Sepertiga dari Aroma Karsa

- March 17, 2018

Sepertiga dari Aroma Karsa, Dee, Omah1001

Tanpa mewangian, tanpa kosmetik apakah manusia bisa lebih harum dari bau tempat pembuangan akhir, lebih wangi dari genangan hitam pekat yang telah bertahun-tahun tak  mengalir,  tempat segala kotoran dicampakkan?

Pertanyaan itu muncul tiba-tiba, setelah aku berusaha berhenti dari laju membaca Aroma Karsa, novel karya Dee Lestrai terbaru.

Aroma Karsa adalah karya fiksi yang ditulis berbasis riset dan data yang kuat, tak kurang dari 2 tahun waktu dihabiskan Dee, berpetualang dari tempat yang menebar aroma paling wangi hingga ke tempat di mana seluruh bau busuk berserikat, berkumpul menjadi satu, tempat pembuangan akhir sampah, mendatangi sirkuit balap motor hingga menaiki puncak Gunung Lawu.

Novel setebal 696 halaman ini, meski baru saya baca sepertiganya, masih berhenti di halaman 240-an, sudah mengirimkan pesan sedemikian kuat ini, dan itu bukan hanya soal aroma, bukan hanya soal wangi parfum, tetapi soal kompleksitas hidup, dari keragaman, toleransi. perlawanan hingga rasa syukur.

Jati Wesi, tokoh utama di sepertiga Aroma Karsa, peracik parfum imitasi di Attarwalla milik Khalil Batarfi yang dianggap Jati sebagai ayahnya sendiri, sehari-hari hidup di TPA Bantar Gebang, diasuh penadah licik bernama Nurdin Suroso yang mengeksploitasi anak kecil untuk menangguh keuntungan, dan memiliki penciuman sangat tajam hingga dijuluki si Hidung Tikus.

Tanaya Suma, perempuan belia berusia 26 tahun, seumur dengan Jati Wesi, juga memiliki penciuman tajam, namun memiliki tingkat kesulitan hebat untuk beradaptasi, tak jarang mual dan muntah jika mencium bau baru yang tidak akrab dengan indera penciumannya.

Raras Prayagung, perempuan 58 tahun, sangat ambisius dan memiliki obsesi tinggi, hadir seolah menjadi jembatan antara Jati dan Suma.

Sebagai pembaca yang selalu berusaha menelisik sisi-sisi 'manusia' dalam setiap karya (buku), saya menemukan pesan kemanusiaan itu sangat kuat dalam Aroma Karsa karya Dee ini.

Pesan itu sudah sedemikian terasa di lembar-lembar awal, "Aku ini pencuri, Raras. Bukan pencuri sembarang. Aku pencuri yang benar-benar berarti." (h. 4). Demikian pesan Eyang Putri, kepada Raras. Pernyataan ini menjadi semakin kuat pesannya, begitu terbukti barang-barang yang Eyang Putri curi dari Keraton itu berdampak pada kehidupan banyak orang, bukan hanya keluarga tujuh turunannya, melainkan juga berdampak kepada banyak orang, angkatan kerja dan masyarakat sekitar perusahaan Kemara, mencuri yang benar-benar berarti.

Selain itu, pesan yang kuat datang dari kehidupan Jati Wesi di TPA Bantar Gebang. Jati yang memiliki penciuman tajam, terbayang akan memiliki kehidupan sehari-hari yang sangat menyiksa. Hidup di tengah-tengah bau busuk yang menyengat, yang berasal dari makanan yang membusuk, bangkai, dan kotoran manusia, dan seluruh bau busuk itu berkumpul menjadi satu, melahirkan bau busuk bertingkat-tingkat yang bukan hanya bisa merusak selera makan, tetapi juga bisa menguras isi perut.

Dan, Jati Wesi sangat toleran dengan seluruh bau busuk itu, Jati mampu menempatkan seluruh kebusukan TPA Bantar Gebang secara patut dan semestinya. Dan, hebatnya seluruh bau busuk itu direkam dan ditulis sebagai bagian dari riset dia untuk bereksprimen, melahirkan aroma-aroma baru parfum racikannya.

Bukan hanya terhadap beragam bau busuk, bahkan terhadap perilaku busuk Nurdin yang mempekerjakannya dan puluhan anak-anak kecil,  Jati Wesi pun sangat toleran, meski dalam satu kesempatan Ia juga menunjukkan perlawanan, terutama ketika Nurdin melarangnya sekolah.

Jati Wesi hidup di antara tumpukan-tumpukan sampah, tetapi ia tetap peduli kebersihan, ia menciptakan wewangian, kamarnya pun bersih.

Di bagian lain novel ini, kita berkenalan dengan Tanaya Suma, seorang perempuan belia seumuran Jati Wesi, memiliki penciuman tajam setajam Jati, tetapi menjadikannya sangat tersiksa. Penciuman yang tak jarang membuatnya mual dan muntah, bukan hanya karena mencium bau busuk, melainkan juga bau wangi yang sangat bersahabat dengan hidungnya. Suma adalah orang yang memiliki penciuman intoleran.

Selain itu, Suma juga ambisius dan obsesif, kehadiran Jati di rumahnya dianggap sebagai gangguan, kompetitor.

Raras Prayagung adalah jembatan dari dua karakter toleran dan intoleran tersebut.

Tokoh-tokoh seperti Anung, Sarip, Khalil, Nurdin, Arya, Ida, Indah, Arnaud dan tokoh-tokoh lain di novel ini tak kalah pentingnya, mereka seolah-olah menjadi wakil dari seluruh sosok watak yang hadir dalam kehidupan ini, tinggal kita saja memberikan makna pada setiap tokoh-tokoh tersebut.

Hal yang terpenting yang pantas saya syukuri secara pribadi, saya tak memiliki penciuman hidung setajam Jati dan Suma, juga masih bisa menyembuyikan bau busuk karena masih bisa mandi, membersihkan rambut, gosok gigi dan Tuhan berkenan menyembunyikan kebusukan-kebusukan lainnya.

Demikian untuk sementara, saya akan mengarungi kurang dari 450 halaman novel ini, kemudian membagi perspektif saya secara utuh setelah membacanya. Namun, jika boleh menyarankan, ada baiknya anda membaca sendiri.