Wajah Kota dan Optimisme Perubahan (Bagian I)

- March 26, 2018

Wajah Kota dan Optimisme Perubahan, Omah1001


Membincang Kota Metro menarik bukan hanya karena kita bermukim dan menjadi penghuni kota yang sejuk dan bersahabat ini, namun karena Kota Metro memang memiliki kekhasan dan keistimewaan tersendiri, posisinya yang tepat berada di tengah-tengah Provinsi Lampung dan penghuninya yang sangat heterogen dan nir-konflik, menjadi salah satu alasan kota ini layak mendapat apresiasi.

Sisi lain yang layak diungkap tentang Kota Metro adalah keramahan warganya yang jauh dari kesan individualistik warga kota pada umumnya, Kota Metro yang sebenarnya masih relatif berusia sangat muda, sejak memisahkan diri dari Lampung Tengah sebagai kabupaten induknya, tengah bergeliat membangun dan menegaskan diri sebagai Kota Pendidikan, dan para era kekuasaan Paijo (2015-2020) menjadi Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga, barangkali maksudnya hendak memadu-padankan antara wisata dan pendidikan, sehingga tercipta wisata yang bernuansa pendidikan.

Pemerintah baik yang dulu maupun yang sekarang, terus bergerak membangun dan menata kota dalam rangka pencapaian visi tersebut, anggaran pendidikan dialokasikan melampui angka tigapuluh persen dari yang diwajibkan UU, program-program yang mendukung pun digulirkan, bahkan support dalam bentuk pemberian seragam dan sepatu gratis untuk murid SD dan SMP juga terus dilakukan, meski di tengah jalan sempat muncul desas-desai bahwa pembuatan seragam sekolah ini bernuansa KKN, karena dikelola oleh kerabat walikota, tetapi paling tidak sudah membuat senang anak-anak sekolah dan orang tuanya.

Selain itu, dalam rangka menarik perhatian khalayak, ruang-ruang publik di tata dan dirias, jembatan dipercantik, taman disediakan bangku-bangku taman, perpustakaan daerah  juga sudah mulai rutin hadir setiap acara Car Free Day, pejabat daerah juga mulai rajin berinteraksi warga kota.

Seolah tak hendak berpangku tangan, masyarakat juga bergeliat ambil bagian, beberapa komunitas rintisan masyarakat juga tumbuh subur di kota ini, mulai dari komunitas teater, musik, drama, tari, seniman perupa hingga komunitas pegiat literasi.

Cafe dan warung tempat nongkrong tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Warung dan cafe tersebut menjadi medium berkumpul dan berinteraksi, merencankan berbagai aktivitas positif anak-anak muda.

Sekarang, berakhir pekan di Kota Metro tak perlu khawatir sepi lagi, pagelaran musik digelar hampir setiap minggu.

Meski beberapa pekan yang lalu, Kota Metro sempat mendapatkan deposit air berlebih, tetapu sesungguhnya Kota Metro tidak memiliki masalah mendasar, baik terkait semrawutnya penataan wajah kota dibandingkan dengan kota-kota lain. Hilir-mudik kendaraan masih relatif lancar, banjir masih bisa dilokalisir, kebakaran karena padatnya pemukiman juga masih teratasi. Hal tersebut sangat wajar, mengingat luas Kota Metro yang hanya berkisar 6 8,74 km dengan hanya 5 kecamatan dan 22 kelurahan.

Kota Metro juga tidak terlalu melenceng dari penataan wajah kota yang ideal dan berkelanjutan sebagaimana kreteria yang ditetapkan Urban Regional Development Institute (URDI), yang setidaknya menggambarkan; visi, misi dan strategi jangka panjang yang partisipatif; integrasi pertumbuhan ekonomi dengan upaya perwujudan sosial dan kelestarian lingkungan, memberikan rasa aman bagi warganya, dan terciptanya ruang yang bisa melahirkan masyarakat belajar yang dicirikan dengan perbaikan terus menerus.

Gambaran tersebut, telah berjalan cukup baik di Kota Metro, minimal tampak dari apa yang bisa dilihat secara fisik, walaupun belum bisa menegaskan pembangunan masa depan kota, karena masih sebatas membangun keramaian, pusat-pusat belanja dan kepadatan serta hilir-mudik manusia. Barangkali perlahan, pemerintah juga sedang berusaha membangun kota yang berarti juga membangun manusia, mentalitas dan kepribadiannya, sehingga kota tidak diisi oleh orang-orang yang justeru teralienasi dari lingkungannya.

Para pemegang kebijakan di Kota Metro pastilah menyadari bahwa kota tidak boleh memiliki jarak dengan kemanusiaan, sehingga menata wajah kota, lebih-lebih sebagai kota yang bervisi pendidikan dan wisata keluarga, kota yang menjadi tempat tinggal manusia terdidik, sebagai tempat tinggal bersama, kota yang memiliki ruang publik sebagai tempat berinteraksi dan membangun rasa solidaritas sosial antar warga, niscaya untuk memberikan kesan lebih cerdas, terpelajar dan layak diteladani.

Bergeliatnya beragam komunitas di Kota Metro, memungkinkan cita-cita untuk membawa Kota Metro lebih baik, terlebih visi dan misi Pemerintah Kota Metro yang cemerlang, para pejabatnya yang giat turun ke bawah, mendengar apresiasi warga dan cepat respon atas pengaduan dan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Soal anggaran untuk mendandani Kota Metro, tentu saja bukanlah hal yang sulit. Setelah selesai mengerjakan proyek infrastuktut di paruh periode pertama, tentu dua tahun terakhir ini pemerintah Kota Metro akan lebih konsentrasi pada pembangunan SDM, menyediakan buku dan referensi bacaan yang jauh lebih memadai, mengupgrade petugas perpustakaan, sehingga benar-benar layaknya perpustakaan, suka dan mencintai pustaka, mengupgrade kapasitas tenaga pendidik, dan tentu saja juga meningkatkan kualitas diri dan personil aparatur daerah.

Semoga. "Yakin Usaha Sampai," pekik Walikota dalam sebuah forum, 24 Januari yang lalu.

Bersambung

Advertisement