E-Book: Orang Asing

- March 25, 2018
E-Book: Orang Asing Albert Camus, Omah1001

Orang Asing (L’Etranger) adalah novel pertama Albert Camus (1913- 1960). Begitu terbit pada tahun 1942, seketika novel ini membuat dia dikenal dan diakui sebagai seorang pengarang besar. Berbagai buku dan artikel kritik kemudian bermunculan, susul-menyusul, mengulas novel ini. Di pertengahan abad XX itu, novel pendek ini memperlihatkan kekuatan dan kebaruan dalam banyak hal, yang kesemuanya penting dalam sejarah kesusastraan Prancis, meskipun bentuknya yang diptik–terbagi dalam dua bagian yang seimbang–sangat klasik. Memang untuk itu merupakan bentuk andalan dalam tradisi penulisan roman Prancis.

Novel ini pertama-tama terkenal sebagai perwujudan dari pemikiran Albert Camus tentang filsafat absurd yang telah ditulisnya sebelum itu, dalam bentuk kumpulan esai berjudul Le Mythe de Sysiphe. Absurd adalah suatu pandangan hidup yang khas, bisa dikatakan tropis, yang hanya mungkin digagas oleh orang Eropa, atau orang Barat pada umumnya, yang pernah tinggal di negara tropis. (Pembaca Indonesia akan segera mengenali kecenderungan manusia tropis dalam novel ini, yang eksotik bagi pembaca Barat) Sebagaimana diketahui, Albert Camus memang lahir di Mondovi pada tahun 1913, dan dibesarkan di Aljazair. Dari novel ini lahir ungkapan bahwa “la vie ne vaut pas la peine d ‘etre vecue”’ hidup tak layak dijalani, tentu dalam kaitan dengan absurditas kematian di mata Barat. Kebesaran manusia absurd terletak pada kesadarannya yang jernih atas kondisi hidupnya.

Orang Asing mengandung tema-tema kuat secara konsisten. Keasingan mendominasi keseluruhan cerita. Meursault, tokoh utamanya, terlihat asing dalam segala hal. Dia bukan hanya seorang asing di Aljazair, tetapi juga asing terhadap kebudayaan, tepatnya tata cara masyarakatnya, asing terhadap dunia, asing terhadap waktu, bahkan asing terhadap dirinya sendiri. Germaine Bree menulis buku yang menarik tentang hal itu. Matahari, juga mendampingi tema “asing” sebagai pelaksana “takdir” yang menggiring tokoh utama ke dalam malapetaka. Dan takdir terus-menerus membayangi sang tokoh yang peka dalam pikiran dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya, dalam hubungannya dengan orang lain dan alam.

Buku ini juga mengungkapkan keprihatinan Albert Camus mengenai hukuman mati, yang ia perjuangkan penghapusannya. Di samping pokok permasalahan itu, tentu saja novel ini merupakan satir yang telak pada kinerja pengadilan yang serbarutin dan serbatata-cara, tapi tak benar-benar melihat permasalahan kejahatan secara adil. Hal itu masih dibebani oleh hakim yang beranggapan dirinya religius, dan mencampuradukkan masalah iman dalam menjalankan tugasnya untuk mewujudkan keadilan.

Silahkan download di sini.