Teologi Membaca

- February 08, 2018
Najwa - Duta Baca Indonesia
Ilustrasi

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu 
yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam. Dan mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq (96) : 1-5)

Dalam riwayat yang sahih tentang asbab al nuzul Surah al ‘Alaq ayat 1-5 di atas, Malaikat Jibril meminta Muhammad SAW untuk membaca hingga tiga kali. Sirah tersebut sebagai penanda bahwa sejak mula kedatangan Islam, membaca telah menjadi fokus dan keharusan, membaca telah menjadi entry point pengetahuan.

Membaca sebagai perintah pertama yang diterima Rasulullah SAW seharusnya menjadikan kebiasaan membaca sebagai budaya yang tidak terpisahkan dari seluruh ritual umat Islam. Menjadi ironi, umat Islam yang memiliki kesejarahan yang sangat dekat dengan tradisi literasi tetapi justeru berjarak dengan buku dan pengetahuan. Hal tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Islam masih dipahami sebagai ajaran dan ritual, belum menjadi nilai yang menyatu dengan perilaku dan aktivitas hidup umat Islam.

Ayat pertama al Quran yang memuat perintah membaca turun ketika bulan Ramadhan. Mestinya Ramadhan sebagai bulan yang dianggap suci, sejalan dengan keyakinan perintah untuk membaca sebagai  perintah suci, ajaran suci. Ramadhan bisa dijadikan momentum sebagai pijakan awal membumikan kembali tradisi literasi, membaca dan menulis. Ramadhan menjadi moment tepat untuk mengingat dan mentadabburi wahyu pertama yang menjadi titik tolak pengingat pentingnya tradisi literasi, turun di sepuluh akhir Ramadhan tepatnya pada malam lailatul qadar, Nuzulul Quran. Ramadhan sebagai bulan suci, keniscayaan membaca sebagai bagian penting dari bulan suci juga adalah perintah suci.

Nuzulul Quran yang secara harfiah bermakna turunnya bahan bacaan (al Quran) dan iqra yang diartikan dengan bacalah,  ditafsirkan oleh Quraish Shihab dalam Tafsir al Mishbah terdiri dari aktivitas membaca, menyimak, memahami dan meneliti sehingga dimensi perintah membaca tidak melulu dipahami secara sempit dan tekstual.

Membaca Sebagai Ibadah

Membaca sebagaimana diperintahkan dalam surah al ‘Alaq ayat 1 -5 merupakan bagian yang tak terpisahkan dari soal iman dan semangat teologis. Membaca tidak semata-mata sebagai aktivitas lahiriah tetapi juga menjadi bagian ibadah, membaca dalam Islam memiliki pijakan ideologis dan teologis, seorang muslim yang baik semestinya adalah muslim yang membaca dan dekat dengan pengetahuan, pun sebaliknya, jika mayoritas muslim memiliki minat yang rendah terhadap tradisi membaca dan berjarak dengan pengetahuan barangkali itu berkait erat dengan kehampaan teologis, banyaknya muslim yang beragama tanpa dasar.

Perintah membaca dalam Islam sejatinya mengarahkan umat Islam agar mampu membangun peradaban buku, masyarakat yang memuliakan keberaksaraan, muslim yang rasional bukan muslim emosial yang mengandalkan tradisi kelisanan yang dangkal.

Perintah membaca tidak boleh dimaknai sebagai perintah biasa-biasa saja, karena sesungguhnya perintah membaca memiliki semangat revolusioner atas perabadan jahiliyah yang sama sekali tidak mengenal baca-tulis, kendati penulisan al-Qur’an secara sistematis dalam bentuk kodifikasi lengkap baru dimulai pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Fenomena hari ini, umat Islam mengalami keterbelakangan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan karena rendahnya semangat membaca, meski secara kwantitas lebih besar.

Bahkan, saya mengalami dan menyaksikan, ada banyak muslim yang menjalankan agama, keyakinan dan beribadah hanya bermodal semangat dan fanatisme buta, ketika ditanyakan landasan amalan dan ritual keagamaan mereka, mayoritas dipastikan tidak paham dan tidak tahu, dan dengan lugu akan menjawab beginilah tradisi yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang kami atau ada yang menjawab beginilah mayoritas muslim menjalankan agama.

Aktifitas mengaji bersama atau dikenal tadarrus di kalangan umat Islam, harus lebih diarahkan pada pembacaan kritis terhadap teks dan konteks, bukan membaca tanpa memahami, sehingga tidak meninggalkan dan menanggalkan pengetahuan apapun dari apa yang dibaca. Al Quran mengumpamakan orang yang memiliki kitab (bacaan) seperti keledai yang membawa banyak kitab tebal di punggungnya, tetapi tidak mampu memahami dan menangkap makna dari kitab yang dibawanya (Qs. al Jumuah: 5).

Membaca adalah bagian dari proses pembalajaran sangat penting, termasuk menularkan apa yang telah dibacanya dalam bentuk tulisan yang akan menggerakkan lebih banyak manusia untuk membangun spirit literasi. Kedaulatan suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat literasi penduduknya, dan sebagai warga mayoritas sudah seharusnya muslim bertanggungjawab terhadap kemajuan dan kemunduran bangsa ini.

Jika agama sangat ditentukan kredibilitasnya dari keberadaan kitab sucinya, maka semestinya kredebilitas pemeluk agama juga ditentukan oleh sejauhmana ia membaca dan memahami kitab suci agamanya. Bukan mendadak relegius dengan semangat meledak-ledak, membela kepentingan agama, padahal pengetahuannya tentang agamanya sangat minimalis, membaca kitab suci saja masih terseok-seok, alih-alih memahami maksudnya.

Akibatnya, banyak terjadi inkonsistensi sikap antara ucapan dan penampilan bela agama dengan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Di satu sisi berteriak bela agama dengan atribut agama lengkap, di sisi lain dia justeru mengerdilkan agama dengan lelakunya yang sombong, angkuh dan selalu memandang rendah orang lain.

Para ulama salaf mewanti-wanti soal pentingnya pengetahuan dalam memahami agama. Dalam rekaman sejarah, Imam Malik pernah marah dan menegur seseorang yang hendak meninggalkan majelis ilmu yang beliau berada di dalamnya, padahal yang beliau tegur tersebut hendak pergi untuk mengerjakan salat. Imam Malik berkata: "Ya fulan, maa kunnaa fihi laisa biadnaa maa kunta fiihi (Wahai fulan, tidaklah kami yang duduk menuntut ilmu di sini lebih rendah dari engkau yang akan mengerjakan salat."

Imam Malik ingin menyampaikan bahwa, menuntut ilmu itu sangat tinggi dan aktivitas ibadah tidak akan sempurna tanpa ilmu, tanpa pengetahuan. Membaca adalah salah satu cara untuk mendapatkan pengetahuan, termasuk membaca teks suci, al Quran, ada proses internalisasi gagasan, ide atau pesan dari Tuhan kepada tiap pembaca, meski barangkali proses membaca kitab suci berbeda dari membaca buku pada umumnya. Namun, intinya aktivitas membaca keduanya memiliki tujuan dan sasaran yang sama, yakni tersampaikannya pesan, gagasan atau ide, dari penulis ke pembaca.

Ala kulli hal, membaca menjadi sangat penting untuk memiliki pengetahuan yang baik, dengan syarat bukan hanya membaca satu kitab atau buku kemudian menarik kesimpulan tentang kebenaran.

Jadi, marilah membela agama, salah satunya dengan rajin membaca dan mencintai majelis ilmu.

Advertisement