Real Madrid itu Cinta dan Kesetiaan

- March 02, 2018

Real Madrid itu Cinta dan Kesetiaan

Saya menjadi Madridista itu tak sengaja. Melainkan seperti digerakkan, diberikan 'hidayah', ditunjukkan.

Awalnya tak pernah terbersit untuk menjadi supporter sepak bola fanatik, alih-alih untuk menjadi supporter fanatik, saya yang dari kampung pun tak paham nama-nama klub besar sepak bola dunia, meski pun nama-nama seperti Maradona, Ruud Gullit, David Beckham, Owen dan beberapa nama pemain bola yang berjaya di eranya, sangat akrab dijuluki atau dilekatkan kepada pemain-pemain hebat yang ada di kampung.

Dulu saya hanya mendapatkan informasi tentang sepak bola dari radio, mendengar siaran langsung pertandingan di RRI Ujung Pandang, ketika sore hari menjelang magrib. Sisanya, menyaksikan turnamen-turnamen antar kampung ketika perayaan 17 Agustus atau resepsi perayaan kelulusan santri di Pondok Pesantren Abu Hurairah, yang rutin juga digelar setiap tahun.

Hingga, suatu ketika saya berada dalam satu pilihan sulit, yang memaksa saya harus paham soal seluk beluk sepak bola. Ketika itu, di tahun 2003 seorang kawan yang tinggal dekat kontrakan adalah salah satu pemain sepak bola, walaupun level kampung. Setiap hari obrolan bersama rekannya adalah soal sepak bola, saya sama sekali tak mengerti orang-orang yang selalu disebut dalam setiap perbincangan mereka.

Tak mau hanya diam di antara gerombolan pecinta bola tersebut, akhirnya saya mencoba mencari informasi tentang sepak bola, berburu beberapa majalah bekas dan secara rutin setiap minggu membeli atau sekadar numpang baca tabloid bola di lapak-lapak koran di Pasar Cendrawasih, yang kala itu kebetulan kenal dan pernah membantu mencarikan koran-koran lama, ketika dikerjain panitia Ospek saat menjadi mahasiswa baru dulu.

Hampir sebulan, setiap hari secara diam-diam aktivitas berburu informasi dan menghafal pemain-pemain bola itu tanpa jeda saya lakukan. Hingga, akhirnya saya sedikit paham soal liga-liga dunia, terutama Liga Eropa.

Namun, justeru yang menarik perhatian saya, adalah informasi dari beberapa tabloid bola bekas, tentang perseteruan dua klub besar Eropa, Real Madrid dan Barcelona. Pertandingan-pertandingan kedua klub berjuluk el clasico itu selalu saja riuh gempita, bukan hanya di stadion di mana mereka melangsungkan pertandingan, tetapi juga di berbagai negara, bukan hanya supporter kedua tim, melainkan hampir seluruh pecinta sepak bola seakan sayang untuk melewatkan pertandingan tersebut.

Ada apa? Untuk mendapatkan jawaban itu, saya pun semakin 'gila' mengumpulkan sebanyak-banyak informasi tentang kedua klub tersebut, hingga tahun berdiri dan siapa pendiri masing-masing klub, mengapa sampai terjadi rivalitas dan seterusnya, dengan sukses berhasil saya rekam dalam memori ingatan saya, dan selanjutnya menjadi landasan dan alasan saya mencitai dan menjadi fans Real Madrid.

Dari berbagai informasi dan bacaan tersebut itu, saya menjadi paham bahwa sebenarnya Real Madrid didirikan oleh dua bersaudara berdarah Catalan, Carlos Padros dan Juan Padros pada tahun 1902, tiga tahun setelah berdirinya Barcelona pada tahun 1899. Saya juga mendapatkan informasi bahwa sesungguhnya rivalitas dan sengitnya pertandingan antara Barcelona dan Real Madrid telah berlangsung sejak pertemuan pertama mereka, yakni tanggal 13 Mei 1902 pada semi final Piala Spanyol, jadi bukan ketika Jendral Franco sedang berkuasa dan melahirkan perang sipil pada tahun 1936 - 1939 sebagai biang kerok permusuhan.

Tuduhan Barcelona berada dalam intimidasi Sang Jendral, juga tak berdasar, hingga sekarang tak ada satu pun bukti yang bisa diajukan bahwa Barcelona berada dalam tekanan ketika dikalahkan 11 - 1 pada tahun 1943. Memori yang menyakitkan dan meninggalkan luka dalam yang susah terbalaskan itu, memang sengaja dicarikan 'dalil' agar terkesan tak terlalu perih untuk dikenang, sebagai konsekuensi betapa sulitnya menerima kenyataan pahit.

Tudingan bahwa Real Madrid sebagai klub pavorit Sang Jendral juga adalah omong kosong, beberapa kali bongkar pasang simbol mahkota kerajaan di logo Real Madrid, menunjukkan bahwa hubungan Real Madrid juga mengalami pasang-surut dengan kerajaan, bahkan beberapa fakta menunjukkan justeru Atletico Madridlah yang lebih sering disebut mewakili kepentingan rezim kala itu, bahkan pernah disebut sebagai klub milik Angkatan Udara  Spanyol dengan nama baru yakni Athletic Aviacion de Madrid pada tahun 1930-an.

