Cerpen: Selamat Hari Buku, Sari!

- April 23, 2018

Selamat Hari Buku, Sari!, Omah1001.net
Sari melihat jam di pergelangan tangannya, masih pukul tiga sore lebih sedikit. Ia memendarkan pandangannya ke sekeling kampus telah yang terlihat sepi. Cuaca yang mendung, membuat para mahasiswa lebih memilih bergegas pulang, khawatir hujan deras segera turun. Namun, Sari beda, tidak menuju tempat parkir, ia malah menuju perpustakaan yang terletak di sebrang ruang kuliahnya.

Gerimis kecil telah turun, Sari berlari kecil memasuki ruang perpustakaan, ia agak terburu-buru, khawatir petugas menutup perpustakaan kampus lebih cepat, karena melihat mahasiswa telah sepi. Sari harus menyelesaikan tugas resensi novel dari dosennya yang harus selesai dan dikumpulkan besok pagi.

“Sore, Bu?” Sapa Sari ke petugas perpustakaan yang masih duduk santai di depan komputer sambil bermain game.

Tanpa menghiraukan petugas yang tak menjawab sapaannya, Sari langsung menuju rak buku yang khusus menyimpan koleksi buku-buku sastra. Ternyata, ia tidak sendiri di perpustakaan itu, masih ada seorang pemuda tinggi besar dan lengannya penuh tato.

“Bukankah itu Aldi? Si Preman kampus?” Sari membatin, setengah tak percaya bercampur takut, ia memandangi laki-laki itu dan memastikan bahwa itu memang Aldi, cowok yang ditakuti di Kampusnya, sosok yang lebih dikenal sebagai preman. Langkahnya terhenti, setelah ia benar-benar yakin bahwa itu memang Aldi, ia memilih diam, mematung tak bergerak.

“Sari, kenapa bengong? Kamu pasti sedang mencari buku ini.” Sapa Aldi dengan ramah sambil menyodorkan sebuah Novel yang dicari Sari.

Setengah rikuh bercampur takut, Sari menerima buku yang disodorkan Aldi, tapi ia tak berkata apapun, bahkan untuk sekadar mengucapkan terimakasih,  Hingga Aldi berlalu dari hadapannya. Sari menggigit bibirnya dengan keras, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sari mengeluh kesakitan, ia haqqul yaqin tidak sedang bermimpi.

Namun, ia masih saja tak percaya. "Mana mungkin cowok bertato yang menghabiskan waktunya di jalanan bisa berada di perpustakaan saat para mahasiswa yang lain telah pulang, bahkan mahasiswa paling rajinpun tak mungkin bertahan di perpustakaan hingga menjelang perpustakaan tutup, kecuali ada tugas." Batinnya.

“Apakah Aldi tahu aku akan ke perpustakaan sore ini? Dan sengaja menunggu karena ia punya maksud-maksud tertentu? Lantas, kenapa ia bisa tahu buku yang ku cari? Tapi, bukankah hanya aku sendiri yang tahu, dan aku merencanakan ke perpustakaan hari ini, setelah ke luar dari ruang kuliah. Aku tak pernah memberi tahu siapapun, termasuk Rani sahabat dekatku.” Pikiran Sari menerka-nerka.

Sari tersadar dari lamunannya tentang dugaan-dugaan buruknya terhadap Aldi, setelah petugas perpustakaan menegurnya dan mengatakan perpustakaan akan segera ditutup. Ia bersegera menuju meja petugas dan mencatatkan buku pinjamannya, kemudian berlalu meninggalkan ruang perpustakaan itu. Ternyata di luar telah gelap, hujan turun sangat deras, langkahnya terhenti di teras perpustakaan, ia tak mungkin menerobos guyuran hujan.

Petugas perpustakaan telah pergi menuju mobilnya, hanya tinggal Sari sendiri mematung menunggu hujan reda. Tidak, ia tak sendiri di pojok teras perpustakaan yang luas itu, ia melihat seorang laki-laki juga sedang meneduh, sama seperti dirinya, berharap hujan tak berlama-lama mencumbu bumi, seperti seorang yang sedang melepas kesumat rindu.

