Cadar dan Radikalisme

- March 07, 2018

Cadar, Omah1001

Pertama, saya ingin menyampaikan dan mendudukkan soal pelarangan menggunakan cadar oleh Rektor UIN Suka Jogja dalam konteks bahwa pelarangan tersebut bertujuan untuk mencegah radikalisme. Konsteksnya berbeda dengan pelarangan jilbab di era Soeharto. Jadi, agak berlebihan ketika ada yang menuding bahwa pelarangan tersebut adalah upaya membonsai syi'ar Islam.

Kedua, bahwa hukum menggunakan cadar. Semua Imam Mazhab sepakat bahwa sesungguhnya hukum memakai cadar tidak wajib, tetapi dibolehkan, bahkan sebagiannya menganjurkan, terutama untuk menghindari pandangan laki-laki yang berpikir jorok dan cabul.

Ketiga, cadar tidak boleh digenarilisir sebagai simbol radikalisme dan terorisme, karena sesungguhnya cadar telah ada jauh sebelum istilah terorisme itu lahir dan dilekatkan dengan beberapa simbol agama, salah satunya adalah cadar. Bahkan cadar ada, sebelum Islam datang.

Untuk melacak sumber pendapat ini, silahkan dirujuk beberapa kitab penting seperti, Matan Nurul Lidhah karangan Asy Saranbalali, Ad Dar al Muntaqa karya Al Imam Muhammad 'Ala-uddin, Ahkamul Qur'an karangan Ibnu 'Arabi, Tafsir al Qurtubi Jus 12 karangan Imam al Qurtubi, dan banyak kitab lainnya termasuk Kifayatul Akhyar dan Fathul Qarib. Beberapa kitab tersebut bisa dibaca dan didapatkan aplikasinya secara online-gratis. Dan ada banyak aplikasi penerjemah, jika kesulitan memahaminya.

Rata-rata dalil yang dirujuk adalah Qs. al Ahzab ayat 59, dengan tafsir dari beberapa ulama tafsir. Seperti Ibnu Abbas yang menganjurkan penggunaan jilbab menutupi wajah dan hidung, Ibnu Abbas (Jami' Ahkamin Nisa' Juz IV; 513), Qatadah (Jami' Ahkamin Nisa' Juz IV; 514), Abu Ubaidah As-Salmani (Jami' Ahkamin Nisa' Juz IV; 513), dan As-Suyuthi (Hirashah Al Fadhilah, 59).

Namun, tulisan ini tentu saja bukan hendak menabalkan apalagi mengampanyekan cadar sebagai keharusan atau kewajiban. Dalil-dalil tersebut diketengahkan, hanya untuk menegaskan bahwa sesungguhnya para penganut dan pengguna cadar, bukan tak memiliki argumentasi yang kuat atas pilihan menjalankan dan mengekspresikan keyakinan dan ajaran agamanya.

Mengkhawatirkan Cadar

Menurut Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi, sebagaimana ditulis dalam detik.com, 5 Maret 2018, kebijakan melarang wanita bercadar adalah untuk meluruskan paham atau ideologi radikal yang diduga berkembang di kalangan mahasiswi bercadar. Terhadap 42 mahasiswi bercadar di UIN Yogyakarta akan dilakukan konseling, dan jika mereka terkonfirmasi menganut faham radikal, akan diminta untuk mundur.

Niatan Yudian tersebut sangatlah mulia, namun menjustifikasi perempuan bercadar sebagai radikal dan teroris tentu saja memiliki argumentasi yang dangkal, karena ada banyak faktor dan alasan di balik pemakaian cadar.

Saya memiliki beberapa saudara perempuan yang mengenakan cadar, dan saya memahami alasan-alasan pribadi yang mereka ajukan. Toh, sepangjang pengamatan saya, mereka juga bergaul dan bersosialisasi dengan baik, bahkan dalam beberapa kali diskusi, mereka juga mengajukan beberapa keberatan dan perbedaan dengan kelompok salaf, kelompok yang seringkali diidentifikasi sebagai kelompok wahabi.

Beberapa kelompok, seperti LDII, Jama'ah Tablig (Jaulah), Syi'ah dan beberapa kelompok lain tak sedikit juga jama'ah perempuannya menggunakan cadar, padahal secara umum, pemahaman antara kelompok-kelompok tersebut dengan kelompok 'wahabi' terdapat banyak perbedaan.

Oh, ya, kenapa wahabi yang saya sebut? Karena kelompok wahabi inilah yang sering mendapat tudingan sebagai pelaku teror atau penyuplai teroris serta penabur virus terorisme.

Saya secara pribadi, sejak belajar di pesantren telah beberapa kali terlibat dalam diskusi terkait persoalan cadar, simpulnya para santri yang dilatih berdebat dan berdiskusi dalam forum munadzarah bersepakat bahwa bercadar itu boleh dan tak wajib. Dan para ustadz kami pun tak menganjurkan, juga tak melarangnya.

Ala kulli hal, melekatkan radikalisme dan terorisme dengan simbol-simbol cadar, jenggot, sorban dan simbol-simbol lain yang gencar digunakan oleh para pelaku dan tersangka terorisme sangatlah berbahaya, karena bisa jadi penggunaan simbol-simbol itu oleh kelompok-kelompok radikal tersebut bukan nir-kepentingan, salah satunya yang patut dicurigai adalah mencitrakan negatif Islam dan umat Islam.

Mencurigai cadar sebagai bagian dari gerakan radikalisme dan teror, hampir sama naifnya dengan mencurigai pakaian perempuan yang seksi sebagai biang birahi dan syahwat para laki-laki yang pada dasarnya memang biadab dan bejat.

Kadangkala kita nyinyir, melihat kelompok-kelompok yang mengenakan gamis panjang, bercadar dengan kata-kata, "apa tidak panas, sumuk?", "apa tidak ribet dan repot?", hal yang sebenarnya masalah privasi dan bukan urusan kita, toh sejak kapan juga kita begitu sangat peduli dengan keribetan orang lain.

Maka, meski mengeluarkan aturan adalah kewenangan UIN Suka Jogja, membuka ruang diskusi sepertinya adalah langkah paling strategis dan arif menyikapi ragam pendapat soal cadar, mulai ragam perspektif teologis maupun perspektif soal hak dasar mengekspresikan keberagamaan dan keyakinan, terlebih UIN Suka Jogja adalah lembaga akademis yang menjunjung tinggi sikap ilmiah dan sikap menghargai kebhinekaan.

Jika, kemudian terbukti bercadar memicu sikap intoleran, radikal dan teror, maka tak ada toleransi untuk semua gerakan intoleran, yang bentuk-bentuk sikapnya bisa diukur dari kebiasaan menyesatkan, mengkafirkan, dan vonis-vonis sejenis lainnya.