Menonton Asimetris; Ketika Sawit Membuat Pincang Kemanusiaan Kita

- March 14, 2018
Menonton #Asimetris, Omah1001

Perawat menepuk-nepuk dada seorang bayi, di luar kabut begitu pekat. Ibu-ibu berlarian menggandeng anak-anaknya yang masih kecil, semua orang di jalanan menggunakan masker. Kendaraan di jalan raya juga berjalan sangat lambat, pandangan sangat terbatas karena terhalang kabut.

Di bagian lain, di sebuah jalan tanah, di atas sebuah truk dengan bak terbuka beberapa perempuan berhimpitan dan terguncang karena jalan yang tak rata, mereka adalah para buruh harian lepas sebuah perusahaan sawit di Desa Sembuluh, Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah.

Para perempuan itu melakoni pekerjaan dengan menaiki truk bak terbuka setiap hari, menempuh perjalanan puluhan kilo meter, selama tujuh tahun lebih. Selazimnya buruh lepas, mereka tak mendapatkan jaminan cuti dan kesehatan. Kesehatan, keselamatan adalah tangggungjawab mereka sendiri, tak bekerja berarti tak mendapatkan upah, meski alasannya karena sakit sekalipun.

Begitulah beberapa potongan pembuka di lima belas menit pertama film Asimetris garapan WatchDoc, Film kesembilan dari rangkaian Ekspedisi Indonesia Biru, perjalanan dua jurnalis senior Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz. Sebelumnya, telah rilis terlebih dahulu, Samin vs Semen, Kala Benoa, The Mahuzes, Baduy, Kasepuhan Ciptagelar, Lewa di Lembata, Huhate dan Gorontalo Baik.

Sedangkan di depan layar yang menayangkan tontonan asimetris tersebut, duduk dengan rapi para mahasiswa, dosen, pegawai dan beberapa warga biasa, jumlahnya sekitar 200 orang lebih, tubuh mereka wangi, dandanan mereka klimis, dan tentu saja salah seorang dari mereka pastilah mengonsumsi sabun, shampo, kosmetik dan kebutuhan rumah tangga lainnya, olahan dari kebun sawit yang mereka tonton. Wallahu a'lam, apakah mereka sadar dan mengerti atau tidak.

Saya berdiri di bagian paling belakang di luar ruangan, mengisap sebatang rokok menghembuskan asapnya dengan berat, sesekali memandang layar lewat kaca jendela ruangan yang transparan. Terbayang kakak saya beserta anak-anaknya bekerja di perkebunan karet Kalimantan, istri dan anak perempuan pertamanya yang menggendong tandan sawit hingga ke pinggir jalan raya yang bisa dilalui mobil truk, dengan upah jasa 1.000 rupiah pertandan atau 1.500 rupiah perkarung.

Film Asimetris, sebagaimana 8 film sebelumnya yang dirilis WatchDoc memang bukan melulu soal kebenaran, melainkan juga soal hati nurani dan kemanusiaan. Untuk itu, ketika salah seorang pembedah film ini membincang soal untung-rugi dalam perspektif ekonomi dan membandingkannya dengan usaha madu hutan, saya merasa geli, terseyum kecut, seolah pernyataan itu adalah lelucon yang garing. Tiba-tiba saya menjadi khawatir, jika argumentasi yang seperti ini dipaksakan, akan mengundang gelak tawa para penyukong perkebunan sawit.

Bayangkan saja, sebagaimana juga diakui oleh pembuat film ini bahwa perkebunan sawit adalah salah satu dari penyumbang devisa terbesar Indonesia. Bahkan menurut pendapat lain, sawit menyumbang lebih dari 20% sektor perekonomian kita, manalah mungkin mengatakan bahwa usaha perkebunan sawit itu tidak menguntungkan dan menggiurkan, apalagi memaksakan untuk membandingkannya dengan industri rumahan semacam bisnis madu hutan.

Membincang #Asimetris menurut saya tak cukup dalam bingkai ekonomi, lebih-lebih jika perspektifnya untung-rugi lazimnya ekonomi-liberal yang kapitalistik dan minim nilai. #Asimetris sebagaimana makna judul yang dipilih untuk film ini adalah soal ketakberimabangan, tak setangkup, tidak simetris, pincang! Keuntungan pribadi, kelompok, perusahaan dan negara yang didapatkan dari perkebunan sawit tak sebanding dengan kerugian, penderitaan, musibah yang dialami oleh rakyat Indonesia penerima mudharat kehadiran perkebunan sawit ini.

