Pilihlah Daku, Kau Ku 'Kibulin'

- February 14, 2018
Pilihlah Daku, Kau Ku 'Kibulin'

Pesta sebentar lagi dimulai secara terbuka. Kesibukan para calon kepala daerah dan tim suksesnya yang rajin menyambangi rakyat hingga rela blusukan ke tempat-tempat kumuh, dari siang, malam hingga pagi hari, sebentar lagi menjadi pemandangan yang akrab dengan hari-hari kita.

Gegap-gempita dan gemuruh teriakan sebagai pejuang dan pembela kepentingan rakyat kecil sebentar lagi menjadi bahasa sehari-hari, gemuruh panggung yang penuh goyangan dan syahwat kuasa akan lebih semarak, dangdut, shalawatan, wayangan, jalan sehat akan berseliweran silih berganti mengimbangi pergeseran siang dan malam.

Tak ketinggalan, calon yang dulunya rajin ke tempat-tempat karaoke, spa dan massage kini akan sibuk menggelar pengajian dan datang ke masjid dan majelis ta'lim.

Barangkali yang sembunyi-sembunyi adalah, membagi sembako, gula, susu, roti atau sejenisnya sembari membisikkan untuk memilih nama tertentu, si pemberi sembako dan sejenisnya itu. Khawatir ketahuan dan tertangkap tangan oleh pengawas pemilu.

Meski semua hadir dan sepakat untuk menolak politik uang dan politik sara, politik saling menjatuhkan dan kampanye berisi hujatan, namun diam-diam, gudang logistik tetap disiapkan, risalah-risalah berisi caci maki tertumpuk rapi dan siap dimuntahkan.

Konon, begitulah pesta rakyat. Kita harus maklum atas jalan dan prosesnya. Semua melakukan kecurangan, tetapi semua bisa mengklaim dicurangi, nanti ketika mereka kalah, selantang deklrasi siap kalah dan siap menang, selantang itu juga teriakan mereka berteriak tak menerima kekalahan, menuding calon yang menang berlaku curang, berekor dengan gugatan, menuntut keadilan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Bisa dipastikan, dalilnya adalah perilaku curang calon yang menang, melakukan politik uang secara massif, sistematis dan tersruktur, atau menuduh si calon yang menang melibatkan PNS, dan dalih sejenis lainnya, yang sebenarnya saat musim kampanye mereka semua melakukannya, toh semua calon gubernur atau wakilnya adalah kepala daerah yang sedang cuti dan masih memiliki pengaruh di daerah masing-masing.

Sedangkan, paska pesta itu, rakyat akan kembali kepada rutinitas semula, petani kembali ke sawah, pedagang kembali ke pasar, buruh tetap menjadi buruh, sembari memupuk mimpi ada perubahan yang dibawa oleh pemimpin yang baru terpilih.

Ya, rakyat akan tetap menjadi rakyat yang setia dengan pekerjaan dan profesinya. Begitulah lazimnya yang terjadi dalam beberapa dekade di rezim pemilihan kepada daerah langsung ini. Uang yang didapat, dalam amplop berpesan 'pilihlah aku' itu, ludes dalam sekali tarikan. Yang abadi biasanya justeru fanatisme, permusuhan dan dendam.

Caci maki yang ditabur tumbuh subur karena rajin disiram dan dipupuk. Kekalahan menghasilkan luka, kemenangan melahirkan kecongkakan. Padahal rakyat tak mendapatkan apa-apa, selain kebanggaan semu, calonnya menang meski jasanya tak dikenang.

Kesadaran rakyat dalam menentukan pilihan memang belum sampai pada kesadaran yang didasarkan pada logika dan rasionalisasi politik yang dewasa. Dan, calon menyukainya, maka tak perlu heran, jika calon dan tim kampanye yang mengusung tema-tema kampanye  pemberdayaan politik rakyat, jumlahnya nihil, mereka lebih condong menajamkan sentimen dan menggesek emosi.

Hasilnya, mereka tertawa bahagia, rakyat mendekap kecewa dengan setia.

Dakam konteks kesadaran seperti ini, Gramsci menjelaskan tentang tiga cara bagaimana perbedaan momen-momen kesadaran politik dapat dianalisa dan dibedakan ke dalam tingkatan yang bervariasi.

Momen pertama dan merupakan momen yang paling dasar adalah momen
economic-corporate level , seorang pedagang merasa memiliki kewajiban moral untuk saling mendukung dengan pedagang lainnya, demikian  juga dengan usaha manufaktur yang satu dengan lainnya, dan lain-lainnya, tetapi si pedagang belum memiliki perasaan solidaritas dengan mereka yang berusaha di bidang manufaktur.

Momen kedua adalah momen di mana kesadaran dapat dicapai pada tahap persamaan kepentingan (solidarity of interest) di antara seluruh anggota di dalam kelas sosial – tetapi kepentingan yang masih dalam tingkat yang murni pada wilayah ekonomi.

Momen ketiga adalah momen di mana satu kelompok menjadi sadar akan pentingnya memiliki satu kepentingan yang lebih luas dan berhubungan di atas kepentingan-kepentingan lainnya, dalam membangun masa kini dan masa depan seluruh kelompok, melampaui batasan sekadar kepentingan ekonomi belaka, dan dapat serta harus juga menjadi kepentingan-kepentingan kelompok-kelompok lain yang tersubordinasi.

Si calon, semestinya - dalam bingkai siap menang dan siap kalah - memiliki solidarity of interest dan kepentingan lebih luas untuk membangun masa kini dan masa depan daerahnya. Kesadaran, bahwa semua calon memiliki program yang sama untuk memajukan daerah, seharusnya melahirkan sikap politik saling dukung siapapun pemenangnya nanti. Hingga proses politik yang dijalankan adalah proses politik yang bermartabat, mendidik dan penuh welas asih.

Namun, sudahlah. Itu basa-basi. Datanglah ke TPS 27 Juni nanti, pilihlah menurutmu yang terbaik dari yang terburuk di antara calon itu, sembari berlalu dan tak perlu terlalu memikirkannya. Cukup, kita tahu bahwa proses politik hari ini baru sebatas politik, ngibulin.