Meski tak bertegur sapa karena jaraknya jauh, paling tidak keberadaan laki-laki itu membuatnya tak sendiri dan merasa sedikit aman.

Di bawah lampu teras perpustakaan itu, Sari membuka halaman-halaman novel yang baru saja dipinjamnya, membaca sambil sesekali mencatat hal-hal yang dianggapnya penting. Ia berhenti membaca dan mencatat, kumandang adzan lamat-lamat terdengar, beradu dengan suara deras hujan. Sari mulai jenuh, namun hujan tak memberi tanda-tanda akan berhenti, hari semakin gelap.

Sari hampir nekad menerobos hujan, namun ia mengurungkan niatnya, saat melihat laki-laki yang berada di ujung teras perpustakaan itu berjalan ke arahnya, setelah semakin dekat, ia kaget, ternyata laki-laki itu adalah Aldi. Wajahnya terlihat was-was.

“Aku bawa jas hujan, jika berkenan pakailah jas hujanku.” Aldi menegurnya lebih dulu, sambil mengeluarkan jas hujan dari ransel yang di bawanya.

Sari ingin menolak tapi tak kuasa. “Terimakasih,” suaranya lirih.

Sari segera memakai jas hujan itu, dan terburu menuju parkir, ia ingin segera berlalu dari hadapan Aldi, tetapi laki-laki mengikutinya ke tempat parkir, ke arah sepeda motornya. Sari menghidupkan dan menjalankan sepeda motornya dan pura-pura tak melihat kalau Aldi mengikutinya.

Dari spion sepeda motornya, ia tahu Aldi masih mengikutinya. Sari was-was dan melarikan sepeda motornya dengan kecepatan maksimal, namun ia tetap melihat Aldi masih mengikutinya, hingga akhirnya ia sampai di halaman rumahnya. Sari melihat sepeda motor Aldi memutar arah dan hilang di jalanan menembus hujan yang semakin deras.

Sari segera memasuki rumahnya, mandi dan berganti baju, kemudian sebelum beranjak ke tempat tidur, ia mengerjakan tugas terlebih dahulu, meyalin catatan yang dibuatnya di teras perpustakaan tadi, tugas resensi novel itu harus dikumpulkannya besok. "Tak perlu sempurna, yang penting selesai!" Pikirnya.

Sari masih teringat sosok Aldi, laki-laki bertubuh atletis, tinggi dan bertato, sosok pemuda tampan, tetapi sering diperbincangkan sebagai preman, kasar dan ditakuti. Meskipun, saat bertemu beberapa saat dan berkomunikasi langsung dengannya, ia justeru memiliki penilaian yang berbeda, Aldi sopan dan peduli.

Sari sebenarnya punya banyak teman laki-laki, bahkan telah beberapa kali berganti pacar. Sampai akhirnya ia berkesimpulan bahwa laki-laki sama saja, yang alim dan pendiam atau yang urakan, semua sama, selalu merasa superior, ingin diposisikan lebih tinggi dari perempuan. Semua laki-laki yang pernah menjadi pacarnya selalu ingin menguasai, seolah mereka paling berhak atas waktu, kehendak bahkan tubuhnya.

Sari kadang melawan, tetapi lebih sering terjebak pada dominasi kuasa laki-laki. Pernah suatu waktu, ia begitu berharap dengan seorang laki-laki yang sangat dicintainya, ia yakin laki-laki itulah yang akan menjadi pendamping hidupnya, hingga ia pasrahkan segalanya, ia berikan semuanya hingga kehormatan yang ia jaga dan pegang teguh selama bertahun-tahun, akhirnya ikut ia pasrahkan, dan setelah itu, laki-laki itu pergi tanpa kata dan kabar, ia pun terpuruk sendiri, hatinya hancur berserak, ia merasa telah kehilangan hartanya yang paling berharga, ia merasa harga dirinya menguap tak bersisa.

Cukup lama Sari memulihkan kepercayaan dirinya, dan berusaha kembali menjadi perempuan periang. Ketika ia merasa betul-betul terpuruk, sempat terpikir untuk mengakhiri hidup, untunglah masih banyak teman-temannya yang berusaha menguatkan dan menasehatinya, bahwa ia sangat berharga daripada laki-laki pengecut dan pecundang yang telah meninggalkannya.

