Parle, Parlente, Parlementaria

- February 17, 2018
Parle, Parlente, Parlementaria

Saya tak habis pikir, setiap pagi Markonah ngoceh-ngoceh soal rumah tetangganya yang terletak lumayan jauh dari rumahnya. Mulai soal sampah yang menurutnya tak dibuang pada tempatnya, halaman rumah tetangga yang becek, pokoknya dalam pandangan Markonah, rumah si tetangga itu selalu saja ada yang salah dan harus dikomentarin.

Belakangan, saya paham, ternyata ngoceh-ngoceh itu berhubungan dengan profesi Markonah. Dia seorang parle. Parle itu konon artinya ngoceh, jadi pekerjaan Markonah ya ngoceh, dan ia mendapatkan gaji dari pekerjaan itu, meski sebenarnya tugas ngoceh  itu untuk ngocehin tempat tinggalnya sendiri, yang penataannya juga semrawut, dan seringkali juga terjadi genangan air di halamannya.

Tapi Markonah mungkin ingin lebih eksis, maka perlulah baginya ngocehin urusan rumah tangga orang lain, agar semua orang paham dia seorang parle, tukang ngoceh.

Belakangan juga saya paham, bahwa parle selain maknanya adalah tukang ngoceh, ternyata parle juga memiliki makna tersembunyi lainnya, yakni tukang bersolek, parlente lengkapnya. Maka itu juga yang barangkali mendorong Markonah untuk terus bersolek, narsis dan pamer kecantikan di media sosial. Mungkin loh.

Awalnya saya sempat menuding Markonah dengan pepatah kuno semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk tak tampak, pepatah yang cocok untuk menggambarkan sikapnya yang rajin mengkritisi dan mengomentari tentang perkembangan rumah tetangga jauhnya di seberang jalan sana, sedangkan rumah yang di tempatinya - dan semestinya dikritisi- abai dikomentari, alih-alih mau dipikirkan secara serius arah pembangunannya, tata letaknya yang tak jelas, meski sebenarnya ia memiliki kewenangan dan dibayar untuk itu.

Konon menurut kabar dari seorang kawan, Markonah semakin terasah kemampuan ngocehnya dan butuh eksistensi untuk dikenal lebih luas, sejak ia menyatakan diri tertarik untuk maju sebagai pemimpin. Agar cita-citanya itu terwujud, maka Markonah secara sadar harus menunjukkan kemampuan itu, selain dengan menjual wajah full senyuman, maka agar terlihat sedikit intelektual, maka juga harus sembari disertai sedikit ocehan-ocehan, meski receh yang penting dumeh, begitu barangkali prinsip Markonah.

Memang sih mencalonkan diri adalah hak setiap warga negara, apalagi punya modal materi yang cukup, wajah cukup menawan, cuap-cuap sedikit dan rajin membangun pencitraan semu, seperti gelombang sabun. Kloplah itu sebagai modal utama.

Apalagi jika kenyinyiran itu, eh maksudnya ocehan Markonah memang didasari pandangan yang sangat "ideologis", karena kebetulan rumah tetangga itu menerapkan konsep tata kelola rumah yang berbeda dengan ideologi yang diusungnya, sebagai penyuka warna merah, tentu saja Markonah tak suka warna putih dan hitam.

Sekaligus Markonah mungkin juga ingin mengetahui respon tetangga yang lain, apakah sikap dan ocehannya mendapat reaksi positif atau negatif, sehingga mumpung waktunya masih lumayan lama, dia bisa merubah strategi dan model pencitraan.

Sebagai seorang parle dan politisi, sikap Markonah sudah on the track alias sesuai jalur. Rakyat yang tak punya jabatan, tak boleh juga banyak protes, apalagi Markonah sebagai tukang oceh itu dilindungi dengan imunisasi, eh maksudnya hak imunitas. Semacam sistem kekebalan dari salah.

Bahkan, bukan hanya itu, Markonah dan kawan-kawannya konon merasa tak cukup puas dengan sistem kekebalan itu, mereka juga sedang memperjuangkan sebuah senjata baru, kekebalan untuk diserang. Semacam tameng begitu, kalau anda penyuka permainan Mobile Legend, pasti mengerti. Intinya, Markonah bebas ngoceh apa saja, tak bisa disalahkan dan sebaliknya, jika ada yang balik ngocehin dia, maka meskipun ocehan itu benar, maka terkutuklah orang ngoceh itu dan siap-siap untuk menerima akibatnya, dipenjara!

Markonah, parle dan parlente memang! top markotoplah pokoknya. Selain maksum, maha benar dengan segala ocehannya, menawan, juga tak boleh dikritik ya!