Inspirasi Tetangga

- March 13, 2018

Inspirasi Tetangga, Omah1001

Inspirasi bisa diperoleh dari mana saja dan di mana saja. Sebagaimana istilah populer, semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru. Aktivitas harian dari tetangga, obrolan santai di ujung jalan, atau catatan-catatan ringan mereka di media sosial, semuanya bisa menjadi inspirasi, segalanya bisa menjadi sangat bermakna dan sarat pelajaran, jika segala proses dimaknai juga sebagai belajar.

Sebutlah dua tetangga saya ini, X dan Y (tentu saja bukan nama aslinya), keduanya memiliki profesi berbeda, berbeda pula jenis kelamin, keduanya idola sekaligus guru kehidupan saya, meskipun keduanya tentu tak pernah tahu dan merasa telah mengajari saya banyak hal, tentang ketegaran, keteguhan sikap dalam menghadapi masalah dan bagaimana menikmati hidup, tanpa harus menjadi atau seperti mereka, karena setiap orang memang memiliki jalannya sendiri.

"Bahagia itu justeru ketika sukses menjadi diri sendiri, bukan menjadi orang lain. Ada banyak orang yang ingin seperti si A, si B setelah menjadi Si A dan si B ternyata gagal bahagia. Orang yang selalu terobsesi menjadi seperti orang lain itu, selamanya akan menjadi bayang-bayang," begitu bunyi nasihat yang masih lekat dalam ingatan.

Begitulah juga yang ku alami dengan para tetangga. Meskipun mayoritas mereka memiliki profesi yang sama sebagai petani, tetapi mereka memiliki kehidupan masing-masing dan tentu tak seorangpun yang ingin menjadi duplikat lainnya. Dan sementara ini saya melihat mereka semua nyaman dengan kehidupannya masing-masing.

Saya tak pernah mendengar kata-kata, "enak ya jadi si A," atau "kamu sih enak, kerjanya ini...",  justeru yang sering saya dengar malah ungkapan-ungkapan sebaliknya, "saya kalau sedang banyak uang, biasanya makannya tahu dan tempe, tetapi ketika sedang paceklik biasanya makan ikan..." atau "sesusah-susahnya saya ini, ya tetap makan. Singkong, sayur, pisang ya tanam sendiri, ikan ya kolam sendiri..."

Loh, kok bisa? Tahu dan tempe biasanya beli, sedangkan ikan adalah hasil kolam sendiri. Begitulah, jalan hidup setiap orang memiliki keunikan masing-masing, dan mereka mensyukuri jalan hidup itu.

"Setiap manusia hidup selalu dihadapkan dengan masalah-masalah hidup. Setiap orang memiliki kesulitan hidupnya masing-masing, tak ada satupun manusia dalam hidupnya melulu senang!" Ujar Mas X, di suatu pagi, ketika kami sama-sama duduk menjaga parkir di sebuah hajatan tetangga.

Mas X bercerita tentang banyak hal, mulai pertama kali merantau dari Jawa ke Lampung ketika masih berumur 5 tahun, hingga lika-liku perjalanan hidup yang harus dijalaninya dengan penuh keterbatasan.

"Orang tua saya hanya mengajarkan, jalani hidup dengan maksimal dan penuh keyakinan.  Tak boleh pesimis, semua sudah ada jalannya. Dan ternyata, ada banyak hal-hal yang di luar akal bahkan tak masuk akal sama sekali terjadi dalam hidup saya, seperti keajaiban. Adik saya yang bungsu bisa menyelesaikan kuliah hingga jenjang tertinggi, dan sekarang bekerja di kantor bea cukai," kenang Mas X yang menyelesaikan kuliahnya di Dharma Wacana, dan tetap memilih menjadi petani.

Mas X juga menuturkan, bahwa setiap orang pasti pernah mengalami kesedihan, kepeningan dalam menjalani hidup, sebagaimana semua orang juga pernah mengalami kebahagian dan suka cita, dalam kadar dan levelnya masing-masing. Ia mengakui, bahwa ia pun mengalami hal tersebut.

"Bahkan, jika mau jujur setiap hari bahagia dan sedih itu datang silih berganti, selalu saja ada alasan untuk pening sebagaimana juga selalu ada alasan untuk bahagia. Bedanya, barangkali ada yang mengeluh dan menampakkan kesedihannya, ada pula yang berpura-pura bahagia padahal sebenarnya pusing dan sedih, dan ada pula yang apa adanya." Jelas Mas Y sembari mengambil segelas kopi hitam yang mulai dingin.

"Tetapi, ada pula yang peningnya dibuat sendiri," tambahnya tertawa.

Lain cerita Mas X, lain pula cerita Mbak Y, seorang ibu rumah tangga yang juga tetangga saya, mengaku dulunya sering diremehkan dan disepelekan. Tak sedikit cibiran yang pernah ia terima, tentang usahanya berjualan online dan berbisnis jaringan. Usaha yang kini sukses mengantarkannya keliling Eropa dan hidup lebih dari cukup.

"Kita tidak pernah tahu usaha ke berapa yang akan berhasil, seperti kita tidak akan tahu do'a mana yang akan dikabulkan, maka perbanyaklah keduanya," tulisnya di media sosial sebagai motivasi untuk terus bekerja dan berdo'a.

Cibiran bagi Mbak Y bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan cambuk untuk terus semangat dan terus berusaha, hingga tiba masanya untuk pembuktian.

Mas X dan Mbak Y hanyalah dua orang dari sekian banyak tetangga saya yang menjadi guru kehidupan, soal konsistensi dan ketekunan berkarya, tentang cara terbaik menikmati hidup. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia dengan caranya masing-masing.

Tak perlu sama, tetapi bisa sama-sama bahagia. Tak perlu juga mengingkari masalah dan kendala hidup dengan berpura-pura senang terus, karena menurut Mas X itu bohong, "jangan-jangan itu bukan kenyataan hidup, melainkan hanya mimpi indah."

Begitulah hidup.

Sesungguhnya apa yang para tetanggaku sampaikan itu, sejalan dengan pesan suci agama, bahwa tiada satupun kehidupan yang lepas dari masalah dan cobaan, manusia yang baik adalah manusia yang jika diberikan limpahan anugerah dan kemudahan hidup maka ia bersyukur, sedangkan tatkala ia ditimpa musibah dan kesulitan hidup, ia pun tabah, sembari  mengucapkan, "semuanya dari dan akan kembali kepada yang Empunya."

Hidup semuanya baik, meski tak semuanya indah (karena ada juga Joko, Agus dan Bowo) dan tentu tak semuanya juga menyenangkan, namun haram diratapi.