Cerpen: Tentang Sebuah Rindu Dan Kecemasan

- April 19, 2018

Cerpen: Tentang Sebuah Rindu Dan Kecemasan, Omah1001.net
 “Rumah ini kenangan masa lalu,
sisa kejayaan malaikat yang bertamu.
Seperti yang semestinya aku mati terlebih dahulu....”.

Sepenggal bait sajak yang tercurah indah. Kisah seorang pria yang menunggu lama untuk kembali.

“dan kita adalah tamu dari penantian masa silam,
Ya, dan sepertinya memang benar...”

Lanjutan bait sajak yang ia baca sesaat setelah Toni lama pergi tak kembali.

Hmm.. aroma ini sepertinya memang benar-benar sedang menungguku untuk kembali” sahutnya dalam hati.

Kini Toni menunjukkan wajah muram masam, gemetar sembari merasakan bulu kuduknya tegak menjulang. Tubuhnya masih saja gemetar, jaket tebal tua yang ia pakai dieratkan lekat-lekat ke tubuhnya. Saat lantunan nyanyian rindu yang meradang berkumandang. Dan semoga ini adalah alasan untuk pulang.

Di tepian kamar ia berdiri, seorang pria muda mengambil selimut lalu mengepalkannya di badan pergi menuju petilasan masa lalu. Ia pergi ke dapur, melihat ke sisi dapur yang dulu mengebul asap masakan kini tak terlihat lagi berwarna, bait-bait sajak cinta yang tercurahkan di dapur kini hambar terasa.

Mengigil badan, bulu roma berdiri dan ia berpikir kapan tiba saatnya? Di hari baik ataukah hari biasa yang tak seorangpun paham keadaannya.

“Telah ku selusuri jalanku, menapak tepian suasana yang temaram”. Batin Toni bergulat berusaha tak perduli.

Ia berusa memejamkan matanya, namun apa daya hati menganga. Detik berlalu, seolah bersiul mesra meratakan akal sehat sambil duduk di tepian rasa kerinduan dan kecemasan. Rindunya ini seolah merangsek masuk menghunus setiap sudut mata memandang.

“Seharusnya aku menunggu panggilan untuk mati.” Ucapnya dalam hati.

"Sambil menunggu malaikat datang, mengapa tak kubuatkan kopi untuk dihidangkan."

 Ya, pikirnya di hari baik sembari menunggu ajal penjemputan. Mungkin, Tak ada salahnya jika ia membuat kopi untuk menunggu panggilan Sang Malaikat.

Celingak-celinguk kepalanya mencari gula, dipikirnya malaikat nanti akan marah, jika tahu ia menyuguhkan kopi itu tanpa gula.

Namun kali ini, naluri nya mendadak menyembul. “Ah, sudahlah,... kenapa tak ku gunakan saja tebu yang ada di halaman rumah, toh gula juga dari sari tebu.” Toni pun bergumam mengakhiri perdebatan di alam pikirannya.

Langsung saja ia bergegas mencari belati dan membawanya keluar rumah untuk mencabut sebatang tebu yang tumbuh tak terawat di pelataran rumah.

“Hei...Ton,terdengar suara seorang tetangga menyapanya.

 Sejak kapan engkau kembali? Seperti hantu saja tak ada hembusan kabar tiba-tiba keluar tampak rupa di khalayak. Tetangganya melanjutkan

Hahaha, masih saja seolah kau sedang membaca syair ketika menyapaku. Kawanku, apakah engkau tahu? Aku masih menyimpan secarik kertas berisi sajak fenomenal yang kau berikan kepadaku, dan celakanya kau tak pernah berubah kawan”, sahut Toni kepada tetangganya itu.

“Benarkah itu kawan...” celetuk tetangganya yang masih muda itu, tak jauh berbeda dari usianya.

Ya, benar sekali, jika kau berubah tentunya aku bukanlah temanmu,Balas Toni dengan candaan.

“Hahahaha, kau pun demikan kawan...” Timpal tetangganya tersebut dengan sumringah.
Tetangga nyapun ikut tertawa.

 Lantas apa yang membuatmu muncul kembali seraya memegang belati, seperti hendak membunuh sesuatu?” lanjut pertanyaan tetangganya itu.

 “Belakangan ini banyak sekali yang kurindukan, itulah sebabnya aku kembali..., seperti halnya bait sajak yang kau berikan kepadaku”.

Kau serius masih menyimpannya???” tanya tetangganya dengan nada meragukan.

Ya, tentu saja...” Jawab Toni.

Tak lama mereka terdiam

Lalu Toni melanjutkan “Hei kawan,maukah kau ceritakan kepadaku tentang sesuatu yang menarik semenjak kepergianku, namun sudilah dirimu kemari mampir kerumahku untuk meminum kopi.” Sebuah penawaran kepada kawannya.

Baiklah,.. tapi segerakan tugasmu untuk memotong tebu, mungkin saja kamu memang butuh pemanis untuk menghidangkan kopi buatanmu...” ujar tetangganya.

“Baiklah,...” Toni membalas.

