Sepenggal Senja Dari Balik Jendela

- March 20, 2018
Sepenggal Senja Dari Balik Jendela, Omah1001.net
Sore adalah hal yang paling kunanti, bukan karena keindahan senja yang memukau, atau kuning kemilau cahaya yang menerobos daun-daun. Sore adalah titik kumpul segala macam perasaan, ada kesedihan bagi mereka yang terpisah dengan kekasihnya atau mereka yang ditinggal, ada pula kebahagiaan bagi mereka yang sedang bersama menikmati senja, menjemput malam berdua.

Namun, aku bukanlah keduanya. Aku justeru menjadi penikmat kisah kesedihan jua kebahagian. Mengintip dari balik jendela, menafsir sebaris cahaya dan rintik hujan. Mengagumi bayang-bayang, memuja sederet kata dan mengikat maknanya.

Aku memeluk setiap bayang-bayang kenangan yang mengisi setiap inci ingatan, tentang kilau emas matahari di ufuk timur hingga jingga kejora di ufuk barat, tentang lembut buih menepi di bibir pantai atau dentuman ombak menghantam karang. Membentuk aksara-aksara indah yang terus kurangkai membentuk bunga, menebar wangi melebihi aroma kangga dalam imajinasi Dee di novel Aroma Karsa.

Setiap tembok bagiku adalah jendela. Pandanganku selalu lepas, menembus setiap dinding, mengamati pelupuk matamu yang mulai mengembun. Kau selalu setia di balik jendela itu, memuja kenangan indah, menggaruk luka yang semestinya kau kubur hingga liang bumi terdalam.

Daun waru yang tumbuh di depan rumahmu mulai menguning, melambai-lambai seakan tak mampu lagi bertahan melawan terpaan angin sore.

Dulu, pemandangan seperti ini syahdu. Senja, rinai hujan dan angin yang bertiup lembut adalah isyarat untukmu segera menggeser tubuh, bergelayut manja dan memintaku segera menyentuh bibirmu yang rekah. Sekarang, pastilah membuatmu ngilu, seperti menggarami luka yang masih basah.

Dari balik jendela, aku tersenyum membayangkanmu meringis teriris. Dalam hati kecilku, "itu salahmu maka nikmatilah!"

***

"Aku siap dengan segala resiko, menerima apapun adanya dirimu!" Aku menyimpan kata itu seolah baru dan hanya kau yang mengucapkannya untukku.

Padahal telah beratus kali lebih aku mendengar ungkapan serupa, di jalanan, di radio, di tivi, sinetron-sinetron dan status-status alay abege.

Kata-katamu segalanya indah dan wangi, seindah pandanganmu yang merajuk mengharap ciumku, sewangi aroma tubuhmu yang memancurkan aroma sirih bercambur selasih dan kesturi, lembut merasuki tubuhku.

Pernah suatu ketika kuragu, bukan soal sayang yang selalu berhasil kau yakinkan, tapi soal jurang sosial yang menganga. Soal kepatutan dan moralitas. Tak satupun pandangan yang membuatnya patut, dan tak sepenggal dalilpun yang bisa menjadikannya etis.

Ini terlarang dan tak pantas. Serupa Rahwana mengharap Sinta.

"Namun, aku tak ingin seperti Rahwana yang merutuk, 'Tuhan, jika cintaku pada Sinta terlarang, mengapa Kau bangun megah perasaann ini dalam sukmaku! Tidak, aku tak akan pernah melakukan itu!"

"Tak perlu! Aku yang akan menjelaskannya. Aku yang akan memantaskannya." Lagi-lagi aku percaya, seakan-akan aku baru mendengar kata-kata itu, diucapkan pertama kali oleh satu-satunya perempuan  untuk satu orang laki-laki.

Aku tak pernah percaya ada gombal tatkala menatapmu, aku tak mengerti pengkhianatan kala memelukmu. Kala bersama, semuanya adalah kebaikan dan baik-baik saja.

Di deras hujan yang mengguyur tubuh kita, di pematang sawah yang becek berlumpur, selalu ada kehangatan, sama sekali tak mirip cerita Surti dan Tejo, meskipun sebagian adegannya serupa.

***

"Manalah mungkin, tak satupun alasan yang bisa menjelaskan anakku bisa mencintaimu, tak secuilpun kepantasan yang membuatnya bisa sayang, meski kau menggunakan aji pengasihan tingkat tinggi. Anakku tak pernah lepas berdzikir, dia adalah anak yaang alim dan taat beragama," sergah Ibumu begitu kuturuti kemauanmu untuk memulai pembicaraan.

Menurutmu, jika kuberani memulai, maka berikutnya kamulah yang akan mengambil alih pembicaraan, dengan sebaris catatan aksi teror yang siap kau tebar, termasuk minggat jika Ibumu tak merestui.

Aku percaya! Sekali lagi. Seolah kata-katamu adalah firman suci yang hanya diwahyukan untukku.

Aku menunggu reaksimu. Hening, aku tak berani menegakkan kepala. Aku melirikmu tertunduk.

"Iya kan, Nduk?" Ibumu memegang bahumu yang seolah kehilangan tulang. Aku melafadzkan do'a, serupa do'a Musa ketika menghadap Fir'aun, engkau diberikan kefasihan dan ibumu diberikan kelapangan dada untuk menerima sikap dan keputusanmu.

Aku tak ingin, suasana sore ini menjadi petaka, menjadi suasana terburuk dalam hidupku dan hidupmu. Sedikitpun aku tak mengharapkan gelegar murka Ibumu, karena menurutku itu lebih menakutkan dari cahaya dan dentuman halilintar yang menyambar dan membuat gosong pohon besar tempat biasa kita meneduh.

"In-injih, Bu'e!" pelan dan halus. Namun, jawabanmu meluncur deras, menyasar nadi dan pembuluhku.

Aku berusaha bangkit walau seperti telah kehilangan tulang. Aku harus bisa pergi dari hadapanmu, dari kemegahan janji-janjimu.

Alam menjadi gelap, hujan turun menggenangi jalan, mengalir memasuki rumah, menenggalamkan sebagian perabot.

***

Pagi buta. Jalanan belum sepenuhnya terang. Aku melihat beberapa orang sibuk memanjat pohon, memasang poster yang memuat foto dan tulisan, Pilih Bejo, Rakyat Sejahtera! Di ujung jalan, terpampang banner besar, Bedul Setia Bersama Rakyat! aku membaca berpuluh banner, berpuluh janji.

Tiba-tiba teringat kamu. Mual, seperti mencium bau bangkai kucing yang perutnya telah merongga dipenuhi belatung dan lalat, terjebak di dalam got.

Janjimu seperti janji politisi. Busuk!!