Aroma Karsa, Antara Obsesi dan Keserakahan

- March 27, 2018
Aroma Karsa, Antara Obsesi dan Keserakahan, Dee, Omah1001


"Gila! Entah seliar apa imajinasi Dee Lestari, masalah 'bau' saja, bisa jadi novel sekeren ini!" Begitu yang terlintas di benakku, sesaat ketika aku menuntaskan membaca Aroma Karsa, novel terbaru karya Dee Lestari setebal 696 halaman ini.

Konon, membaui adalah aktivitas indera penciuman pertama manusia. Aroma bisa melemparkan orang dengan kuat pada sebuah kenangan tentang seseorang, membuat terdiam dan hening beberapa saat, berhasil menyusun kepingan-kepingan tentang masa lalu, tanpa bisa memverbalkannya, walaupun begitu membaui adalah hal yang paling sulit diungkap secara verbal dan kebahasaan.

Kesulitan menarasikan bau secara panjang lebar itulah, yang menjadi 'kegilaan' Dee Lestari dalam novel ini.

Bak peracik parfum yang handal, seperti tokoh Jati Wesi dan Suma dalam novel Aroma Karsa ini, Dee Lestari sangat pialang meracik beragam unsur, mulai dari bau sampah di TPA Bantar Gebang, perusahaan parfum, petualangan di Gunung Lawu, serpihan legenda kuno Majapahit, makhluk gaib hingga percik aroma percintaan yang mengaduk-aduk perasaan.

Bermula dari kisah Janirah si Pencuri (hlm 1-13), Raras Prayagung mendapati lontar kuno bersama sebotol berisi cairan dari bunga Puspa Karsa yang dicuri Eyang Putri-nya dari keraton, cerita dalam novel ini diracik, aromanya menyebar hingga pelosok negeri, tak kurang dari 10 eksemplar terjual sebelum cetak.

Di lembar-lembar awal, Dee sudah menyampaikan pesan yang kuat terkait dengan mencuri. Mencuri bukan sembarang, mencuri yang benar-benar berarti, membagikan faedah bagi orang banyak. Mencuri laku yang meski tak dibenarkan, di tengah keterbatasan dan kepapaan niscaya dilakukan, tetapi tetap harus menghitung manfaatnya.

Puspa Karsa, barang curian yang berharga itu, berhasil merubah keturunan Janirah hingga tatanan teratas, memberi manfaat untuk banyak orang, namun di sisi lain Puspa Karsa lazimnya materi, harta dan kekuasaan yang tak pernah cukup untuk dicari dan direbut, sukses melanggengkan obsesi keserakahan duniawi.

Puspa Karsa, titik awal petualangan narasi Aroma Karsa dimulai. Raras Prayagung yang merupakan cucu Janirah, mulanya menganggap cerita si Eyang Putri adalah dongeng semata, berubah menjadi orang yang sangat ambisius. Setelah sukses menciptakan beragam aroma untuk memuaskan hidung-hidung borjuasi, terobsesi untuk menemukan Puspa Karsa di puncak Gunung Lawu, ambisi telah membuatnya abai dan tak lagi mengindahkan norma.

Ketika perburuan Puspa Karsa dimulai, Raras Prayagung melibatkan peneliti, akademisi, tentara, profesional hingga juru kunci Gunung Lawu.  Namun, Ekspedisi Puspa Karsa pertama gagal! ada banyak korban, Profesor Sudjatmiko seorang peneliti meninggal, sang Juru Kunci juga meninggal bahkan Raras Prayagung juga terkena dampak, ia menderita lumpuh, (hlm. 564 - 592).

Kegagalan itu tidak lantas membuat Raras jera dan mengurungkan niatnya untuk mendapatkan Puspa Karsa. Justeru perburuan lebih matang dirancang, skenario baru dibuat. Dua bayi, Jati (Randu) dan Suma (Malini) dari empat yang mereka tangkap, selain Anung dan Ambrik ketika Ekspedisi Puspa Karsa pertama, dirawat hingga tumbuh menjadi dewasa, selanjutnya dimanfaatkan dan dijadikan alat untuk menjadi penunjuk arah ke tempat Puspa Karsa berada dalam Ekspedisi Aroma Karsa berikutnya (hlm. 310 - 657).

Jati yang diculik oleh seorang pemulung sesaat setelah ibu angkatnya mati, dalam ritual Girah Rudira, tumbuh dan berkembang dengan segala keteguhan bersama bau busuk TPA Bantar Gebang, Bekasi. Hidungnya mampu membaui segala macam bau, dari kotoran manusia, darah, nanah, bangkai, citrus, anggrek, opor ayam, bensin, oli atau gabungan dari semua bau dan memilahnya kembali menjadi bagian-bagian terpisah.

Suma yang didaku menjadi anak, tumbuh dalam kemewahan dan wewangian perusahaan.
Hidungnya mampu membaui segala jenis bau, tetapi sayang tidak seperti hidung Jati yang cukup toleran, mengendus seluruh bau tanpa diskriminasi, hidung Suma terlalu selektif memilih dan memilah bau, termasuk bau wangi sekalipun. Indera penciuman yang sangat tajam tersebut, pada akhirnya menyiksa Suma sehingga mengharuskannya terapi, bergantung dengan obat dan membatasi pergaulannya

Suma dan Jati, keduanya memiliki penciuman ajaib, yang membawa dan membuka jalan ke Puspa Karsa. Menemukan masa lalu mereka, asal muasal dan beragam rahasia tentang kedirian mereka. Puspa Karsa dan penciuman mereka jualah yang akhirnya mengakhiri perburuan obsesi Raras Prayagung.

Secara piawai, di tengah narasi yang lumayan panjang, Dee Lestari juga tak lupa menyelipkan lirisme percintaan Suma dan Jati, percintaan yang memiliki kekuatan mengalahkan ambisi dan keserakahan Raras Prayagung.

Terakhir, jikapun harus memberi catatan minus atas novel ini layaknya peresensi secara obyektif menilai, hanya satu hal yang ingin saya sampaikan bahwa Dee barangkali kurang kuat menyampaikan pesan tentang keserakahan dan kerakusan manusia mengeksplotasi alam, akan berakibat fatal bagi dirinya sendiri, meskipun hal tersebut sebenarnya juga sudah disampaikan.