Sejarah Santa Maria dan Lahirnya RSUD Amad Yani

- February 01, 2018


Sore itu, beberapa orang laki-laki terlihat sedang duduk santai di halaman, tepatnya di area parkir Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA)atau lebih dikenal dengan Rumah Bersalin (RB) Santa Maria. Halaman yang terlihat sangat rapi dan bersih itu, menjadi alasan saya untuk menolak ajakan Paulus Triadi Santoso yang akrab disapa Mbah Riri (70), seorang Satpam yang telah mengabdi 36 tahun di Rumah Sakit tersebut, untuk berbincang di dalam ruangan.

“Maaf, saya baru bisa menyempatkan diri untuk ngobrol,” Mbah Riri membuka obrolan, Senin sore di penghujung Maret tahun 2016 yang lalu. Saya memang lumayan lama menjadwalkan untuk wawancara dengan pengelola Santa Maria.

Santa Maria yang terletak di tengah-tengah Kota Metro, di sebelah Gereja Hati Kudus dan tepat di seberang pojok kanan Taman Merdeka, adalah rumah sakit tertua yang didirikan pada tahun 1938, dengan nama St. Elisabeth atas prakarsa suster-suster Fransiskan di bawah penanganan Pastor M. Neilen, SCJ, sekaligus sebagai imam Gereja pertama yang tinggal di Kota Metro, setelah dibukanya stasi misi kedua di luar Tanjungkarang, pada tanggal 1 Februari 1937.

Hal tersebut sesuai dengan pengakuan KH. Arief Mahya dalam tulisannya, Mengenal Seluk Beluk Metro Tempoe Doeloe di HU.  Lampung Post, 11 Juni 2014, bahwa sejak Metro dibuka hingga 1952 di Metro hanya ada 1 rumah sakit, yaitu rumah sakit bersalin kepunyaan Misi Katholik, bagian depannya dipakai Dinas Kesehatan Pemerintah sebagai balai pengobatan dengan dr. Soemarno pimpinannya, dibantu R. Sosrosowdarmo, Sarindo Hasibuan, dan lain-lain mantri kesehatannya.

Tulisan KH. Arief Mahya tersebut berkesesuain pula dengan yang tertulis dalam sejarah Rumah Sakit Umum Ahmad Yani, bahwa pada tahun 1953, sejak fungsi pelayanan kesehatan sudah dapat ditingkatkan melalui keberadaan penggabungan bangsal umum pada unit pelayanan kesehatan Katolik (sekarang RB.Santa Maria) sebagai rawat inap bagi pasien, dan pada tahun 1970 bertambah lagi sarana bangsal perawatan umum dan perawatan bersalin. Selanjutnya, pusat pelayanan kesehatan inilah yang menjadi cikal bakal RSU Ahmad yani, dan Santa Maria menjadi fokus memberi layanan perawatan bersalin.

Namun, jauh sebelum itu, keberadaan Rumah Sakit Santa Maria, mengalami pasang surut, bahkan sempat dikuasai oleh Jepang.

Menurut Mbah Riri dan sesuai dengan sumber yang berhasil saya telusuri, pada tanggal 20 Februari 1942, Jepang menguasai Lampung. Pada bulan April pada tahun yang sama semua imam dan suster ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, Rumah Sakit Katolik di Metro diambil alih oleh Jepang dan gereja digunakan sebagai barak-barak!

Santa Maria ini dulu sempat dikuasai Jepang. Beberapa suster dan Imam gereja ditangkap," jelas Mbah Riri.

Mbah Riri juga menuturkan, bahwa model bangunan Santa Maria berusaha mempertahankan model bangunannya sejak awal.

"Ini bangunan tua, dulu terbuat dari papan, kemungkinan malah sebelumnya terbuat dari geribik, kemudian direhab karena sudah lapuk, hanya jendelanya yang masih dipertahankan sesuai bentuk awal,” jelas Mbah Riri.

Mbah Riri, lelaki tua yang telah mengabdi di RB Santa Maria selama 36 tahun tersebut, sebelumnya juga bekerja di POM Bensin milik H. Jalal, Pom Bensin pertama yang dulunya berlokasi di Pos Polisi Tugu Pena Kota Metro, sehingga wajar ia banyak mengetahui cerita Kota Metro pada masa lalu, termasuk sejarah Rumah Sakit Santa Maria.

"RB. Santa Maria berada dibawah Yayasan St. Georgius yang berpusat di Kabupaten Pringsewu, pada masa Belanda sebenarnya tidak khusus menangani ibu dan anak saja, tetapi juga menangani seluruh pasien umum," jelas Mbah Riri.

“Zaman Belanda dulu kan belum ada rumah sakit yang lain, rumah sakit inilah yang menangani para pekerja yang sakit, baik sakit malaria atau jenis penyakit lainnya. Tapi sejak berdirinya Rumah Sakit Umum (RSU) Ahmad Yani, yang dulunya bernama Balai Kesehatan milik pemerintah, sejak itulah kemudian Santa Maria khusus melayani pasien bersalin (ibu dan anak),” lanjutnya.

Keladiran RSU Ahmad Yani

Rumah Sakit Umum Ahmad Yani secara sah berdiri sebagai Rumah Sakit Umum Daerah tipe D tahun 1972, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.031/BERHUB/1972. Sebelumnya tahun 1951 bernama Pusat Pelayanan Kesehatan (Health Center),

Pada tahun 1953 fungsi pelayanan kesehatan masih mengandalkan keberadaan penggabungan bangsal umum pada unit pelayanan kesehatan Katolik St. Elisabeth (sekarang RB.Santa Maria),  sebagai rawat inap bagi pasien, dan pada tahun 1970 bertambah lagi sarana bangsal perawatan umum dan perawatan bersalin.

Kehadiran RSU Ahmad Yani cukup membantu menangani pasien yang semakin meningkat dari masa ke masa, seiring denngan pertumbuhan jumlah penduduk yang berdiam di Kota Metro (dulu Lampung Tengah) dan sekitarnya, meski sebagian masyarakat juga masih ada yang mengandalkan jasa dukun baik untuk berobat maupun dukun beranak untuk membantu persalinan.

“Anak saya lima, semuanya lahir di Santa Maria,” ujar Mbah Martini sambil memperkenalkan anak tertuanya Sunaryanto yang kini berusia 53 tahun.


Sebagai rumah sakit tertua RB. Santa Maria masuk dalam 12 cagar budaya yang ada di Kota Metro.