Tak Ada yang Sepenuhnya Jahat

- April 07, 2018
Renungan: Tak Ada yang Sepenuhnya Jahat, Omah1001

Tuhan mengajarkan untuk membenci sewajarnya dan mencinta secukupnya, karena bisa jadi yang kita benci suatu saat akan menjadi orang yang kita cintai dan orang yang kita cintai bisa jadi suatu saat menjadi orang yang kita benci.

Tak boleh berlebihan. Jangan lebay! Begitu Tuhan mengingatkan dalam Kitab Suci, karena berlebihan adalah perbuatan yang tak disukai-Nya. Manusia tak ada satupun yang sepenuhnya jahat, yang baikpun tak menutup kemungkinan untuk khilaf dan salah.

Selalu ada jalan kembali kepada kebenaran, jalan pertaubatan dan pengampunan bagi mereka yang tersesat. Begitupun yang benar dan baik, tak boleh terlalu jumawa, merasa telah baik dan paling baik, tak boleh takabur, jalan kebenaran itu selalu dipenuhi onak, jalan licin berbatu, harus ditapaki dengan mawas diri, zuhud dan rendah hati, yang tak waspada rawan tergelincir.

Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW beristighfar tak kurang dari 100 kali dalam sehari, bukan karena hendak memamerkan dizkir dan amalannya, melainkan karena Rasulullah menyadari bahwa beliau juga tak luput dari kesalahan. Beliau juga menganjurkan dan memberikan teladan untuk memberikan maaf kepada siapapun yang menyakitinya.

Barangkali orang berdalih (bukan berdalil), bahwa orang-orang yang menyakiti dan menghina Rasulullah SAW itu menyerang pribadi beliau, bukan menyerang agama, maka wajar beliau tak marah. Ketahuilah, bahwa Rasulullah SAW secara pribadi tak memiliki cacat fisik dan perilaku sehingga tak layak disakiti, beliau berasal dari suku yang dihormati, kakek dan pamannya disegani, beliau disakiti dan dicacimaki karena mensyiarkan kebenaran.

Orang-orang Arab Jahiliyah tak sekali menuding bahwa kebenaran yang disampaikan oleh Nabi sebagai dongeng, dan ia dianggap gila karena telah menyampaikan kebenaran tersebut. Bahkan, tawaran kehormatan, materi berlimpah hingga gadis cantik nan terhormat pernah ditawarkan kepada beliau, sedianya beliau sudi menghentikan seruannya.

Maka, sekali lagi penghinaan kepada diri Nabi sungguh karena teguhnya pendirian beliau menyerukan kebenaran itu kembali kepada yang Al Haq. Bukankah juga Rasulullah SAW itu simbol dari ajaran Islam? Sejak kapan penghinaan kepada pribadi Muhammad bisa dipisahkan dari penghinaan terhadap ajaran Islam secara keseluruhan? Atau jangan-jangan kita sedang berusaha menghimpun dalih (bukan dalil) hanya untuk membenarkan sikap menumpuk dendam dan kebencian?

Alangkah indahnya dunia, ketika khairu ummah (ummat terbaik) menyadari dirinya memang sengaja dikeluarkan untuk menyeru/mencerahkan orang-orang yang berada dalam kesesatan (dzulumat) kepada jalan kebenaran (nur), sehingga tatkala melihat kejahatan, yang terlintas dalam benaknya adalah kesalahan dirinya sendiri yang tak pernah maksimal menyerukan kebenaran dengan cara hikmah, kasih sayang dan nasihat-nasihat yang baik.

Dalam sirah tercatat indah, perjalanan dakwah Rasulullah SAW ke Thaif selama 10 hari dalam rangka menyeru orang-orang kepada kebenaran, beliau ditolak dengan kasar, dicacimaki, dilempar dengan batu hingga beliau terluka dan tubuhnya berdarah, beliau selamat dan berlindung di kebun milik Atabah dan Syaibah berjarak 3 mil dari Kota Thaif, beliau dirawat oleh Zaid bin Haritsah.

Diceritakan dalam sebuah riwayat, kala itu Rasulullah sangat bersedih bahkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, diceritakan dari Aisyah, bahwa kesedihan Rasulullah tersebut melebihi kesedihannya karena mengalami kekalahan dalam perang Uhud. Beliau menengadah, memohon pengampunan atas kelemahan dan ketakberdayaannya, hingga saat malaikat menawarkan jasa mengangkat gunung Uhud dan menimpakan kepada mereka, beliau menolak dan berkata: "Tidak, bahkan aku berharap semoga Allah melahirkan dari keturunan mereka, orang-orang yang akan menyembah Allah semata serta tidak menyekutukannya."

