Kehormatan Palsu, Diburu dan Didaku

- March 31, 2018

Kehormatan Palsu, Diburu dan Didaku

Di suatu siang,  ketika hendak menjemput anak, di pelataran parkir sekolah, saya bertemu kawan lama yang juga sedang menunggui anaknya, lama tak bertemu, menjadikan kamu saling mengingat dan mengenangkan  aktivitas selama masa kuliah dulu.  Kawanku ini tak banyak berubah, relegius dan ahli dakwah, setidaknya begitu aku memahami dari pendapat dan caranya menilai masalah di sekitarnya, yang merasa prihatin dengan kondisi sekitar yang sekali lagi menurutnya semakin jauh dari jalan kebenaran, sehingga perlu dibenahi.

Tak terasa obrolan singkat tersebut akhirnya harus diakhiri, karena anak-anak kami sudah keluar, dan aku juga masih harus menjemput putra pertamaku yang sekolah di tempat lain. Namun, sebelum berpisah kawanku ini berpesan agar aku memotong rambutku, yang memang sudah terlihat panjang, sembari ia memberi alasan agar terlihat lebih santun dan terhormat, tidak seperti preman.

Di tempat lain, seorang kawan lain yang merasa telah berhasil dan sukses, menuliskan kata-kata di media sosial, “Saya tidak akan pernah biarkan mereka merendahkan saya, dan kinilah saatnya pembuktian itu,” begitulah kurang lebih pesan yang hendak disampaikan. Usut punya usut, kawan ini baru saja mendapat pekerjaan sebagai tenaga ahli wakil rakyat di Senayan, bertugas sebagai tukang catat agenda dan jadwal si wakil rakyat.

Sombong seolah-olah menjadi saudara kembar kehormatan, meski kesombongan terlahir dari banyak rahim, berpenampilan lebih relegius, mendapatkan pekerjaan atau jabatan penting dan memiliki uang lebih banyak, membuat setiap orang merasa telah mendapatkan prestise dan tempat terhormat di tengah-tengah masyarakat.

***

Dua fenomena di atas menjelaskan bahwa kehormatan itu selalu diukur dengan, penampilan, materi dan jabatan. Maka tak heran, ketika seorang artis dengan moralitas buruk atau pejabat yang rapi, bersih dan tampak berwibawa, selamanya akan tetap menjadi idola dan tokok publik, ketika dia mampu menjaga penampilan, rapi, wangi dan berharta, meski tindakannya tidak sesuai norma atau mendapatkan harta dari hasil korupsi. Pun, demikian halnya dengan petani, kuli dan kaum buruh, selamanya mereka akan menjadi kelas sosial paling bawah, karena mereka sampai kapanpun tidak akan pernah bisa ke salon untuk memoles wajah atau membeli parfum mahal agar tercium wangi.

Kehormatan dalam konteks ruang  dan waktu di sini dan kini, bukan lagi soal kemuliaan hati dan keluhuran budi. Kedermawanan juga bukan lagi soal ketulusan memberi tanpa diketahui banyak orang, kedermawanan adalah soal berapa banyak materi yang diberi dan seberapa luas informasi kedermawanan itu disebar, tak laku lagi ada istilah bahwa orang baik tak boleh tunjuk tangan, sebagaimana ajaran Muhammad yang secara verbal sering disebut sebagai teladan, dalam ruang sepi dan tak berisik, memberi dan menyuapi penuh kelembutan seorang Yahudi buta di sudut pasar, padahal si buta tersebut setiap hari berteriak memaki dan menyumpahinya sebagai orang  gila, penipu dan nabi palsu.
Di manapun, ujar Pram, di Jepang, Amerika, Indonesia atau belahan dunia manapun, barangsiapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan, dia tetap terhormat sepanjang jaman.


***

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sangat mudah menemui perilaku penghormatan yang berlebihan terhadap jabatan dan materi. Di sebuah pesta misalnya, akan tampak kelas sosial itu dari cara penyambutan dan penempatan tempat duduk. Begitulah kehormatan itu lazim berlaku. Bahkan di acara-acara keagamaan seperti pengajian, di mana ayat tentang egalitarian, kesamaan derajat dan tak boleh menilai dari penampilan atau jabatan sering dikhutbahkan, para pejabat dan jutawan tetap saja memiliki tempat duduk yang lebih istimewa dari jamaah biasa.

Begitulah kehormatan itu diburu dan didapatkan, didekontruksi kemudian direkonstruksi maknanya secara serampangan, sehingga nilai kehormatan menjadi sangat bergantung kepada seberapa banyak materi dan seberapa tinggi jabatan.  Dan, bisa jadi kita juga adalah bagian yang ikut melestarikan makna kehormatan yang sangat kebendaan dan feodal tersebut, dengan berkerumun melingkar seperti semut mengerubungi gula, atau membungkukkan badan dan memberikan penghormatan berlebihan terhadap mereka yang memiliki kuasa dan uang yang banyak, sebuah penghormatan yang semakin menguatkan kepongahan mereka.

Terhormat, tak tahu diri dan tak punya malu barangkali di era milenial ini memang telah menjadi tak jelas maknanya, buram dan kabur. Etika kadang diukur dengan penampilan, rambut gondrong, celana robek pastilah dinilai tak sopan, tak etis dan tak bermartabat.

Terhormat adalah berpeci, harum, rajin perawatan hingga berwajah kinclong, Maka, janganlah heran, jika pasukan kuning yang pagi buta telah berada di jalanan menyapu dan memungut sampah, dianggap tetap kalah terhormat jika dibandingkan dengan koruptor tahanan KPK, meski mereka sama-sama mengenakan baju berwarna oranye.

Mata lahir kita mungkin jauh lebih dominan dari mata batin. Dulu ketika seorang pimpinan partai politik terciduk melakukan skandal korupsi, maka pembelaanpun datang tak terbendung, dia difitnah, dia dijebak, ada konspirasi besar menjatuhkan. Sekarang, tetap begitu.