Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa

- March 24, 2018
Korupsi, Ajian Waringin Sungsang dan Malih Rupa, Omah1001

Jika sempat menikmati hidup di tahun 1980 hingga 1990-an, di mana informasi diperoleh masih lebih banyak dari radio, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman, pastilah tak asing dengan serial sandiwara radio "Saur Sepuh".

Brama Kumbara adalah tokoh sentral dalam Saur Sepuh, memiliki dua ilmu kedigdayaan yang sangat populer, Ajian Serat Jiwa dan Lampah Lumpuh. Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan, ajian yang bisa menghancurkan lawan hingga berkeping-keping, barangkali jika dianalogikan dengan konteks kedigdayaan modern, barangkali serupa dengan senjata api yang juga memiliki kecanggihan bertingkat dari pistol dengan kekuatan biasa hingga senjata canggih sejenis rudal atau bom atom.

Sedangkan Lampah Lumpuh, adalah ilmu yang menghilangkan kekuatan, membuat musuh lumpuh dan merasa tak berguna, kecuali ia bertobat dan berjanji tak akan mengulangi kejahatannya lagi, mungkin dalam konteks kekinian ajian Lampah Lumpuh ini mirip rompi oranye KPK.

Namun, ternyata soal kecanggihan kanuragan tak melulu menjadi domain kebaikan, kejahatanpun memiliki beragam jenis ilmu kanuragan baru. Bahkan, bukan hanya soal kedigdayaan, mereka juga berjejaring dan lebih sering berkomunikasi menggunakan kode dan sandi-sandi tertentu untuk mengelabui para pendekar hukum.

Belakangan beberapa sandi yang sering mereka gunakan terbongkar dan ternyata sandi-sandi tersebut, justeru akrab dengan kehidupan orang-orang baik, mungkin tujuannya untuk mengelabui. Seperti, juz, liqo', pustun, jawa syarkiyah, apel malang, salak bali, dan beberapa sabdi yang lain.

Jika dahulu kala, ilmu kesaktian seperti Aji Waringin Sungsang, Ilmu Halimun, Selimut Kabut, Bayangan Seribu, Ajian Malih Rupa, dan beberapa ilmu kesaktian lain, digunakan secara personal tanpa menumbalkan orang lain sebagai tameng, maka sekarang perkembangan kesaktian itu jauh lebih hebat.

Berdasarkan beberapa sumber, dulu Aji Waringin Sungsang dan Ajian Malih Rupa diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk kebaikan dan filosofisnya tak lepas dari ajaran Alqur'an, meskipun pada akhirnya Ajian Waringin Sungsang populer dalam serial sandiwara radio Saur Sepuh digunakan oleh dua tokoh jahat Kijara dan Lugina yang mengalahkan Ilmu Serat Jiwa milik Brama Kumbara.

Di tangan Kijara dan Lugina, Ajian Waringin Sungsang digunakan untuk mengisap seluruh kekuatan lawan dan menghancurkannya. Kiwari, meski tak sama persis  dengan Waringin Sungsang, ilmu kesaktian para koruptor tak kalah hebatnya,  mereka bahkan tak hanya menyerang perorangan atau satu kelompok musuhnya, melainkan bisa menyerang satu negara, mengisap uang negara dan menghancurkannya. Ajaibnya, pada level tertentu, ilmu mengisap harta negara ini bisa dilakukan berjamaah, dengan melibatkan anak dan istri serta kerabat lainnya.

Tak hanya itu, rata-rata pemilik Ajian Waringin Sungsang di era mutakhir ini, biasanya menggunakan Ajian Waringin Sungsang sepaket dengan Ajian Malih Rupa. Ajian Malih Rupa adalah ajian yang bisa mengelabui banyak orang, sehingga sehabis menguras harta negara mereka tetap terlihat sebagai orang baik-baik.

Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, Ajian Waringin Sungsang tidak digunakan secara berbarengan dengan ilmu yang lain, sehingga sangat mudah diidentifikasi jejaknya. Meski, tetap saja para penjahat ini tak bisa diremehkan kesaktiannya, karena memiliki ilmu Selimut Kabut, Halimun atau sejenis ilmu menghilang lainnya.

Sebutlah beberapa di antaranya yang termasuk dalam kategori sempurna menguasai ilmu menghilang ini, Satono mantan Bupati Lampung Timur yang hingga kini tak tercium baunya, alih-alih diketahui jejaknya, para mafia BLBI dan beberapa koruptor kelas kakap, Alay, yang barangkali penguasaannya belum cukup sempurna,  sehingga dalam beberapa kesempatan sempat tertangkap, meskipun akhirnya bisa lepas lagi.

Sedangkan untuk contoh penggunaan Ajian Waringin Sungsang dan Aji Malih Rupa ada banyak yang bisa dideteksi, tetapi sepertinya tidak ada di kota ini. Saya seperti yakin pejabat-pejabat di kota ini adalah orang-orang baik dan terhormat, pastilah orang baik dan terhormat kelakuannya juga baik dan terhormat.

Oh ya, terkadang Aji Malih Rupa ini gagal pemakaiannya ketika digunakan secara sembrono, sehingga tak jarang justeru pemakainya yang sering terkelabui, merasa seperti terhormat tetapi sebenarnya memalukan atau tak tahu malu.