Mengenang Gabriel Marquez, Pelaku Awal Jurnalisme Sastrawi

- March 06, 2018

Gabriel Garcia Marques, Omah 1001.net

Andai hari ini adalah Rabu, maka hari ini persis dengan 91 tahun yang lalu, Rabu, 6 Maret 1927. Hari di mana Gabriel Garcia Marques lahir di Aracataca, Kolumbia dan meninggal dalam usia 87 tahun pada Kamis, 17 April 2014. Hari ini google secara khusus menghormati Marquez dengan memajang sketsa wajahnya di halaman utama.

Gabriel Marquez memang layak mendapatkan penghormatan itu, kematiannya ditangisi oleh banyak orang di seluruh dunia, mayoritas orang yang mengenalnya, baik langsung maupun lewat karya-karyanya, merasa kehilangan atas berpulangnya penulis cerpen dan novel paling populer di Spanyol itu, meski ia selalu menegaskan dirinya sebagai seorang wartawan.

"Saya adalah jurnalis. Saya selalu adalah seorang wartawan," kata Marquez pada suatu ketika kepada Associated Press. "Semua buku saya tak mungkin saya tulis jika saya bukan wartawan karena semua bahan buku itu berasal dari kejadian nyata."

Marquez banyak menulis novel dan cerpen bernuansa khas Amerika Latin, seperti takhayul, kekerasan dan kesenjangan sosial.Pemenang Nobel Sastra pada 1982 ini telah menulis puluhan karya, antara lain, Relato de Un Naufrago, Chronicle of a Death Foretold, Love in the Time of Cholera, dan Autumn of the Patriarch, One Hundred Years of Solitude.

Beberapa karyanya juga telah banyak yang diterjemahkan ke dalam 25 bahasa, salah satunya adalah Bahasa Indonesia, seperti Selamat Jalan Tuan Presiden, (Bentang, 1999), Seratus Tahun Kesunyian, (Bentang, 2003), Sang Jenderal dan Labirinnya, (Jalasutra, 2004)
Klandestin di Chile, (Akubaca, 2002), Tumbangnya Sang Diktator, (Yayasan Obor Indonesia, 1992) dan Wanita Yang datang Pukul 6 (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), (Aksara Indonesia, 2000).

Cara Marquez bertutur tentang kehidupan sehari-hari membuat dia terkenal sebagai praktisi sastra realisme magis. Dia bisa menulis sebuah cerita fiksi dengan unsur fantastis, seperti ketika bertutur tentang anak laki-laki yang lahir dengan ekor babi atau seorang pria yang terseret awan kupu-kupu kuning.

Ketika menerima Nobel pada 1982, Marquez dalam pidatonya menggambarkan Amerika Latin sebagai sumber kreativitas yang tak pernah terpuaskan, penuh kesedihan sekaligus keindahan, bergantian dengan keberuntungan.

"Puisi dan pengemis, musisi dan para nabi, prajurit dan bajingan, menjadi realitas tak terkendali, kami harus bertanya dengan sedikit imajinasi saja, mengenai masalah penting kami, tentang kurangnya cara konvensional yang bisa membuat hidup kami dapat lebih diyakini," kata Garcia Marquez.

Tak hanya fiksi Bersama Norman Mailer dan Tom Wolfe, Garcia Marquez adalah pelaku awal penulisan nonfiksi sastra yang kemudian dikenal sebagai 'new journalism'. Jejak jurnalisme sastrawinya adalah Kisah Tentang Seorang Pelaut yang Karam (Relato de Un Naufrago), yang ditulisnya sebagai cerita bersambung  di koran  pada 1955. Buku ini menceritakan kisah nyata tentang sebuah kapal karam dengan mengungkapkan kenyataan bahwa kehadiran barang-barang gelap di sebuah kapal Angkatan Laut Kolombia, yang membuat kapal itu kelebihan muatan, telah ikut menyebabkan karamnya

Selain itu, sebagaimana pengakuannya, bahwa semua bukunya bersumber dari kejadian nyata. termasuk cerita tentang kakek-neneknya yang merupakan inspirasi dari cerita fiksi Macondo, dan Arataca menjadi rujukan lokasi novel yang sama. Sebuah desa dikelilingi perkebunan pisang, yang kemudian juga menjadi latar novel One Hundred Years of Solitude.

"Saya sering diberi tahu oleh keluarga bahwa saya mulai menceritakan banyak hal, cerita dan sebagainya, sejak mulai bisa bicara," kata Garcia Marquez pada suatu ketika dalam sebuah wawancara.

Pada 1994, Garcia Marquez mendirikan Iberoamerican Foundation for New Journalism, yang membuat pelatihan dan kompetisi untuk meningkatkan standar jurnalistik naratif dan investigatif bagi para wartawan di seantero Amerika Latin.

Sejak awal menjalani pendidikan di sekolah berasrama, dia menjadi bintang kelas dan sekaligus pembaca yang rakus, dan menggemari karya-karya Hemingway, Faulkner, Dostoevsky, dan Kafka.

Karya pertama Marquez adalah cerita fiksi pendek untuk koran El Espectator, pada 1947. Meski dipaksa ayahnya belajar ilmu hukum, kebosanan mengantarkan Marquez mendedikasikan diri untuk jurnalisme. Namun, haluan tulisannya adalah pandangan politik kiri. Pembantaian di dekat Aracataca pada 1928 dan pembunuhan kandidat presiden dari sayap kiri, Jorge Eliecer Gaitan, pada 1948, sangat memengaruhi gaya tulisan Marquez sesudahnya.

Sempat tinggal beberapa tahun di Eropa, Marquez kembali ke Kolombia pada 1958, menikahi Mercedes Barcha yang adalah anak tetangganya sejak kecil. Pasangan ini memiliki dua anak. Kota Meksiko menjadi tempat tinggal berikutnya sampai ia meninggal.

"Seorang pria hebat telah meninggal. Karya-karyanya telah membuat sastra kita menjadi besar dan bergengsi," ujar Mario Vargas Llosa, penulis Peru yang sempat beradu tinju dengannya di luar bioskop di Kota Meksiko, dan pada sebuah kesempatan di 1976.


- Disarikan dari Duka Dunia untuk Gabriel Garcia Marquez yang ditulis oleh Palupi Annisa Auliani, Kompas, 19 April 2014.