Maka tontonlah #Asimetris ini tetapi jangan sekali-kali menanggalkan hati, tak cukup menonton #Asimetris hanya dengan bermodal kepala.


Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz lewat film ini mengajak kita melihat dari dekat betapa musibah kebakaran tahun 2015 telah menghabiskan 1,7 juta hektar hutan di Sumatera dan Kalimantan, dan itu bermula sejak dimulainya rencana pembukaan lahan baru perkebunan sawit tahun 2014, menyebarnya senyawa berbahaya di udara, termasuk ozon, karbon monoksida, sianida, amoniak, formaldehida, oksida nitrat dan metana, puluhan nyawa melayang, 500.000 orang terserang penyakit, terutama masalah pernapasan.


Keduanya, setelah menempuh perjalanan 14 ribu kilometer menggunakan sepeda motor tiba di Kalimantan ketika puncak tragedi kabut asap. Mencari tahu dan merekam penyebab bencana lingkungan yang berdampak pada total 69 juta jiwa manusia.

Sorotan utamanya adalah perkebunan sawit, yang kini luasnya berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, pada tahun 2016 diperkirakan mencapai 11,67 Hektare (Ha). Jumlah ini terdiri dari perkebunan swasta 6,15 juta Ha, perkebunan negara 756 ribu Ha, dan perkebunan rakyat seluas 4,76 juta Ha, dan pertanggal 21 Februari Tahun 2018 yang lalu sebagaimana diungkap oleh Menteri Pertanian, data tersebut bertambah menjadi 14,03 juta Ha.
Luas Perkebunan Sawit Indonesia, Omah1001
Data diolah dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, tahun 2016
#Asimetris sebagaimana ditulis dalam ringkasan pengantar film ini, tak hanya melihat lebih dekat bagaimana dampak industri perkebunan penghasil devisa terbesar itu bagi masyarakat dan lingkungan, juga menyuguhkan bagaimana pengaruh industri dalam pemerintahan, aparat keamanan, hingga kalangan media. Bahkan terhadap diri kita dari mulai kamar mandi, dapur, sampai kendaraan.

Selain itu, #Asimetris juga melihat bagaimana dukungan lembaga-lembaga keuangan global dan siapa saja yang sesungguhnya paling diuntungkan, selain 16 juta rakyat Indonesia yang memang ikut menggantungkan hidupnya pada industri ini.

Karena skala masalah yang dibahas cukup luas dan menghindari hitam putih, tim Ekspedisi Indonesia Biru dibantu 11 videografer dari berbagai daerah untuk mengumpulkan keping-keping cerita di lapangan yang terjadi antara 2015-2018 agar tetap aktual.

Jadi, sekali lagi ini bukan hanya persoalan ekonomi, persoalan devisa, perkebunan sawit sebagai penyumbang 20% lebih sektor perekonomian, karena di film ini juga diakui secara jujur bahwa ada 16 juta rakyat Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada industri ini, #Asimetris adalah soal keadilan, soal kearifan lokal, soal keadaban, soal dampak lingkungan dan sosial, serta soal kemanusiaan, soal manusia yang memiliki hati nurani atau tidak!

Warga Papua yang semakin terdesak, karena sagu sebagai kebutuhan primer mereka justeru tak mendapatkan perhatian di tanah kelahiran mereka sendiri, diganti dengan komoditas lain, termasuk sawit sebagai komoditas dunia.

Saya berterimakasih kepada Juraisiwo Corner IAIN Metro, karena telah memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa menghidupkan kembali hati.

Pagi-pagi sehari setelah menonton film ini, saya menelpon kakak saya yang bekerja di perkebunan sawit di pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, setelah nyaris setengah tahun tak pernah komunikasi dan bertanya kabar. Mendapatkan kabar terbaru, bahwa kini jasa angkut sawit untuk buruh harian lepas tak lagi pertandan, tetapi dihitung 400 rupiah perkilo. Dan istrinya tetap harus ikut bekerja, sebagai konsekuensi dari tuntutan hidup.

***