Literasi dan Ruang Khalayak Kota

- March 19, 2018

Yustin Ridho Ficardo, Omah1001

Minggu pagi (18/3/2018) gerimis turun tanpa bisa dicegah, saya, istri dan anak-anak berteduh di lapak pedagang di pinggiran Lapangan Samber, tepat seberang Kuburan Samber. Ini adalah kali kedua saya hadir di acara Car Free Day (CFD) di Lapangan Samber, acara yang sebenarnya lebih tepat disebut senam (baca; joged) massal, yang sebelumnya diselenggarakan di jalan depan Rumah Dinas Walikota Metro, Taman Merdeka.

Saya menyaksikan beberapa kendaraan bermotor bebas melintas di Jl. Mayjend Riyachudu dan Jl. Mr. Gele Harun, dua jalan tersebut adalah jalan yang mengitari Lapangan Samber.

Di atas panggung berjejer lima perempuan seksi dengan pakaian ketat menjadi pemandu joged, gerakannya aduhai diiringi lagu mirip musik dangdut yang menghentak, terkadang dentumannya lebih mirip house music, menggetarkan tempat kami duduk. Di bawah di depan panggung, berhujan-hujan, peserta joged massal itu tetap semangat, tampak beberapa pejabat dan wakil walikota yang ikut bergoyang di bawah.

Di sudut lain Lapangan Samber, beberapa anak kecil usia TK sedang ikut lomba mewarnai. Di hadapan anak-anak itu berderet satu mobil dan satu motor dengan rak-rak berisi buku yang ditata rapi, beberapa remaja dan orang tua terlihat memilih dan membolak-balik, dan segera bergeser mencari tempat duduk, sesaat setelah mendapatkan buku yang mereka cari.

Oh ya, motor dengan box yang didesain menjadi rak-rak buku itu, di wall display bagian belakangnya ada foto perempuan cantik, Aprilani Yustin Ficardo, Duta Baca Lampung. Soal duta baca dan perempuan cantik ini, akan saya tulis khusus lain kali.

Aku kembali mengalihkan pandangan, melihat orang-orang yang asyik membaca sesekali menggoyangkan kakinya, seirama dengan musik yang menggelegar dari atas panggung.  Mereka larut dalam suasana membaca diiringi musik yang menghentak.

Kota pendidikan dan wisata keluarga. Begitu kota ini sekarang digadang-gadang, resmi, julukan itu tertulis dalam lembar-lembar penting daerah.

Dan, beginilah perwajahan kota dengan julukan tersebut, ruang khalayak kota dibuat layak, orang membaur tanpa sekat, pejabat dan rakyat, penguasa-warga, anak-anak kecil dan orang tua, laki-laki-perempuan, senam (joged) dan membaca, semua berkumpul, mereka belajar sembari wisata, mencari pengetahuan sekaligus hiburan.

Beberapa anak kecil, di tengah-tengah lapang sedang bergerombol, ku taksir umur mereka seusia anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, sedang asyik (barangkali belajar) gerakan meliuk-liuk sang pemandu senam di atas panggung, kadang mereka turut menirunya sembari terpingkal karena gerakannya salah.

Ruang khalayak memang sedang  mendapatkan prioritas penataan, puluhan jembatan direnovasi, dicat warna-warni dan dihias dengan lampu, menjadi tempat yang asyik untuk berfoto-ria di malam hari, barangkali asyik juga untuk tempat membaca yang menyenangkan sambil berfoto kemudian diposting di media sosial, instagram misalnya, instagramable, begitu istilah anak-anak milenial.

Komunitas literasi juga kian marak bermunculan, selain Studio Djajan Metro dan Mama Cafe yang sejak awal mendesain cafenya untuk nongkrong pegiat komunitas, berdasar cerita kawan, beberapa cafe juga sedang menyiapkan ruang-ruang literasi sebagai bagian desain cafenya.

Griya Baca Komunitas, Perpustakaan Jalanan Metro, Keluarga Cakau adalah beberapa nama komunitas yang rutin menggelar lapak baca.

Jika sudah begitu, apa yang dikhawatirkan Milan Kundera tentang kehancuran sebuah peradaban, karena musnahnya buku dan sedikitnya peminat literasi tidak akan pernah terjadi di Kota Metro. Bahkan, bisa jadi kebangkitan Indonesia, pun tidak menutup kemungkinan kebangkitan Asia, akan dimulai dari kota ini.

Anda bisa saja ngeyel membantah tulisan ini, tapi faktanya Kota Metro memang sedang menyongsong peradaban itu, dan ini berkat dukungan dan support pemerintah kota lewat visi Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga.

Coba pikir, apa akibatnya jika pemerintah melarang anak-anak muda menggunakan ruang-ruang publik untuk membuka lapak baca, melarang peredaran buku atau bahkan membakarnya sebagaimana di rezim Soeharto?