Betapa agung dan luhurnya pekerti Muhammad, beliau benar-benar mewajahkan Islam yang rahmatan lil 'alamin, alih-alih memiliki niat membalas kejahatan dengan kejahatan, beliau justeru mendoakannya dengan tulus, berharap akan lahir generasi yang baik dan taat dari orang-orang yang menyakitinya tersebut.

Begitulah, manusia bahkan makhluk teburuk sekalipun selain manusia, tak pernah diciptakan tanpa guna.

Dalam dunia pewayangan, kita mengenal Rahwana sebagai durjana dan penjahat. Kredo yang sudah mengaliri segenap persendian kita, selain buruk muka, buruk juga seluruh perilakunya. Mungkin anggapan itu tak salah, tapi siapakah yang bisa menolak ketulusan cinta Rahwana kepada Dewi Setyawati.

Namun, kita bisa berdebat, tatkala berusaha membandingkan ketulusan dan agungnya cinta Rahwana dibanding cinta Rama. Rahwana hanya mencintai satu perempuan, Dewi Setyawati, sampai Sang Dewi meninggal dan kemudian menitis ke Dewi Sinta. Cinta di hati Rahwana masih tersimpan utuh, hingga akhirnya Rahwana bertemu dengan Sinta, yang sayangnya sudah menjadi istri Rama, karena memenangi sayembara di kerajaan Mantili.

Melihat cinta sejatinya sudah menjadi milik orang lain, Rahwana tak memiliki pilihan selain berusaha memperjuangkan cintanya, ia menculik Sinta dan membawanya pulang ke Alengka. Selama tiga tahun disekap, Sinta diperlakukan bak ratu oleh Rahwana. Tak sedikitpun ia menyakiti, apalagi terpikir untuk memperkosanya, meski ia bisa memaksa dan melakukannya. Rahwana tahu, cinta sejati tak butuh dipaksa.

Setiap hari Rahwana mendatangi Sinta dengan beragam puisi. Dia selalu minta maaf karena telah menculiknya. Semua itu dilakukan semata mata karena cinta dan ingin menjadikan Sinta sebagai permaisuri, satu-satunya istri terkasih. Namun, Sinta selalu menolak.
“Duhai wanita terkasih, kamulah satu-satunya wanita yang terpatri di tulang dan tercetak di jantung. Aku siap mati untukmu,” kata Rahwana penuh harap kepada Sinta.

Sinta menjawab, "Jujur. Aku sebenarnya juga mencintaimu. Kamu selalu memperlakukanku dengan baik. Tapu aku juga tak mau menghianati cinta suamiku. Jika kamu mencintaiku, tolong relakanlah aku dan kembalikanlah aku kepada suamiku."

Kata-kata Sinta ibarat mantra yang menyihir Rahwana. Sebab, selama hidupnya, hanya kata-kata itulah yang dinanti. “Baik, jika itu maumu, sebagai ksatria, aku akan berduel satu lawan satu dengan Rama. Jika dia bisa mengalahkanku, maka aku akan mengembalikanmu kepadanya,” tegas Rahwana.

Rahwana akhirnya kalah dan terbunuh, dikenang sebagai laki-laki durjana dan penjahat yang telah menculik Dewi Sinta. Namun, epik itu mengirimkan pesan kuat, bahwa sesungguhnya sejahat apapun Rahwana, ia tetap memiliki kebaikan, ketulusan dan sikap kesatria. Budayawan Sujiwo Tejo, menggambarkan ketulusan Rahwana dalam novel Rahvayana: Aku Lala Padamu lewat sebuah kalimat: "Tuhan, jika cintaku kepada Sinta terlarang, kenapa Kau bangun begitu megah rasa itu di hatiku?"

Begitulah, tak ada yang sepenuhnya hitam dalam hidup. Barangkali yang bisa kita usahakan adalah maksimal menyerukan kebenaran dengan ketulusan penuh cinta-kasih, bukan menghakimi baik-buruk perjalanan akhir seseorang. Bukankah kebaikan yang menentukan adalah husnul khotimah bukan husnul qodimah, artinya setiap orang selalu memiliki peluang dan ruang untuk baik pada akhirnya.

Wallahu a'lam