SDM, Tempat Nongkrong, Menikmati Puisi dan Baca Buku

- March 03, 2018

Halaman Studio Djajan Metro

Di Kota Metro, tak banyak tempat nongkrong dengan suasana cafe yang dipadu dengan pustaka, semacam Libreria Eatery di Ngagel, Surabaya. Salah satu yang sedikit itu adalah Studio Djajan Metro (SDM).

Dulunya, SDM berlokasi di sekitar simpang kampus. Simpang kampus ini adalah daerah yang memiliki enam jumlah persimpangan, salah satunya adalah menuju ke daerah pusat kampus/sekolah yang kini ditetapkan sebagai kawasan pendidikan, sisanya ada yang menuju ke 21 Yosodadi, 15A Iring Mulyo dan menuju ke Sekampung, Lampung Timur.

Kini, SDM tak lagi berlokasi di daerah yang populer disebut simpang kampus itu, pindah lokasi tak jauh dari tempat semula, berjarak kurang dari 1 km, arahnya berbalik menuju kota dengan menempuh salah satu persimpangan di simpang kampus, tepatnya Jalan Selagai yang menuju ke arah belakang koramil, berkisar 3-5 menit untuk tiba di lokasi dari simpang kampus.

Jika kamu beranjak dari tengah kota atau dari titik Taman Merdeka, teruslah melaju ke arah kampus, agak pelanlah jika melihat tulisan PB Swalayan, tak perlu mampir beli minum atau makanan (karena di SDM ada banyak makanan dan minuman yang lebih enak) setelah itu kamu akan bertemu bangunan warna hijau bercorak tentara, itu adalah kantor Koramil Metro, tak perlu lapor, berbeloklah ke kanan, terus saja hingga bertemu perempatan dan berbeloklah lagi ke kanan, hingga 50 meter di sebelah kiri kamu telah tiba di lokasi.

Masih susah? Ya, sudah gunakan google maps aja! Tulisan ini bukan untuk mengulas soal rute atau maps, biarkan itu menjadi kewenangan aplikasi maps saja. Saya akan mengajak kawan-kawan membincang soal tempat kuliner yang asyik dan gaul, cocok banget bagi mereka yang doyan makan dan suka buku.
Salah satu sudut SDM, berisi seruan untuk membaca dan menanam. Foto: Uulkh
Studio Djajan Metro, seperti sebelumnya ketika masih mendiami tempat lama, tetap berkonsep memadankan tempat nongkrong dan pustaka dengan tag line "Nongkrong Sambil Baca Buku itu Keren!", menawarkan desain yang unik, mulai dari dinding-dinding yang dipenuhi quote dan lukisan, meja yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa sekaligus menjadi media bermain, seperti congklak atau dakon, dll., tak ketinggalan juga berjejer alat musik seperti gitar dan beberapa alat musik tradisional, serta beragam lukisan dan sketsa.

Teras SDM yang dipenuhi coretan-coretan seni termasuk quote. Foto: Uulkh 
Cafe ini sebenarnya tak terlalu besar, seperti sebuah rumah dengan halaman depan yang membentuk leter L, ada garasi, ada teras, ruang tamu, kamar tidur, kamar keluarga, dapur dan ruang makan. Oh, ya. Sebenarnya ini memang rumah yang dirubah menjadi cafe.

Meski masih sangat terbatas, buku atau bahan-bahan bacaan yang tersedia di SDM lumayan berbobot. Kerennya lagi, cafe ini sering mengadakan kegiatan kesenian, budaya dan pertunjukan musik akuistik. Secara berkala, setiap bulan SDM juga menggelar diskusi yang dirangkai dengan musikalisasi puisi.

Seperti minggu lalu, di akhir Februari, SDM menggelar diskusi Tajuk Kembang Kol, Empat Sehat Lima Puisi.
Keseruan diskusi di ruang garasi SDM. Foto: Uulkh
"Bulan ini, Maret ada Tajuk Kembang Kopi, bulan depannya Tajuk Kembang Pasir," ujar Uul, salah satu pengunjung sekaligus pengisi acara pada Tajuk Kembang Kol minggu yang lalu.

Dwi Setia, si pemilik SDM ini juga tergolong ramah. Setelah acara pagelaran musikalisasi puisi yang sempat ku hadiri minggu lalu itu, ditutup, peserta bubar dan pulang ke tempat masing-masing, tak sungkan ia mengantar hingga ke jalan raya dan menyalami kami satu persatu.

So, datang ke SDM, bisa makan dan minum, dapat ilmu dengan baca buku dan ikut diskusi, terhibur dengan berbagai pagelaran kesenian, dan yang tak kalah penting juga adalah seperti mendapatkan keluarga baru, saudara baru, mereka adalah orang-orang hebat dan memiliki karya.
Beberapa contoh lukisan dan sketsa di SDM. Foto: Uulkh
Ini adalah kata-kata Usnul Uul dari instagram barangkali bisa seperti testimoni yang bisa menjelaskan keseruan dan keasyikan SDM:

Kau tau serendipity? Yaitu menemukan hal yang menyenangkan saat kau tak bermaksud mencarinya.

Ya seperti aku menemukan tempat ini secara tidak sengaja.
Kau tau, rasanya seperti aku menemukan buku yang bahkan aku lupa pernah mengincarnya setengah mati.

Seperti menemukan uang di saku celana, atau seperti mendengar lagu favoritku diputar di radio.

Sebuah tempat yang entah apa namanya kafe, sanggar, perpustakaan, museum, atau rumah seniman. Entahlah terserah kau sebut apa. Semua yang aku sebutkan tadi bisa kau temui di sana.

Setiap aku ke sana, diam-diam aku menulis sesuatu di kepala. Tentang daun pohon belimbing yang ikhlas gugur tanpa minta dicegah, meja kursi kehujanan, aktor-aktor teater yang kehilangan hapalan naskahnya, pemain musik yang lupa kunci gitarnya, sampai Kinanti bayi cantik yang saingan doyan jus alpukat denganku.

Serendipity hadir dengan sederhana, sesederhana cara seseorang membuatku senang. Dengan jus alpukat dan soto ayamnya.

Kau harus mampir ke sini, memesan secangkir minuman dan membaca buku. Atau sekedar mengobrol dengan si cantik Kinanti, itupun kalau kau mengerti bahasanya.

Mungkin itu akan menjadi serendipitymu. (Metro, 28/02/18)

Tak percaya? Cobalah sempatkan datang. Alamatnya: Jl. Selagai No. 81 Belakang PB Swalayan/Koramil 15A. Buka Pukul. 09.00  hingga 22.00.

Sumber foto: uulkh