Kartini Menulis

- April 18, 2018

Hifni Septina Carolina, Kartini Menulis, Omah1001.net
Perempuan, selain digambarkan dengan paras ayu, tubuh molek, dan dandanan yang aduhai, juga diidentikkan dengan mahkluk yang lebih vocal dibandingkan laki-laki. Setidaknya berdasarkan penelitian yang ada, seorang perempuan dengan mudahnya dapat menghasilkan 6000-8000 kata yang dapat diucapkan dalam sehari.

Malah penelitian lain menyebutkan sekitar 13.000-20.000 kata. Maka dari itu seorang perempuan selalu membutuhkan media untuk mencurahkan banjiran kata tersebut, mulai dari ngerumpi dengan teman di kantor, pasar, ataupun ruang publik lainnya. Bisa juga dengan menelpon teman dalam waktu yang lama. Dan tak sedikit yang mencurahkan letupan kata lewat sosial media.Itulah setidaknya yang penulis rasakan sebagai perempuan, merasa aneh jika dalam sehari tak berbicara sedikitpun. Terlebih ketika suami pulang ke rumah, semacam refleks saja menyambutnya dengan rentetan kata demi kata.

Namun, ada beberapa perempuan cerdas yang mereproduksi ribuan kata lewat tulisan. Ya, mereka menulis untuk mengeluarkan ide, ilmu, minat bahkan perjuangan yang abadi.

Adalah juga seorang perempuan berasal dari Jepara, bernama Kartini (1879-1904) yang mampu mengubah sejarah dan memperjuangkan nasib perempuan di masanya. Seorang perempuan yang terkukung dari dunia luar, tak diperbolehkan mengeyam pendidikan. Namun dengan kegigihannya, Beliau dapat berkorespondensi dengan teman-temannya yang ada di Belanda lewat untaian surat demi surat. Kumpulan surat tersebut sekarang dibukukan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Melalui tulisan, Kartini berjuang melawan feodalisme dan mengusik sistem yang menindas itu. Sekaligus menyadarkan kaum perempuan agar berani memperjuangkan haknya agar diakui setara secara sosial.

Ada baiknya kita menghidupkan kembali semangat yang telah diperjuangkan oleh Kartini agar seorang perempuan dapat berdaya dan berdikari serta berjuang untuk masyarakat dan bekerja demi kebahagiaan sesama. Dengan menulis, kita bisa mendobrak ruang yang selama ini terbatas untuk perempuan.Teringat pesan Imam Ghazali,  “Jika kamu bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar maka menulislah”.

Perempuan, sekalipun seorang ibu dapat menulis banyak hal untuk menunjukkan eksistensi dan melatih kecerdasannya, misalnya menulis tentang tips memasak, menulis tentang parenting, menulis tentang kesehatan keluarga dan lain-lain. Menurut Pramoedya dengan menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Belum seragamnya tingkat pendidikan perempuan juga menyebabkan cara pandang dan pola pikir perempuan di kawasan pedesaan terhadap upaya memperjuangkan haknya masih minim. Apalagi untuk melakukan perlawanan dengan menulis. Akibatnya, mereka memasrahkan nasib kepada suami. Hal ini secara tak langsung menyebabkan perempuan belum mampu berdikari.

Kartini bukan hanya menjadi ikon dari perjuangan emansipasi, namun lebih dari itu sosoknya menjadi perintis untuk menyegarkan peran perempuan Indonesia menghadapi era global.

Selanjutnya yang harus dilakukan oleh perempuan di Tanah Air adalah melakukan pembuktian diri dan perlawanan, sehingga diskriminasi akan berkurang. Sebagai penutup, perkataan Gus Mus terasa begitu menyengat untuk seluruh perempuan, “Tak hanya Kartini, menurutku semua perempuan yang menghargai dirinya menghargai dan menginginkan kemajuan sesamanya, “Harum Namanya”.

Penulis: Hifni Septina Carolina, Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro (UMM)