E-Book: Cinta Tak Pernah Tua

- April 24, 2018
E-Book: Cinta Tak Pernah Tua, Benny Arnas
Dalam Antologi cerpen ini Benny Arnas mencoba mengangkat suasana kehidupan masyarakat pedesaan Melayu di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan pasca kemerdekaan (sekitar 1950-an hingga 1990-an).

Kiasan-kiasan, diksi serta frasa-frasa yang kental dengan nuansa Melayu hadir menjadi pemanis setiap kisah dalam antologi ini seperti waktu meninggikan dan menggemukkan pepohonan, penindas berkulit jagung, wajahmu seperti kembang sepatu di dekat api membara dan lainnya. Tak hanya sebagai pemanis, namun sarat akan makna mendalam. Bukan orang Melayu jika tak kenal dengan kiasan, sepertinya itu yang ingin disampaikan Benny Arnas dalam setiap cerpen di samping isi cerita.

Dalam setiap jeda halaman antara satu cerpen dengan cerpen lain, Benny Arnas menyelipkan sketsa-sketsa karya Abdullah Ibnu Thalhah, kartunis dari Tabloid Cempaka, Semarang. Sketsa-sketsa tersebut secara garis besar menggambarkan salah satu fragmen dari kisah yang ingin disampaikan dalam setiap cerpen. Walaupun dari pengamatan saya ada yang penggambarannya tidak sesuai seperti sketsa untuk cerpen “Muslihat Hujan Panas”.

Walaupun antologi ini terdiri dari 12 ide penceritaan yang menarik, namun bukan perkara mudah untuk memahami setiap ceritanya. Seperti tipikal sastra Melayu yang sarat akan diksi dan kiasan sebagai bunga tulisan, menyebabkan pembaca dituntut memilki kesabaran dan konsentrasi ekstra untuk memisahkan antara diksi dan kiasan yang baur sehingga pembaca menyerap makna yang terkandung dalam setiap cerpennya.

Unduh Cinta Tak Pernah Tua.
.