Distilasi Alkena, Untuk Mereka yang Pandai Mengikhlaskan

- March 04, 2018

Distilasi Alkena, Untuk Mereka yang Pandai Mengikhlaskan

 "Asu!" Umpatku dalam hati, begitu kali pertama membuka halaman-halaman awal novel alay ini. Sumpah, demi semua manusia yang tak menyukai buku, aku sama sekali tak punya niat untuk membaca buku ini hingga selesai. Namun, pilihan-pilihan diksinya yang menyeretku secara paksa menjadi seperti remaja, mengenang hujan dan senja masa-masa usia 17-an, membuatku tak sadar dalam hitungan waktu kurang dari sejam, telah berada di halaman terakhir.

Novel ini sungguh mengingatkanku pada kebiasaan menuliskan surat untuk kawan ketika masih di pesantren dulu, tentang kawan yang sedang kepayang kepada adik kelas. Belasan surat dikirim lewat lipatan buku, atau diselipkan di balik mushaf al Qur'an, namun entah berapa kertas harum bercorak gambar aktor ganteng Jimmy Liem atau Aaron Kwok habis, namun tak pernah digubris sang gadis, alih-alih berbuah manis.

Semakin lama, hanya desir rindu yang melanda. Sampai remuk menelusup relung, hingga perih mengiris rusuk yang berkabung, di sini cerita tentangmu akan tetap utuh untuk bernaung. (hal. 19).

Itu benar-benar kata-kataku yang ku gores dengan segenap keperihan, seolah hendak ikut berduka atas nasib kawan yang cintanya tak kunjung diterima. Meski kala itu, pesimisme tetap saja ku garami dengan optimisme. Tak mengapa, cinta tak berbalas, karena bagiku engkau mau menerima surat ini, telah melebihi kebahagiaanku naik kelas. Kala kau terus melangkah menjauh dariku, tak perlu menengok ke belakang, sisakan saja jejakmu, agar surat-suratku tetap sampai di tujuan.

Maaf, aku hanya sedang membuka kembali memori yang mengalun dan terhentak akan kenangan menahun. Untukmu masa lalu, terimakasih atas lakumu nan anggun.

Meski, kawanku tak sesial kisah cerita penulis di novel ini, karena entah di surat ke berapa puluh, akhirnya jawaban yang ditunggunya tanpa lelah, di satu waktu selepas magrib, datang menyelinap di balik majalah, bersampul merah muda. Surat itu dibacanya berkali-kali hingga pagi. Cintanya diterima, menjelang 3 bulan sebelum kelulusan.

Wira Nagara, penulis novel Distilasi Alkena; Denganmu, Jatuh Cinta Adalah Patah Hati Paling Sengaja adalah komika lulusan SUCI 5, penampilannya memang ngesselin dan bikin gemes sekaligus mellas, hingga tak tega untuk memarahinya, meski berulang-ulang membuat jengkel.

Setelah sukses membuat jumpalitan ingatanku ke masa lalu, mengenang perihnya perjuangan kawan, ternyata tak membuat novel karya Wira ini berhenti. Di bagian Difraksi Kafsaisin, ia mengoyak memori hingga tulang rusukku. Kali ini bahkan bukan hanya kenangan tentang kawan, tetapi dengan cekatan ia menyinyiriku. Mencintai dalam diam.

Rinduku adalah barisan tanpa titik koma. Ia menyadur dalam resah, membuku dalam gelisah, kemudian terbit dalam lantunan doa pasrah, (hal. 63).

Begitulah novel ini, meski menggunakan istilah-istilah kimia rumit yang berhasil dijelaskan, secara piawai penulisnya juga mengaitkan dengan apa yang akrab dengan suasana hati para remaja. Al hasil, novel ini sangat refresentatif untuk mewakili perasaan semua orang. Merekam setiap peristiwa, seakan semua mengalaminya, menjadi tokoh dari setiap cerita yang ada di dalamnya.

Maka, sekali lagi atas nama semua orang yang membenci buku, tak menyukai bacaan dan sedang patah hati, lama menjomblo serta cintanya selalu bertepuk tangan, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca, tetapi sebelumnya, jauhkan tali, silet, pisau, obat nyamuk cair dan segala jenis benda keras, serta dilarang membaca di ketinggian. Doaku, setelah membaca buku ini, menjadi titik awal tumbuhnya cinta. Mencintai buku!

Satu-satunya kekurangan novel ini adalah, ia tak layak dibaca oleh usia 30-an ke atas, terkhusus mereka yang tak pernah memiliki masa lalu. Tak punya kenangan berjuang untuk mendapatkan cinta, tak pernah memiliki air mata yang tergenang kala senja. Menikmati pantulan cahaya senja di atas laut, yang kemudian pudar dan berganti gelap.

Sekali lagi, buku ini jelek bagi mereka yang tak pernah punya masa lalu alay, lebih jelek lagi bagi mereka yang tak punya masa depan.

Wira Negara, Omah1001
Ini adalah wajah Wira, si Penulis yang ngesselin itu.

Data Buku :

Judul : Distilasi Alkena; Denganmu, Jatuh Cinta Adalah Patah Hati Paling Sengaja
Penulis : Wira Nagara
Penerbit : Media Kita
Tahun Terbit : 2016
Tebal : 172 Halaman