HPI, Perempuan dan Alam

- March 08, 2018

Hifni Septina Carolina, Omah1001

Hari ini seluruh dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women's Day). Peringatan yang pertama kali digelar pada 28 Februari 1909 di New York, Amerika Serikat, peringatan ini diinisasi oleh Partai Sosialis Amerika Serikat untuk mengenang setahun berlalunya demonstrasi perempuan pekerja pabrik garmen, yang menuntut hak berpendapat dan berpolitik, pada 8 Maret 1908.

Penetapan tanggal 8 Maret sebagai peringatan Hari Perempuan Internasional (HPI) melalui proses yang panjang, mulai dari pertemuan 100 perempuan mewakili 17 negara di Kopenhagen pada tahun 1910, berlanjut pada tahun berikutnya pada 19 Maret 1911 diperingati di Austria, Jerman, Swiss dan Denmark, melibatkan lebih dari sejuta perempuan dan laki-laki. Pada kurun waktu 1913-1914, HPI digunakan sebagai gerakan penolakan Perang Dunia I di sejumlah negara Eropa.

Di akhir bulan Februari tahun 1917, para perempuan di Rusia memprotes perang dengan gerakan bertajuk "Roti dan Perdamaian" dan pada tanggal 8 Maret 1917 atau 4 hari setelah aksi protes tersbut, Tsar Rusia memberikan hak memilih untuk perempuan.

Rentetan panjang perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak-haknya tersebut, baru ditetapkan sebagai peringatan resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1975, dan sejak saat itulah setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai International Women's Day.

Hubungannya dengan HPI ini, maka menarik untuk menurunkan kolom yang ditulis oleh Hifni Seftina Carolina, yang ditulis 2 tahun lalu dengan judul Perempuan yang Melawan. Artikel ini membincang perlawanan perempuan, hubungannya dengan kerusakan alam. Dengan tanpa mengurangi pesan substansial dari tulisan Mbak Hifni ini, saya berusaha meringkasnya agar lebih pendek, sehingga pembaca mau menyelesaikan untuk membacanya. Berikut tulisan keren Mbak Hifni, yang beberapa bagiannya telah saya potong.

***

Perempuan yang Melawan

Beberapa pandangan menjabarkan bahwa kerusakan alam berbanding lurus dengan penindasan terhadap perempuan, sehingga untuk menjaga bumi maka para perempuan juga harus berdaya. Rosemmary Radford Ruether (1994) mengatakan “perempuan hendaknya memaknai bahwa tidak akan ada pembebasan dan pemecahan masalah ekologi bila model relasi manusia terhadap alam masih berbentuk dominansi”. Sehingga cara pandang manusia terhadap alam semestinya harus dirubah.

Sejak tahun 1970-an, mulai berkembang suatu paham kepedulian perempuan terhadap lingkungan (alam). Mengingat sifat keibuan yang dimiki oleh seorang perempuan yaitu merawat, menjaga, melindungi dan lain sebagainya. Maka sangat cocok sekali jika gerakan perempuan untuk merawat bumi digalakkan, yang dikenal sebagai ekofeminisme. Sebagaimana Rocky Gerung(2015) mengungkapkan feminisme bukan sekedar soal kecerdasan akademis, feminisme pertama-tama adalah soal kecerdasan etis.

Maka peran etika feminisme dalam lingkungan hidup adalah membongkar dan mendobrak dominasi terhadap alam serta menyusun kembali gagasan untuk berdampingan dengan laki-laki menjaga lingkungan secara sinergi dan berkelanjutan. Sebagai seorang perempuan harusnya kita memiliki karakter yang kuat, sehingga etika dan estetika dapat selaras.

Perempuan harus melakukan perlawanan terhadap egosentrisnya, melawan aksi menginjak-injak bunga di tempat wisata seperti yang pernah terjadi di Taman Bunga Amarylis, Patuk Gunung Kidul dan di Taman Bunga Raya Batu Raden, Banyumas, melawan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat, melawan untuk tidak bersifat hedonis di manapun, melawan untuk tidak menambah sampah di bumi, melawan untuk tidak mengonsumsi pangan berlebih, melawan untuk tidak meningkatkan cost demi gaya hidup yang tidak murah, melawan untuk tidak berlebihan dalam menggunakan air maupun energi, melawan tindakan yang menyebabkan krisis ekologi yang lebih parah, melawan jika kelangsungan hidup anak cucu yang akan dipertaruhkan kelak.

Dengan bermacam perlawanan tersebut, maka seorang perempuan telah mengambil peran merawat “ibu bumi” atau bahkan menjadi pioner, di saat para laki-laki justru tidak peduli dan terjebak dalam kepentingan kapitalisme dan industrialis.

Ada sejumlah perempuan yang berhasil melakukan perlawanan atau perubahan untuk lingkungan, baik di dunia maupun Indonesia. Julia Hill (1997), aktivitis lingkungan ini tinggal selama kurang lebih 738 hari di atas pohon setinggi 60 meter, berjuang keras menyelamatkan pohon redwood di California Utara dari usaha penebangan sebuah koorporasi. Dia melakukan apapun aktifitasnya di atas pohon, dengan satu tujuan yaitu menjaga hutan redwood. Aksi nekat yang dilakukan oleh seorang perempuan ini membuahkan hasil dengan gagalnya penebangan hutan yang dirimbuni pohon redwood berusia puluhan tahun.

