Wajah Kota dan Optimisme Perubahan (Bagian 2/2)

- March 27, 2018
Wajah Kota Metro, Omah1001

Tak dapat dicegah, Kota Metro terus berkembang dan semakin padat. Lahan perkotaan semakin sempit dan tidak proporsional dengan laju pertumbuhan penduduk dan urbanisasi.

Kota Metro dikhawatirkan menjadi tersegmentasi baik secara fisik maupun sosial. Padahal, proses segmentasi masyarakat perkotaan inilah yang disinyalir para ahli sosial sebagai ancaman terjadinya berbagai konflik di masyarakat. Makin terpecah-pecahnya ruang fisik dan ruang sosial mengakibatkan hilangnya trust (kepercayaan), network (jaringan) atau hubungan sosial, dan local wisdom (kearifan lokal) yang ada di masyarakat.

Namun, hadirnya beragam ruang publik di Kota Metro seperti taman, lapangan hingga cafe dan warung tempat nongkrong bisa mencegah warga kota dari segmentasi yang mengarah pada sikap individualistik, bergerak ke arah saling tidak mengenal yang pada akhirnya akan kehilangan identitasnya sebagai makhluk sosial, yang seharusnya saling membutuhkan.

Langkah pemerintah melakukan penataan terhadap ruang publik, melengkapinya dengan tempat duduk dan medium berinteraksi secara nyaman adalah langkah yang harus diapresiasi dan terus menerus didukung sebagai upaya memaksimalkan fungsi rung publik, untuk mengembalikan semangat kesetiakawanan atau solidaritas sosial.

Ruang publik harus menjadi ruang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum sepanjang waktu, tanpa dipungut bayaran (Danisworo, 2004). Baskoro Tedjo (2005) mendefinisikan ruang publik sebagai ruang yang netral dan terbuka untuk siapa saja, untuk berkegiatan dan berinteraksi sosial. Ruang publik dapat berbentuk jalan (street) yang bersifat linier, dan berbentuk lapangan (square) yang berbentuk simpul.

Dalam konteks yang lebih luas, ruang publik sebagai sub-sistem dari kota, memiliki peran sangat penting dalam mengontrol, mengendalikan dan menegaskan orientasi perkembangan ruang kota secara morfologis maupun sosiologis. Namun, kondisi keterbatasan ruang pada lingkungan permukiman warga kota, seperti taman yang pola perkembangannya lebih bersifat unplanned, harus berubah pola pengembangannya dengan melibatkan partisipasi warga untuk berkegiatan.

Partisipasi warga menjadi sangat penting untuk menjamin keberlangsungan fungsi-fungsi ruang publik tersebut sebagai sarana belajar dan berkreatifitas warga kota. Komunitas kreatif warga kota sebagaimana Arnold J. Toynbee (1961) meyakini, lahirnya sebuah peradaban diinisiasi oleh komunitas kecil yang ia sebut sebagai minoritas kreatif (creative minority). Kelompok ini bekerja secara terus-menerus membesarkan peradaban hingga tumbuh menjadi peradaban gemilang.

Selanjutnya, bila kelompok ini kehilangan daya kreatifnya, maka peradaban yang gemilang tadi akan redup, lantas mengalami kehancuran. Syaratnya, apabila minoritas (elit) kreatif itu bekerja keras menjaga (merawat) nilai-nilai abadi: kebenaran, keadilan, dan akal sehat (rasio).

Kelompok kecil kreatif  yang dikenalkan oleh Arnold Toynbe tersebut dalam konteks lokal kota adalah sebuah komunitas kecil yang selalu berikhtiar dan berpikir terus menerus untuk melahirkan ide-ide kreatif untuk membangun dan meningkatkan kapasitas individu dan sosialnya, sehingga mereka menjelma menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan karena gagasannya, dan mereka berkumpul dalam ruang publik yang menjadi rumah bersamanya.

Optimisme terhadap masa depan kota ini, ditunjang dengan kemunculan banyak dan beragam komunitas, mereka berkumpul di ruang-ruang publik, melahirkan gagasan baru dan ide kreatif. Ruang publik bagi mereka bahkan bukan hanya diorientasikan sebagai tempat bersemainya gagasan dan kerja-kerja kreatif yang berorientasi memproduksi ilmu pengetahuan.