Sejak itu, ia tak pernah lagi terlalu mempercayai laki-laki.

Baginya laki-laki tak ada yang istimewa, apalagi di kelas Sari adalah mahasiswi yang cerdas dan berprestasi. Untuk itulah, Sari tak lagi memosisikan perempuan sebagai subordinat laki-laki.

Meski ia akhirnya berdamai dengan masa lalunya, ia tetap menganggap laki-laki 'tak lebih' dari sekadar mitra sejajar, setiap kali pacaran ia pasti mengajukan syarat, bahwa hubungan yang mereka jalin adalah hubungan yang setara, tak boleh ada yang lebih dominan, ia juga menegaskan bahwa ia berdaulat atas tubuh dan kehendaknya sendiri, tak mau diatur. Sari tak pernah lagi memikirkan laki-laki sebagai segala-galanya, baginya laki-laki yang sok kuasa adalah laki-laki yang harus dibuang dari kehidupan karena berpotensi melanggengkan budaya patriarkhi, yang menjajah.

Sari tuntas merampungkan tugasnya, ia menengok keluar jendela, hujan masih turun walaupun tak sederas saat ia pulang tadi. Ia sudah tak sabar masuk dalam selimut tebalnya dan tertidur pulas.

***

Pagi yang cerah di kampus, Sari menikmati harum tanah yang semalan suntuk dicumbu hujan. Pepohonan yang tumbuh rindang dan bunga-bunga yang tertata rapi di sepanjang jalan menuju pelataran parkir terlihat lebih segar. Sari menyebarkan pandangannya ke seluruh area parkir, berharap melihat sosok Aldi, ia harus mengembalikan jas hujan yang dipinjamkan Aldi kemarin. Nihil.

Hingga jam perkuliahan dimulai Sari tidak menemukan sosok Aldi. Ia bingung harus mencari informasi kepada siapa, jika ia tanyakan kepada kawan-kawannya, pasti ia akan ditertawakan karena tak pernah sepenting itu menanyakan perihal laki-laki dan belum tentu kawan-kawannya juga tahu.

Sari akhirnya membiarkan jas hujan Aldi menjadi penghuni jok sepeda motornya, ia berpikir, suatu saat Aldi pasti mencarinya untuk mengambil jas hujan itu. Sari berlari kecil ke ruang kuliah dan berkumpul bersama kawan-kawannya, sejenak ia bisa melupakan Aldi dan jas hujannya.

***

Sore itu, setelah beberapa hari.

Seusai kuliah Sari membuka jok sepeda motornya, untuk menyimpan buku-buku diktat yang berat.

Begitu jok motor itu terbuka, matanya langsung tertuju pada sebuah jas hujan hitam yang masih tersimpan rapi di sana. Selama ini, ia jarang sekali menyadari dan memperhatikan jok sepeda motornya itu, ia terlalu cuek dan tak peduli bahwa selama ini ia masih memiliki tanggungan untuk mengembalikan jas hujan itu kepada pemiliknya.

Aldi, si pemilik jas hujan itu telah dua minggu tak tampak di kampus. Sejak terakhir pertemuannya di teras perpustakaan.

Sari melihat jam di pergelangan tangannya, jarum jam masih menunjukkan pukul tiga kurang. Ia mengurungkan niatnya untuk langsung pulang.

“Masih ada waktu sekitar satu jam lagi untuk menghabiskan waktu di perpustakaan,” pikirnya.

Selasa sore yang cerah, tak ada mendung sedikitpun, hanya sedikit awan putih yang berarak pelan ke arah barat. Sari segera memasuki ruang perpustakaan dan menuju rak buku-buku sastra, di sana ia masih melihat buku yang dua minggu lalu dipinjamnya, buku yang ia terima dari tangan Aldi.


Sari meraih buku itu, dan membukanya pelan. Selama ini ia tak pernah seserius dan setertarik itu terhadap buku novel yang menurutnya usang itu, tapi entah kenapa, tiba-tiba ia merasa di setiap halamannya ada misteri yang harus dipecahkan tentang Aldi. Meskipun ia pernah membacanya sambil lalu, kini dengan penuh hikmat ia membaca lembar per lembar novel itu.