Selanjutnya, perempuan-perempuan Indonesia tak sedikit yang memberikan contoh dan teladan bagi kita, untuk melawan dan mengupayakan keadilan ekologis, sebut saja misalnya perjuangan mama Aleta Baun dalam menentang invansi tambang Marmer yang mengancam pegunungan Mutis di Nusa Tenggara Timur (NTT), sangat perlu diteladani. Beliau mengadvokasi para penduduk untuk melakukan perlawanan terhadap pembukaan tambang marmer di wilayah suku Mollo selama kurang lebih 11 tahun. Dengan kegigihannya mempertahankan tanah leluhur dan membangun solidaritas masyarakat, telah membawanya memperoleh penghargaan ‘Goldman Enviromental Prize 2013’.

Perempuan lulusan SMA ini hanya berbekal kemauan, keberanian dan kepedulian untuk berjuang mengusir pengusaha tambang. Dengan memegang teguh kepercayaan adatnya yaitu“batu adalah tulang, hutan adalah rambut, tanah adalah daging, dan air adalah darah”. Dan semua makhluk hidup memerlukan semua unsur itu dari alam, sehingga tidak diizinkan siapapun bahkan koorporasi manapun datang dan merusak tatanan alam yang ada untuk sebaik-baik kebutuhan suku Mollo.

Perjuangan serupa juga ditunjukkan oleh para ibu di Lereng Pegunungan Kendeng bagian Utara, Rembang, Jawa Tengah. Mereka melakukan perlawanan atas rencana pendirian pabrik semen di wilayah yang meliputi empat kecamatan, Sukolilo, Kayen, Gabus dan Margorejo. Mereka khawatir pembangunan pabrik semen akan menghancurkan mata pencaharian mereka sebagai petani. Gunarti, merupakan salah satu dari pejuang masyarakat adat Sedulur Sikep dari desa Sukolilo, Pati, Jawa Tengah.
Masyarakat adat Sedulur Sikep meyakini bahwa ada 5 rukun yang harus dijalankan yaitu 1) rukun dengan suami/istri, 2) rukun dengan anak, 3) rukun dengan orangtua, 4) rukun dengan saudara, 5) rukun dengan semua makhluk yang ada di bumi. Dan pegunungan Kendeng dianggap sebagai soko negoro (tiang negara) yang menjadi sumber mata air penghidupan dan pertanian mereka. Dengan adanya pertambangan pabrik semen tersebut maka sama saja dengan membunuh mereka secara perlahan, masyarakat akan mengalami krisis air bersih, krisis udara bersih dan mungkin terjadi masalah kesehatan seperti sesak nafas dan sebagainya.

Di Desa Banggai, Sulawesi Tengah, ada seorang perempuan aktivis konflik agraria bernama Eva Bande yang berjuang membersamai petani melawan pengusaha perkebunan kelapa sawit. Perkebunan tersebut melakukan tindakan semena-mena dengan merampas hak tanah adat, sawah dan lain-lain.

Ibu dari tiga anak itu,  sempat diperkarakan dan masuk bui selama kurang lebih  satu tahun setelah kemudian dibebaskan karena mendapat grasi dari Presiden Jokowi. Perempuan ini tergerak hatinya untuk membela kelompok tani dengan mengajak dan memotivasi petani untuk mengalahkan rasa takut pada aparat bahwa merekalah yang punya hak atas tanah adat tersebut. Sampai saat ini, kelompok tani terus bergerak bersama Eva Bande memperjuangkan hak mereka.

Selanjutnya di Sumatera Utara ada Rusmedia atau Opung Putera (panggilan adat), petani kemenyan yang berjuang menghidupi keluarganya dengan 12 anak, melawan pengusaha yang bekerjasama dengan pemerintah akan merusak hutan leluhur mereka, yang menyebabkan penghasilan petani kemenyan menurun dan lingkungan juga memburuk. Opung Putera bergerak bersama masyarakat sekitar untuk melawan kelaliman pengusaha tersebut.

Di Garut, Jawa Barat ada Nissa Wargadipura, seorang perempuan yang mendirikan Pesantren Ekologi Ath-Thariq dengan tujuan menghasilkan ketahanan pangan. menggiatkan pertanian organik dengan memanfaatkan tanah hibah seluas 0,75 Ha bersama santri dan warga sekitar. Nissa mengajak untuk menanam lebih banyak jenis tanaman, menanam benih lokal yang lebih sesuai dengan struktur tanah di Indonesia dan dengan mudah dapat dibuat sendiri oleh para petani, dan menolak menggunakan pupuk atau pestisida kimia dan beralih menggunakan pupuk organik, meskipun yang tersedia hanyalah pupuk kandang.

Beberapa contoh perlawanan tersebut, hanyalah beberapa contoh perlawanan dan perjuangan perempuan di beberapa daerah di Indonesia.Dan mungkin masih banyak lagi gerakan perempuan di pedesaan maupun daerah pinggiran yang pembelaanya terlihat lebih nyata terhadap kerusakan lingkungan.

Dalam masyarakat yang menjadikan alam dan tanah sebagai sumber kehidupan, di mana hubungan yang tercipta tidak material, terjalin interkoneksi yang intim antara bumi dan masyarakatnya (Shiva, 2005).Sedangkan di negara kita, pembangunan justru dijadikan alat untuk mengejar materialisme, sehingga relasi manusia dengan alam semakin pragmatis. Oleh karena itu, ekofeminisme sebagai gerakan sosial yang hadir untuk menanggapi krisis ekologi, sekaligus kritik terhadap pembangunan yang tidak memperhatikan keberlanjutan ekologi serta mengesampingkan salah satu entitas manusia yaitu: perempuan.

Selamat Hari Perempuan Internasional,  ayo perempuan Indonesia, sadar dan melawanlah!!!

Penulis Hifni Septina Carolina, Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro (UMM)