E-Book: Jurnalisme Sastrawi

- May 12, 2018
E-Book: Jurnalisme Sastrawi
Jurnalisme Sastrawi satu genre dalam jurnalisme yang pada mulanya berkembang di Amerika Serikat tahun 1960-an. Ia menggabungkan disiplin paling berat dalam jurnalisme serta kehalusan dan kenikmatan bercerita dalam novel. Wawancara bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan sering ratusan, narasumber. Risetnya mendalam. Waktu bekerjanya lama, bisa berbulan-bulan. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa. Beberapa wartawan majalah Pantau mencoba belajar memakai genre ini untuk mengembangkan jurnalisme berbahasa Melayu. Dari Agus Sopian hingga Linda Christanty memasukkan elemen-elemen jurnalisme sastrawi dalam karya mereka. Dari pembantaian orang Aceh hingga hiruk-pikuk larangan musik Koes Bersaudara, dari soal wartawan Ambon ikut memanasi sentimen Kristen-Islam hingga kemiskinan di Jakarta.

Tidak ada satu pun liputan dalam buku ini yang tidak mendalam dan tidak memikat. Setiap liputan punya kekuatan tersendiri: liputan Simpang Kraft dan Jawa Pos dalam konflik agama di Maluku memberi pesan besar bahwa tidak mudah menghasilkan pemberitaan yang independen; liputan "sekolah" menggunakan sudut pandang yang menarik yaitu kehidupan para tentara Indonesia di medan konflik, juga liputan Kebo menyiratkan situasi politik-ekonomi yang lebih besar dari sekedar membakar seorang pemulung; liputan Koes Plus yang mesti dipenjara memberi pandangan baru akan Soekarno; terakhir, liputan privatisasi air di Jakarta yang berdampak erat terhadap hajat hidup karyawannya dan masyarakat luas.

Istilah jurnalisme sastrawi sebenarnya sudah ada sejak tahun 1960-an sehingga kini bukanlah hal baru di dunia, tetapi merupakan hal baru di Indonesia karena belum ada wartawan yang menyentuh genre ini hingga era reformasi dimulai. Namun, mengutip ulang kegelisahan dalam pengantar buku ini: apakah ada wartawan Indonesia yang siap bergelut di genre jurnalisme sastrawi? Karena jelas butuh pengorbanan waktu yang tidak sebentar, biaya yang mungkin tidak sedikit, dan tenaga yang pasti selangit, bahkan hanya untuk menghasilkan satu buah artikel untuk dibaca. Artikel yang punya kualitas kedalaman setara laporan investigasi, lalu diramu sedemikian rupa dengan menambahkan sisi psikologi, dan menuntut kemampuan bercerita si wartawan.

Tugas yang berat. Sayangnya, Majalah Pantau yang gulung tikar mungkin merupakan salah satu bukti bahwa genre jurnalisme sastrawi barangkali belum terlalu diminati masyarakat Indonesia?

Unduh pdf buku ini di sini.