkan prestise. Nalar selalu haus pengakuan dan kekuasaan, tak pernah berhasil menghantar manusia kepada kebahagiaan hakiki.

Maka, apa yang tersurat dalam perjalanan teologis Ibrahim sebagai kekasih Tuhan, yang dinilai paling rasional dan tak mampu didebat oleh Namrud, ketika beliau menghancurkan patung-patung sesembahan dan menyisakan satu, yang dimintanya ditanya kepada Namrud. Pun, pada akhir perjalanan pencariannya tentang Tuhan, ia tetap harus menggunakan nuraninya, bukan nalarnya.

"(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci." (Qs. Al-Shaffat: 84).