Saya, Kritik dan Kota

- March 18, 2018

Saya, Kritik dan Kota, Omah1001

"Wah, tambah gemuk saja, Bang? Sepertinya tambah makmur saja. Sudah jarang kritik dan komentar tentang kota sekarang, sudah makmur, sepertinya sudah bersinergi? Komunitas diskusinya gimana, sudah lama tak terdengar, pecah kongsi?"

Siang kemarin secara tak sengaja saya bertemu kawan yang telah nyaris setahun tak pernah bertemu dan jarang juga berkomunikasi. Meski sering mendapatkan link berita yang dikirimnya rutin via WhatsApp.

Pertemuan di tengah keramaian, pada launching sebuah produk sepeda motor di tempat biasa saya nongkrong.

Diberondong dengan pertanyaan seperti itu, kaget, tentu saja. Nyaris tersedak!

Saya tak tertarik memberikan jawaban apapun saat itu, apalagi mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih mirip tudingan halus sebagai cara menakar kawan dengan cara pikir, isi kepala dan tindakan sendiri.

Memberi jawaban panjang lebar tentu saja adalah kesia-siaan atas pertanyaan bernada vonis, toh setiap orang memiliki persepsi sendiri-sendiri atas setiap orang lain, dan rekam jejaklah yang akhirnya akan memberi jawaban siapa sebenarnya masing-masing kita.

Setiap perjalanan hidup akan menarasikan detail siapa sebenarnya kita, tanpa harus susah payah kita jelaskan kita orang baik atau kita orang jahat.

Namun, hingga dini hari menjelang subuh, sesaat setelah membaca hingga 2/3 Aroma Karsa, saya kok tiba-tiba kembali terpikir berondongan pertanyaan kawan tadi. Saya terpikir, kenapa tak menjadi bahan tulisan saja.

Berhenti sejenak, tutup buku. Salat subuh, kemudian menghidupkan laptop.

Mengingat-ingat setiap not, raut wajah, ekspresi dan senyum seorang kawan yang ikut mendengar pertanyaan tersebut. Saya malah teringat cerita senior, Juwendra Asdiansyah tentang kentut di sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM), pada sebuah diskusi “Hak dan Kewajiban Warga di Era Jurnalisme Internet” di Aula PKBI Lampung, Telukbetung, Rabu, 7/9/2016.

“Suatu hari, saya mendatangi ATM di SPBU Satelit. Saat saya mengantre, ada seorang bapak-bapak keluar. Kemudian saya masuk ke dalam, tercium bau kentut. Saya menuduh bapak itu yang kentut. Saya langsung keluar, seorang perempuan masuk. Saya masih menunggu di luar, mengantre di ATM yang lain. Saat perempuan tadi keluar, dia menatap saya dengan muka masam. Saya yakin dia berasumsi saya yang buang angin,” paparnya sebagaimana dikutip duajrai.co, 8 September 2016 yang lalu.

Bang Juwe, begitu saya biasa memanggil, hendak menegaskan bahwa berasumsi itu tidak boleh, karena bisa berujung pada fitnah, terutama bagi jurnalis.

Walaupun pada akhirnya, kita tak pernah bisa menghalangi dan memaksa orang tak berasumsi, apalagi jika asumsi-asumi tersebut terjadi karena buntunya saluran komunikasi.

Soal komunitas diskusi, memang bukan seorang dua orang yang bertanya, kenapa berhenti? Kenapa tak bergeliat lagi, kenapa tak kritis lagi soal kota? Pertanyaan yang memang lumayan rumit untuk dijawab, karena saya, barangkali juga kawan-kawan saya semua pegiat diskusi tak paham kenapa berhenti, tak ada alasan prinsip sebenarnya, kita tak cekcok, kita juga tak pernah baku-hantam.

Bahkan kita juga seringkali saling bertanya, apa soal prinsip yang membuat kita berhenti? Tak ada jawaban.

Pecah kongsi? Pertanyaan balik pun harus kita ajukan, perkongsian apa? Semua pegiat diskusi yang saya kenal dan pahami tak ada seorang pun yang telah dan sedang mengerjakan proyek besar, lebih-lebih proyek pemerintah, jadi pecah kongsi apa?

Simpul saya, pada titik mentok ketika tak ada satupun jawaban rasional yang berhasil tersampaikan, diam-diam saya berguman sendiri, barangkali komunitas sedang menjalani takdirnya sebagaimana tali yang memiliki pangkal jua ujung, sebagaimana hari yang memiliki pagi dan senja.

Barangkali memang sebagaimana lazimnya kehidupan, segala sesuatu selalu memiliki titik jenuh, membutuhkan jeda, untuk bergerak atau meloncat lebih lebar.

Soal kritik tentang kota, sebenarnya kita tak pernah berhenti. Semua kita selalu bicara tentang kota yang kita cintai. Nyaris, semua ruangnya telah kita bincangkan, laku pejabat dan birokrasinya telah kita diskusikan, jika kota tak jua berubah, bisa jadi karena pemangku kepentingannya tak mendengar, bisa jadi juga karena bebal. Perubahan kebijakan memang bukan kewenangan kita yang hanya remah-remah ini.

Saya juga termotivasi nasihat kawan, kenapa selalu bicara mentalitas pejabat, membicangnya mereka tiap hari, seolah tak ada lagi yang penting selain mendiskusikan tema tentang mereka. "Anggap saja tak ada, benar-benar tak ada dan tak pernah ada!"

Walaupun saya tak menganggap semua nasihat di atas benar, karena tak mungkin juga saya tutup telinga dan mata atas segala sepak terjang pemangku kepentingan kota ini. Namun saya pikir, paling tidak selalu ada nilai positif dari setiap nasihat dan peristiwa. Saya tak ingin perbincangan dan kritik soal aparatus, soal para pemegang kebijakan di kota ini, terlalu menyita waktu saya melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat.

Ada banyak pekerjaan yang lebih bermanfaat tanpa harus berharap pemerintah kota peduli dan terlibat, bersinergi dengan kawan-kawan yang menggiatkan literasi, menghidupkan kembali kelas menulis, berkumpul dengan banyak komunitas, pegiat teater, sastra dan menulis berbagai cerita yang diharapkan bisa memotivasi dan menginspirasi banyak orang daripada setiap hari menulis soal kelakuan 'mereka' yang bebal.

Dan, tentu saja tetap menajamkan pendengaran dan telinga, agar tetap bisa menuliskan caci-maki atas setiap kengawuran pemangku mandat rakyat di kota ini. 

Intinya, saya ini penulis lepas dan bebas, kehidupan yang saya jalani adalah hidup yang sepenuhnya saya pertanggungjawabkan sendiri, jika kawan-kawan pernah mendengar saya selama berhenti mengomentari kekuasaan, kemudian tiba-tiba mengemis kepada pemerintah dengan mengajukan proposal atau apapun hanya sekadar untuk bertahan hidup, ya sudah caci maki saja saya. Jika, tidak. Namun, kamu terus saja berasumsi negatif, rajin-rajinlah jenguk hatimu, mungkin dia lagi sakit.

Gitu aja, kok repot!

Jadi, begitulah kira-kira narasi (curhat) yang menyertai kopi pagi ini.