Semakin Menipisnya Toleransi

- March 03, 2018

Semakin Menipisnya Toleransi

Selepas jum'atan saya mendapati beberapa WA Group ramai mendebatkan soal halal-haram, sesat-tidak sesat, mendebat soal foto, musik hingga arisan. Beberapa dalil diajukan, tentu dengan pemahaman literalis, tekstual dan hanya bersiteguh pada huruf-huruf dengan sangat kaku dan tak mau seidkitpun bergeser pada konteks. Dampaknya, ada banyak manusia yang dihukumi pendosa, sesat bahkan kafir.

Saya merenung dan membayangkan wajah agama yang ramah, praktik-praktik nubuat di masa lalu yang welas asih, santun dan penyayang, gemar menjaga silaturahim, tiba-tiba kini menjadi suram dan buram. Membolak-balik beberapa kitab yang menjadi pegangan santri tingkat pertama, Minhajul Muslim, Bulughul Maram dan Riyadhus Shalihin terutama bab-bab adab dan akhlak, dan  tak mendapati satupun lembar yang menganjurkan permusuhan, sebaliknya ada banyak perintah untuk terus menjaga hubungan kasih (silaturahim), menata adab  bukan hanya kepada sesama manusia, kepada makhluk lain pun diperintahkan.

Saya teringat penjelasan salah seorang guru yang mengajar Bulughul Maram kala itu, bahwa adhdharar yuzalu, bahaya atau hal-hal yang mengakibatkan dharar itu harus dihindari. Hal yang jelas-jelas baik, tetapi beresiko menimbulkan bahaya atau kemudharatan harus dihindari, apalagi hal-hal masih dalam perdebatan (khilafiyah) dan sudah pasti bisa menimbulkan permusuhan!

Begitulah, eksemplar sejarah kebebasan di tengah keragaman merupakan perjalanan panjang yang tidak pernah sepi dari pemaksaan untuk ikut dan tunduk pada pilihan-pilihan mayoritas, perbedaan adalah ancaman. Ada banyak faktor yang ikut menjadi penyebab lahirnya tradisi nir-tolerasi ini.

Pertama, adanya klaim kebenaran secara berlebihan oleh satu kelompok. Dalam kondisi yang demikian, kebenaran tidak lagi menjadi milik semua namun hanya milik dan privilese sebuah kelompok dan golongan saja. Kelompok dan golongan ini selalu beranggapan bahwa merekalah repsentasi dari seluruh kebenaran. Ketiadaan dialog demi pertukaran perspektif dan pencarian titik temu (common denominator) ini pada akhirnya hanya menghasilkan eksklusifme dan fanatisme, yang memicu friksi dan disharmoni di masyarakat.

Kedua, adanya monopoli tafsir kebenaran, dalam arti bahwa klaim kebenaran yang berlebihan pada etape selanjutnya melahirkan sakralisasi terhadap tafsir kebenaran. Sakralisasi terhadap tafsir kebenaran tertentu sering diregulasi dan ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu pula. Penjagaan terhadap dominasi kekuasan dan rezim, cenderung berjalan beriringan dengan monopoli tafsir kebenaran. Interpretasi yang berbeda lantas diberangus oleh rezim politik dengan alasan meresahkan masyarakat. Dalam hal ini, Arab selalu menjadi kiblat kebenaran!

Ketiga, status quo, adanya imajinasi dan utopia berlebihan akan lahirnya kerajaan kebenaran yang tunggal dan kekhawatiran atas ancaman kemapanan. Hal ini adalah bentuk lain dari sakralisasi rezim kebenaran yang berkuasa dan memonopoli tafsir, sehingga atas nama kebenaran melakukan kekerasan dan praktik-praktik intimidasi serta pembatasan terhadap kelompok yang berbeda, baik berupa pengenaan stigma sesat sehingga harus ditobatkan dan dikembalikan kepada ajaran yang benar, sampai pada praktek penghalalan darah atas kepercayaan yang berbeda.

Padahal, salah satu tesis terpenting dari kehidupan adalah menyelenggarakan kebebasan dan mengundangkan kebersamaan. Kebebasan adalah hak yang dari lahir sudah melekat dalam kehidupan, dengannya manusia hidup dan menghidupi. Persamaan penting karena setiap manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya lahir sebagai sebuah kerumunan yang hidup dan matinya di tempat yang sama, sehingga dengan keterbatasannya bukan harus dibedakan melainkan harus saling bekerjasama dalam segala hal demi kebersamaan.

Tesis dan tugas ini semakin penting dilaksanakan di tengah semakin marak dan kuatnya pembentukan laskar-laskar yang mengklaim sebagai pewaris sah kebenaran, kelompok-kelompok yang pada dasarnya bergama hanya bermodal semangat, menyimak penggalan-penggalan ayat dan hadits dari ceramah-ceramah yang disebarkan melalui youtube dan media sosial lainnya.

Bayangkan saja, tanpa sungkan dan merasa bersalah melabeli diri dengan nama Muslim Cyber Army (MCA) untuk menyebar berita bohong dan kebencian, mendaku aktivitas yang bertentangan dengan ajaran suci agama itu justeru sebagai jihad dan pekerjaan mulia.

Lebih gregetan lagi, kelompok-kelompok berbasis agama lainnya, dengan mudahnya terprovokasi dengan isu-isu murahan bahkan cenderung berisi fitnah yang disebar tersebut. Padahal agama dengan ketat mengatur pentingnya verifikasi berita, chek and richek kabar dengan teliti, (Qs. Al Hujurat:6). Berita yang tidak pernah difilter dengan baik, berisi kebohongan dan kebencian inilah, yang semakin menipiskan toleransi dan menajamkan permusuhan.

Akhirnya, problem proses interaksi sosial yang terbangun dalam konteks tribus-society, di mana setiap kontestasi ide dan wacana-wacana serta argumentasi publik tidak menemukan katalisnya dengan baik dalam lingkungan sosial, konteks inilah yang dalam istilah Anthony Giddens (1985) membentuk keterpecahan kolektif di kalangan agen-agen pembaharu, antara practical consciousness (kesadaran praktis) dan diskursive consciousness (kesadaran wacana).

Untuk itu, penting menjadi renungan apa yang diutarakan oleh Martin Ivany agar kita melakukan pembelajaran sosial-politik secara utuh tentang bagaimana hidup di dalam masyarakat asosiatif, yang mengajarkan toleransi, plural, dan memiliki otonomi individu yang autentik, sehingga kita tidak menjadi sektarian, berebut kebenaran sepetak yang memilah-milah kelompok untuk berbuat kebajikan, melainkan menempatkan kecerdasan dan keshalihan sebagai mode of existency di atas setiap identitas dan entitas.

Bukankah kita masih terus menerus butuh orang lain, sebagai makhluk sosial yang tak senang bicara sendiri, curhat sendiri dan menyelesaikan pekerjaan sendiri, sebagaimana yang digambarkan oleh Caca Handika, dalam lagu dangdut Angka Satu.

Percayalah, hidup sendirian itu pastilah tidak enak. Terlebih lagi, sudah sendirian dan terus menerus menggelorakan permusuhan. Jika toh, kita yakin dengan kebenaran yang kita anut, bukankah ada banyak cara merangkul, tanpa harus memukul, mengajak tanpa harus mengejek.

Mari merangkul dan berangkul.