Ruang publik seperti cafe atau warung tempat nongkrong telah dikembangkan dalam rangka mendukung usaha ekonomi kreatif dengan cita rasa lokal (local economic development), membangun dan menyelenggarakan kegiatan ekonomi mulai dari tempat, etalase, produksi sampai menjualnya semua dilaksanakan secara gotong royong.

Ruang Publik dan Masa Depan Kota

Ruang publik sebagai rumah bersama warga kota, adalah ruang publik yang menjadi tempat berinteraksi dan akhirnya melahirkan nalar publik. Warga kota akan menjadi para pekerja produktif dan pekerja kreatif, dan akhirnya merekalah yang akan merencanakan masa depan kota dan menciptakan pekerjaan, gagasan-gagasan baru, serta konten kreatif.

Ruang publik sebagai rumah bersama adalah upaya untuk mendorong bahwa kota dan warganya saling berinteraksi dengan dinamis. Di satu sisi kota menjadi muara bagi imajinasi dan dunia kreatif, sedangkan di sisi lain, kota mempunyai kekuatan untuk mendorong, menggerakkan, memusatkan dan menyalurkan energi kreatif itu. Dalam proses interaksi itu kota mampu mengubah energi kreatif menjadi inovasi-inovasi yang melingkupi ranah teknis maupun ranah artistik kultural. Oleh sebab itu kota menjadi sumber yang tak henti-hentinya menciptakan lapangan kerja, melahirkan bentuk-bentuk industri dan perdagangan baru di tengah-tengah masyarakatnya.

Ruang publik seperti taman kota, lapangan dan beberapa tempat terbuka lainnya menjadi rumah bersama para pekerja kreatif yang terdiri dari para ilmuan, tenaga ahli yang mengabdi di pusat-pusat pendidikan dan penelitian, arsitek, dan mereka yang bergerak di bidang kebudayaan seperti penyair, pemusik, desainer, perancang atau pekerja dalam dunia hiburan. Selain itu para pekerja profesi berbasis pengetahuan, seperti kesehatan, keuangan, hukum, juga termasuk dalam kelompok ini, yaitu kelompok yang disebut ahli sosio-ekonomi Richard Florida kelas kreatif (creative class) yang menjadi penggerak ekonomi kota di masa depan.

Semua itu hanya dimungkinkan karena kemampuan kreatif manusia. Kemampuan ini adalah sumber daya paling nyata bagi trend ekonomi berbasis penciptaan nilai, sekarang dan masa depan. Ia merupakan konstruksi kemampuan intelektual yang melingkupi segala bentuk potensi yang terdapat di dalam diri manusia yang kemudian diekspresikan dalam bentuk produk-produk budaya. Oleh karena itu kota, yang didefinisikan sebagai tempat pemukiman manusia dengan jumlah besar, adalah tempat berkumpul dan berinteraksinya sumber daya kreatif yang hampir tidak terbatas itu.

Kota Metro, dalam rangka merealisasikan visi sebagai kota pendidikan dan wisata keluarga membutuhkan ikhtiar dan dana ratusan milyar bahkan triliunan rupiah untuk membangun infrastruktur dan perangkat-perangkat lainnya. Infrastruktur pendidikan merupakan ukuran pertama untuk melihat apakah pendidikan di Kota Metro berkembang atau tidak, walaupun kita sepenuhnya tidak sepakat jika pendidikan melulu diukur dengan bangunan fisiknya.

Pendaapatan Asli Daerah (PAD) Kota Metro yang minim, harus mendorong lahirnya jalan lain sebagai alternatif, inovasi dan kreatifitas warga adalah jalan baru yang harus dimaksimalkan. Penyedian ruang publik harus linier dengan partisipasi warga untuk memanfaatkannya sebagai salah satu upaya akselerasi pencapaian visi kota tersebut, lahirnya komunitas warga yang pembelajar dan melahirkan gagasan kreatif, adalah ikhtiar yang paling mungkin dan efisien untuk bergerak bersama membangun kota. Sehingga visi Kota Metro menjadi kota pendidikan dan wisata keluarga segera terwujud.

Jika semua ini terwujud, maka secara otomatis tidak akan ada lagi kegaduhan-kegaduhan di ruang publik karena isu ketidakadilan dan diskriminasi, adanya jarak antara yang empunya dengan yang papa, antara kelas elit dan alit, walikota dan warga, pejabat dan rakyat. Ruang publik sebagai rumah bersama yang melahirkan nalar publik dan kreatifitas akan menjembatani kesenjangan sehingga akhirnya semua birsinergi

Advertisement