Pencitraan

- February 18, 2018
Mahatma Ghandi

Setiap orang memiliki kegandrungan dan kecenderungan terhadap kebajikan universal. Kebajikan universal adalah kebajikan yang diakui secara umum, seperti kejujuran dan keadilan. Sebagai kecenderungan manusia umumnya, maka tak seorangpun yang mau dituding tak jujur (pembohong) dan tak adil (lalim). Semua orang ingin diakui sebagai orang baik.

Pentingnya diakui sebagai orang baik itulah,  setiap orang berusaha menampilkan pola sikap dan pola ucap yang ditata sedemikian rupa agar terlihat dan terdengar baik. Namun, sayangnya kebanyakan orang terjebak  pada keinginan 'terlihat' dan 'terdengar' baik saja, tapi tak berusaha benar-benar menjadi orang baik.

Keinginan terlihat dan terdengar baik itulah yang disebut pencitraan. Pencitraan, dalam doktrin agama (baca; Islam) identik dengan perilaku riya' (ingin dilihat) dan sum'ah (ingin didengar) yang dilarang, bahkan dikategorikan oleh Nabi sebagai syirkul ashgar (musyrik kecil), sebuah tindakan menagih simpati kepada manusia. sehingga orientasi amalnya tidak lagi bertujuan menyembah Tuhan semata.  

Tingginya tingkat kebutuhan terhadap pengakuan orang lain itulah, yang membuat banyak orang rela membayar mahal untuk sebuah citra, bahkan rela menanggalkan separuh kewarasannya, merendahkan orang lain hanya untuk diakui tinggi, menyatakan orang lain goblok, hanya untuk terlihat pintar, mengatakan kelompok lain intoleran hanya untuk diakui toleran, bahkan tak jarang 'berpura-pura' merendah hanya untuk sekadar butuh pengukuhan memiliki ketinggian pekerti.

Aku teringat apa yang pernah ditulis oleh Fukuyuma, dalam The End of History and The Last Man, bahwa kini memang ada banyak realitas sosial yang semu, realitas yang seolah-olah , seolah-olah demokratis, seolah-olah partisipatif, seolah-olah sejahtera, seolah-olah maju dan modern tetapi isinya kropos dan kosong.

Jean Baudrillard dalam buku Galaksi Simulacra mengistilahkannya sebagai "all that is real becomes simulation”, semua yang nyata adalah simulasi, orang tak lagi bisa memilih dan memilah mana lebih penting bayangan dan sosok sesungguhnya. Milan Kundera menyebut jamannya sebagai era imagology, era kemenangan citra-citra. Dimana produsen budaya citra telah berhasil menjejalkan sebuah citra menjadi realitas, mimpi, juga harapan ke benak konsumen. Dalam era imagology, budaya citra tersebut disebarkan ke berbagai media melalui televisi, radio, internet, surat kabar, maupun majalah.

Dunia pencitraan, mereduksi kesejatian. Meringkas realitas dunia menjadi realitas citra dunia, realitas kehidupan menjadi realitas citra kehidupan. Terdapat proses reduksi subyek manusia ke dalam sebuah bingkai nihilisme, yakni menjebak manusia di dalam subyektivitas palsu, ia terasing dari diri yang sesungguhnya (alienation). Dalam istilah Susan Sontag, manusia seperti ini lebih memilih bayangan (citra) ketimbang sosok nyata (benda), salinan (copy) daripada asli, representasi ketimbang realitas, penampangan ketimbang eksistensi (being).

Pencitraan memang sukses mendistorsi relasi antara citra dan realitas, citra selalu hadir sebagai upaya framing (pembingkaian), membingkai perilaku yang pura-pura, semu dan penuh kepalsuan, sekaligus meminggirkan (exclusion) orisinalitas dan kesejatian manusia, dan ironisnya manusia yang gandrung dan cenderung kepada kebaikan, kepada keaslian, justeru terjebak atau bahkan menjebakkan diri dalam framing kepalsuan citra tersebut.

Realitas hadir dalam ironi yang memilukan. Ada banyak orang-orang yang lebih percaya diri mengenakan topeng daripada wajah aslinya, hidup dalam imajinasi-imajinasi palsu dan simbol-simbol.

Maka, dalam tulisan ini saya berkepentingan mengajak setiap diri kita untuk kembali pada keaslian watak kemanusiaan yang gandrung dan cenderung pada kebajikan universal, yang dasarnya lebih menyenangi kesejatian daripada kepalsuan. Tulisan ini berkepentingan membangun kesadaran kemanusiaan yang condong mencintai keramahan daripada kemarahan, belas kasih daripada berselisih, keragaman daripada keseragaman yang monoton, dan saling menghargai daripada saling mencederai.