Pilunsur

- March 21, 2018

Pilunsur, Omah1001

Pagi-pagi buta kami biasanya telah pergi ke ladang, ketia usia jagung telah berumur lebih dari dua bulan. Mencari jangkrik untuk kami tukar dengan berbagai barang ke pabulicco, pedagang keliling dari seberang yang menyediakan berbagai keperluan orang pulau, seperti buku tulis, baju, sarung dan berbagai perabot.

Bagi kami anak-anak pulau, pagi sebelum berangkat sekolah adalah hiburan. Kami menjelajah, masuk ke ladang, kebun dan sawah. Sembari mencari jangkrik, kami mengumpulkan buah ketapang yang dijatuhkan codot setelah memakan kulit luarnya.

Begitupun saat kami menyusuri jalan menuju sekolah, perjalanan yang setiap hari kami tempuh selama satu jam setengah atau 3 jam pulang pergi, adalah perjalanan yang menghibur, menyenangkan. Tak jarang di balik bongkahan tanah yang retak karena lama tak turun hujan, atau di balik onggokan tahi sapi yang mengering, kami menemukan jangkrik.

Bukan hanya itu, serpihan tanah yang mewujud seperti kerikil ketika kemarau, tak jarang menyakiti telapak kaki kami, dan ketika hujan tak jarang aku dan kawan-kawanku jatuh terpelantig. Namun, perjalanan menuju atau pulang dari sekilah, tetap saja menjadi hal yang menyenangkan. Berlari kejar-kejaran di pematang sawah tanpa alas kaki, bermain lumpur ketika pulang sehingga atak khawatir seragam kotor, adalah serpihan masa kecil, masa-masa indah yang tak mungkin kami lupakan sebagai anak pulau.

Selain pantai dan laut, pematang dan lumpur sampah meski datang musiman adalah hal yang sangat akrab dengan kehidupan kami anak pulau. Ketika musim hujan tiba, hampir semua orang pulau turun ke sawah, mereka gotong royong membajak sawah, jika hari ini menggarap sawah Wak Bacok, esoknya menggarap sawah Embo Tani, begitu seterusnya secara bergantian. Dan kami, jika kebetulan tak sekolah ikut ke sawah, bermain lumpur.

Ada dua momen menyenangkan jika ikut orang tua pergi ke sawah, pertama, tatkala diizinkan naik ke alat tradisional yang ditarik dua ekor sapi, orang pulau kami menyebutnya salage, alat yang digunakan untuk menggemburkan tanah setelah sebelumnya dibajak. Selain merasakan sensasi ditarik dua ekor sapi di atas salage, kami juga merasakan dan menikmati kehebohan kala terjatuh dan terbenam ke dalam lumpur yang lembut.

Momen kedua adalah ketika waktu siang, semua orang bekerja di tengah sawah menepi, dan beristirahat di bawah pohon. Beberapa rantang susun berisi nasi, sayur asem dan ikan asin telah disiapkan oleh ibu-ibu untuk makan bersama, dan kami akan menunggu momen-momen itu dengan tak sabar. Kami diajarkan etika, bahwa tak boleh mengambil makanan mendahului orang yang usianya lebih tua dari kami.

Setelah orang tua kami selesai makan, masih dengan badan yang penuh lumpur, mencuci tangan dengan air saluran yang mengaliri sawah, kami pun segera berhambur berebut ikan asin yang tersisa, di atas hamparan rumput yang tumbuh di sekitar pinggir sawah, di bawah pohon-pohon yang dihinggapi burung-burung adalah kenikmatan lain yang barangkali sulit didapatkan oleh anak-anak milenial seusia kami dulu.

Sawah yang hanya bisa ditanami padi ketika musim hujan tiba adalah dunia kedua kami setelah laut dan pantai. Di sawah kami menggembala kambing dan mencari rumput, selain di pantai, di sawah kami bermain layang-layang dan berburu ayam-ayaman (bek-bek), di sawah kami juga berlomba mencari buah bidara, buah cermai dan pilunsur.

Pilunsur belakangan baru kutahu bahasa Indonesianya adalah ciplukan, setelah orang ramai membicarakan khasiatnya, mulai akarnya yang kerap digunakan untuk obat cacing dan penurun panas, daunnya penyembuh patah tulang dan bisul, serta buahnya untuk mengobati epilepsi, susah kencing dan penyakit kuning.

Dulu, buah pilunsur yang sudah menguning tanda telah matang, menjadi buah pavorit kami, pilunsur tak jarang ikut memenuhi tas kkami yang terbuat dari kantong kresek, selain buah bidara dan kadi'eh dan dube. Semua jenis buah tersebut,  tumbuh liar di sawah bersama belukar yang bisa diambil oleh siapa saja tanpa harus membeli.

Kini, justeru ketika orang mulai sadar segala manfaat buah-buahan yang tumbuh liar di pelosok desa tersebut, termasuk di pulau kami, tumbuhan tersebut menjadi tumbuhan langka yang sudah dicari. Bukan hanya pilunsur, bidara, jambu, dan beberapa tumbuhan yang biasanya orang-orang di pulau menggunakannya sebagai obat, telah sangat sulit ditemui.

Padi yang ditanam juga sudah berbeda, bibitnya tidak lagi berasal dari stok padi yang biasanya orang-orang pulau kami menyimpannya di atas pamakkah, hasil dari panen, sisa dari stok yang dimakan.

Sawah kami juga tak lagi sesubur dulu, sebelum pupuk yang dikirim berkarung-karung dari kota.

Tak ada lagi anak-anak yang bermain lumpur, menaiki salage yang ditarik dua ekor sapi. semuanya telah berubah. Terlihat maju, tetapi sesungguhnya menjadikan orang-orang di pulau kami justeru merasa lebih susah mencari kebutuhan makan.