Toni kemudian mempersilahkan masuk tetangganya tersebut, dan bergegas ia menguliti tebu dan memeras tebu-tebu yang telah ia bersihkan kulitnya, ia ambil sarinya untuk pemanis kopi buatannya.

Tak lama kemudian toni kembali menemui tetanggganya tersebut sembari menghidangkan kopi yang telah dibuatnya.

“Bagaimana keadaan mu sekarang?” tanya Toni membuka obrolan kembali.

“Kenapa tak kau biarkan aku meminum kopimu terlebih dahulu, baru engkau bertanya??” Sahut tetanggaanya sembari meminum secangkir kopi buatan Toni.

Nikmat sekali kopi buatanmu, hmmm, numero uno..., Hahahaha”. Puji
tetangganya tadi.

“Ton, mengapa kau kembali?..., Apakah karena sebuah rindu yang belum usai?”

Ya, aku rasa rindu ini masih belum terbalas, dan aku masih merasa penasaran mengapa ini selalu menghantuiku. Aku yang awalnya selalu berpikir takkan kembali, pun akhirnya menyerah tak berdaya." Jelas Toni

"Dan bagaimana keadaanmu?” Pertanyaan yang belum sempat tetangganya jawab kembali diulanginya.

Ya, beginilah keaadaan sekarang, seperti yang kau lihat, aku bagaikan selembar kertas usang yang tersisa,jawab tetangganya sembari melanjutkan meminum kopi.

Maksudmu?” Tanya Toni penasaran.

Ya, semua berubah semenjak kau menghilang, hanya aku teman masa kecilmu yang tersisa.

Toni menanggapinya dengan santai.

Kau hanya butuh teman rupanya, hahaha”

Ya, dan kau pun pasti demikan, hahaha,... Dan yang terbaik saat kau kembali adalah mengenang masa kecil kita...” Sahut tetangganya tersebut.

Ya, benar sekali kawanku, kita seperti terlupa pada masa lampau, dan terjebak pada masa yang akan datang” timpal Toni.

Baiklah, Ton, saatnya menghabiskan kopi hidanganmu. Sepertinya cukup untuk hari ini, dan tentunya kau butuh beristirahat”. Tetangganya berdiri hendak berpamit

Terimakasih kawan, telah berkenan untuk sekadar mampir ke rumahku,” timpal Toni sembari ikut keluat mengantarkan tetangganya.

Malam harinya
“Sepi sekali rasanya, kemana gerangan hingar bingar warga di sekitar sini?”Gumam Toni.

“Hanya terdengar adzan isya berkumandang , lalu serta menghilang”.

Toni bergegas pergi ke masjid yang tak jauh dari rumahnya. Entah mengapaorang-orang sekitar tampak mulai melihat sinis kepada Toni.

“Tapi kalau dilihat lagi dengan seksama, mungkin saja mereka heran kepadaku,” batin Toni seraya curiga.

Hmm.. Semoga hanya perasaanku saja.” Toni berusaha tak berprasangka buruk.

Seorang Bapak Tua menegur Toni sembari menepuk bahu nya.

“Hei anak muda, siapa gerangan engkau, berkeliaran di kampung ini? Dan hendak pergi kemanakah engkau?...” tanya Bapak Tua itu dengan serius.

Oh, maaf Pak. Aku Toni putra dari Bapak Abdullah yang baru pulang merantau,” sahut Toni sembari melanjutkan perjalanan ke masjid bersama Bapak Tua itu.

Oh, ya...dengan ekspresi terkejut seraya mengamati Toni, lambat-laun Bapak Tua itupun akhirnya mengenalinya.

Pergi merantau kemana kamu, Nak?” tanya Bapak tua kepada Toni.

Aku hanya merantau sejenak mencari ilmu, Pak, jauh di pulau seberang.

“Kedua orang tua mu adalah orang hebat, semoga saja kau demikian, Nak. Ayo lekas bergegas ke masjid sebentar lagi iqomah,ujar bapak tua mengajak Toni untuk mempercepat langkahnya.

Iqomah berkumandang, waktunya menunaikan sholat isya berjamaah.

Di masjid Toni khusyuk bermunajat kepada Yang Maha Kuasa. Bermunajat manja melepas bahagia untuk sekedar membalas kerinduan yang belum usai.

“Semoga semua terlihat sama, seperti kenangan masa silam, di tengah dahaga masa yang akan datang”. Begitulah doa Toni kepada Yang Maha Kuasa.

Malam itu tampak lebih kelam seperti akan runtuh, dan hujan seakan ikut mengiringi keruntuhan malam.

Tanpa bintang rintik hujan mulai bercucuran. Segera Toni bergegas meninggalkan Masjid menuju rumah. Ia berlari menantang angin, tanpa perduli genangan air mengotori tubuhnya.

Tetes rintik hujan kini membasahi matanya, kuyup hingga melekat di badan. Malam itu benar-benar basah, seperti kerinduan yang senantiasa mendesah.
Toni terdiam kemudian terhuyung lepas jatuh ke pelataran, seperti orang mabuk. Ia terhuyung oleh rindu yang tak terbalaskan, matanya pun terpejam, dihantam rindu dan kecemasan dari persimpangan masa silam.

Metro, 19 april 2018

Penulis : Ahmad Benny Syahputra