Sari kembali melirik jam tangannya, ia berpikir tak mungkin menyelesaikan membaca novel itu di situ, hanya tersisa beberapa menit lagi. Ia pun merasa tak ada alasan yang menarik dari novel itu, sehingga harus meminjam dan membawanya pulang kembali. Ia membalik halaman-halaman novel itu hingga di lembar terakhir, dan di halaman terakhir ia menemukan secarik kertas yang tertempel rapi dengan warna putih berbeda dari warna lembaran novel itu, halaman yang ia abaikan tatkala ada tugas meresensi.

Ada tulisan tangan yang tersusun rapi di sana, terburu-buru Sari membacanya.

Sari yang baik,

Jangan kaget, jika tiba-tiba aku mengetahui kamu akan meminjam novel ini. Tadi, sebelum ke perpustakaan, aku telah membulatkan niat untuk menemuimu, karena aku tahu hanya kamu yang bisa memecahkan masalah ini, sehingga saat aku sampai di depan kelasmu, aku mendengar dosen memberimu tugas untuk meresensi buku ini, aku akhirnya berinisiatif mendahuluimu ke perpustakaan.

Aku sebenarnya ingin menyampaikannya langsung, namun jika aku tak mampu, surat ini juga telah kusiapkan sebagai pengganti lisanku. Tak perlu menertawakan hal yang lucu ini, karena aku memang tidak memiliki nyali untuk bicara langsung kepadamu, entah kenapa? Aku tak mengerti juga alasannya. Tapi itu tak penting.

Sari…

Aku tak bisa menebak, apakah kita sepaham atau tidak, tapi aku masih memiliki keyakinan bahwa engkau adalah salah satu dari yang punya kepedulian, dan menurutku itu penting. Kita tak mungkin menghilangkan dan menghapus sama sekali kemiskinan di kota kita, tetapi yang penting kita lakukan adalah membangun kepedulian orang-orang kaya terhadap orang miskin, dan aku ingin kita, aku dan kamu memulainya, terutama kamu yang memiliki kelebihan materi.

Sari …

Di tengah kota ini, ada sebuah bangunan tua tempat berkumpulnya orang-orang miskin kota, di sana ada anak-anak yang menjadi gembel, ibu-ibu tua yang menjadi pengemis, bapak-bapak yang sering terlihat mengais-ngais sampah, dan di atas semua itu, hal yang paling penting adalah, ada sepasang suami istri, yang sakit parah, mereka telah berkeliling rumah sakit di kota ini, tapi semua rumah sakit menolaknya karena mereka tak bisa membayar.

Sari…

Aku berharap, engkau mau peduli untuk membantu mereka.

Oh ya, Sari. Di kota ini ada banyak anak-anak muda yang memiliki keterbatasan materi, tetapi mereka memiliki bergudang-gudang semangat yang tak pernah habis, bahkan hingga jatah usia mereka habus sekalipun, barangkali. Mereka menghidupkan lapak-lapak baca, mereka memiliki harapan, generasi muda kita mau membaca, mereka yakin membaca dan mencintai buku bisa merubah kehidupan. Dan, kamu adalah satu dari sekian yang sedikit perempuan yang mencintai buku. Tak tertarikkah engkau bergabung?

Selamat hari buku, Sari!

Dari,
Aldi

Sari berdiri terpaku. Ia menyandarkan bahunya ke rak-rak buku di perpustakaan itu. Selama ini kawan-kawannya dan ia telah salah menilai Aldi. Ia menjadi sadar, bahwa selama ini ia telah jauh tertinggal, kesadaran sosialnya seolah jalan di tempat, dan Aldi telah jauh berlari di depannya, melakukan hal-hal yang bermanfaat buat sesama.


------
Cerpen ini adalah cerpen lama, dirubah dan ditulis kembali untuk mengingat Hari Buku, 23 April 2018. Tokoh Sari, terinspirasi dari tulisan berseri Endri Kalianda di endritorial.com