Kondisi inilah yang membuat Atletico selalu dekat dengan Franco. Banyak loyalis Franco yang bermain di Atletico. Sejarah ini menegaskan bahwa jika ada yang mengatakan bahwa Franco membenci Atletico itu adalah kesalahan besar. Lantas sikap politis Franco yang membelot ke Real Madrid pun bukan tanpa sebab. Franco butuh Real Madrid sebagai alat untuk mencitrakan dirinya. Kebetulan di era 1950-an, Madrid sedang jaya-jayanya di Eropa.

Kedekatan Franco dengan Real Madrid otomatis selalu memuculkan cap bahwa El Real dekat dengan fasisme. Nyatanya, malah kelompok ultras Atletico yang lebih condong menganut ideologi ini. Sebagian besar pendukung Atletico memiliki sentimen nasionalis yang kuat dan cenderung fasis, termasuk ultras terkemuka mereka yakni Frente Atletico. Jika tak percaya datangnya ke basecamp mereka di sekitar Vicente Calderon, maka anda akan melihat banyak simbol-simbol fasisme yang tertuang dalam graffiti.

Selama ini memang selalu ada cap bahwa penonton Vicente Calderon adalah jemaat fasis, Falangis dan Francoists. Namun, fakta yang harus diungkap di atas semua itu, sesungguhnya Franco mempavoritkan semua klub besar, baik Real Madrid, Barcelona maupun Atletico Madrid. Jika untuk Derby Madrid, barangkali tak terlalu sulit menunjuk bukti-buktinya, karena memang dua klub ibukota.

Fakta bahwa Franco juga menyayangi klub Catalan, Barcelona adalah ketika Jendral Franco ikut membiayai operasionalisasi Camp Nou kala itu, bahkan pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, Real Madrid dan Barcelona berada dalam satu pihak, Jendral Franco lah yang justeru memilihkan Presiden untuk kedua klub.

Fakta lain, pada masa musim perang sipil, dua dari Presiden Real Madrid sepanjang perang sipil tersebut beraliran anti-Franco, Rafael Sanchez Guerra adalah seorang Republikan, dan Kolonel Antonio Ortega seorang penganut aliran komunis yang fanatik pada Uni Soviet. Fakta lain, Barcelona adalah klub yang pernah dianggap sebagai anti-Spanyol. Namun, Barca justru penyuplai pemain terbanyak Timnas Spanyol hingga sekarang.

Sejak 1939 hingga kedatangan Alfredo Di Stefano di Real Madrid tahun 1953, yang merupakan periode paling represif selama rezim Franco, Real Madrid gagal memenangi liga. Sementara, Barcelona memenangkan lima gelar. Jadi tidaklah tepat kalau Barca diintimidasi sehingga pernah gagal menjadi juara.

Maka, tulisan ini hendak menakbirkan fakta, sesungguhnya kedua klub itu memiliki banyak persamaan daripada perbedaan, sama-sama klub raksasa dengan pendapatan terbanyak. Termasuk untuk kelompok suporternya. Mencitrakan Barcelona sebagai klub proletar anti-pemerintah, hanyalah mitos yang dibangun secara rapi. Maka lebih arif memosisikan kedua klub sebagaimana kata Santiago Solari, “Yang ada dalam benak pemain adalah sepakbola, bukan politik!”

Sikap, pemain-pemain Real Madrid yang lebih respek dan sering mengapresiasi kemenangan Barcelona, seperti standing applause para supporter Real Madrid kepada Ronaldinho di Santiago Bernabeu tanggal 19 November 2005, ketika Madrid dikalahkan 0-3 oleh Barcelona. Hal yang hingga kini belum pernah dilakukan oleh supporter Barcelona, bahkan penghormatan-penghormatan yang diberikan oleh pemain-pemain Real Madrid ketika Barcelona menjadi juara hingga kini pun hal serupa enggan dilakukan oleh pemain-pemain Barcelona.

Sejarah justeru mencatat bagaimana perilaku rasis dan kasar, hingga pelemparan kepala babi kepada Luis Figo, 23 Novemer 2002 yang dilakukan oleh supporter Barcelona, padahal ketika itu kedudukan berakhir imbang 0-0.

Fakta-fakta sejarah itu, menjadi petunjuk penting bahwa sesungguhnya Real Madrid lebih terbiasa dan dewasa menerima kekalahan. Sebagai supporter yang dibentuk dan terbentuk dari pengetahuan, bukan hanya apa yang kami lihat di lapangan hijau, maka sewajarnyalah kami senang ketika Real Madrid menang, tetap bangga jika imbang, dan tetap setia tatkala kalah. Sebagai Madridista, tak akan pernah terjebak pada permainan kalah-menang.

Pertemuan antara kedua tim kala bertanding dengan klub apapun, bukanlah pertandingan mewakili kaya vs miskin, borjuis vs kelas pekerja atau tim yang royal pada kerajaan vs tim pembangkang. Sepakbola adalah sepakbola! Karena, menjadi Madridista itu bukan hanya soal fans club dan gemuruh sorak sorai ketika tim kesayangan menang, melainkan juga soal cinta dan kesetiaan.