Monolog Topeng, Sebuah Pertunjukan Pemberontakan Waska

- February 11, 2018
Monolog Topeng - Cafe Mama, Omah1001

Malam itu, (Sabtu, 10/2/2018) suasana separuh halaman belakang Cafe Mama ditutup dengan kain hitam, disulap menjadi ruang yang sekelilingnya tertutup meski atasnya tetap dibiarkan terbuka, beratap langit.

Sore harinya hujan deras sempat mengguyur Kota Metro, ada rasa was-was hujan tak berhenti. Andika Gundoel Septian, sang aktor sekaligus sutradara pertunjukan Monolog Topeng karya Rahman Sabur yang akan digelar malam itu, terlihat tetap tenang, meski wajahnya tampak khawatir.

Beruntung, pukul 17.00 hujan reda dan langit kembali terang, pelan-pelan awan hitam yang menyelimuti langit kota beranjak pergi dan tak kembali hingga pertunjukan usai digelar.

Lepas isya', tepat pukul 20.00, pertunjukanpun segera dimulai. Penonton segera memasuki ruang pertunjukan, dua penari perempuan menyambut penonton yang tanpa komando mengambil tempat duduk secara tertib. Semua duduk lesehan tanpa alas.

Tak lama usai penampilan dua penari, tiba-tiba suasana pencahayaan panggung dibuat temaram, seorang laki-laki muncul dan menari, gerakannya seperti siluet, tepatnya seperti bayangan yang bergerak ke kanan dan ke kiri, melenggang bak penari jaipong.

Perlahan pencahayaan panggung mulai lebih terang, sosok laki-laki yang semula seperti bayangan itu hadir di hadapan penonton, dia adalah Andika Gundoel Septian, yang berperan sebagai anak panggung. Ia berteriak.

"Wajah kita adalah topeng-topeng. Semua wajah bertopeng. Topengku dan topengmu saling menterjemahkan isyarat. Ayo! Siapa diantara kita bersedia menanggalkan topeng dirinya?"

Hening,

Ia kembali berceloteh.

Bunyi tetabuhan membuat jeda. Laki-laki itu kembali bersuara memanggil nama seseorang. Waska.

"Waska! Aku dengar kemiskinanmu di mana-mana. Lapar badan dan lapar jiwa telah membuatmu angkuh. Dan kau tak pernah takut mati. Kau dengar Waska?"

Laki-laki itu, mengambil topeng, meletakkan topeng itu di depan wajahnya, menggeser ke atas kepalanya, sembari berseru.

"Begitulah, kegelisahan dramatik seorang Waska!"

Tapi apakah benar Waska itu telah mati? Apakah benar, Waska sebelumnya pernah bertemu dengan malaikat pencabut nyawa? Dan apakah benar Waska itu gila?

Untuk lebih jelasnya saya akan menghubungi dia.

Waska…! Waska…! Waska…!
Waskaaaaaaa…! Waskaaaaaaaaaa…!

Tiba-tiba, kembali terdengar bunyi tetabuhan, wangi dupa menyebar. Dan lelaki itu menjelma sosok Waska.

"Sebelum saya menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya, kiranya saya perlu menjelaskan, bahwa saya bukan lagi seorang Waska. Saya adalah seorang Semar. Dan siapa bilang saya ini sudah mati?"

"He…he…he…itu kan hanya dalam lakon sandiwara saja."

Sungguh saudara! Saya belum mati. Saya masih cinta hidup. Kecintaan saya terhadap kehidupan ini begitu luar biasa! kalau ada yang mendengar kabar bahwa saya telah mati, itu isu! Jangan percaya! orang saya masih hidup, dikatakan sudah mati? bagaimana ini? lalu dikatakan juga bahwa saya ini, katanya pernah bertemu dengan malaikat Jibril? bohong itu!

Lha, saya hanya pernah bermimpi ketemu dengan almarhum Mbah saya. Masa Mbah saya dikatakan malaikat? itu mengada-ada. Itu berlebihan.

Jangan-jangan malaikat Jibril nantinya tersinggung dan almarhum Mbah saya juga tersinggung oleh fitnah ini.

Baik, sekarang pertanyaan mana lagi yang belum saya jawab?

Oh ya! tentang proyek, ya itu proyek Jembatan Surga. Jembatan dan Surga.

Proyek itu adalah proyek kemanusiaan religi yang paralel dengan bisnis juga. Tidak apa-apa kan? halalkan? Proyek itu juga bisa dikatakan sebagai rasa syukur saya kepada Tuhan yang telah memberikan rejeki yang berlimpah. Karena terus terang saja, kehidupan saya sebelumnya tidak seperti sekarang ini. Astaga! saya jadi teringat kembali ke masa hidup saya dulu. Masa sulit dan pailit.

Tapi maaf. Sekali lagi saya mohon maaf. Saya harus segera pergi. Saya harus memimpin rapat para pemegang saham. Saya pikir, saya sudah menjawab semua pertanyaan.

Waska pergi. Lelaki sebagai anak panggung  itu kembali.

Bagaimana saudara-saudara? Meskipun belum puas, tapi untuk sementara kita puas-puaskan saja dulu. Dan yang jelas, bahwa Waska masih hidup sehat wal afiat, segar bugar. Kalaupun sekarang ia berganti nama menjadi Semar, itu semata karena kebutuhan administrasi saja. Bagaimanapun ia tetap seorang Waska.

Nah, sekarang mari kita berikan kesempatan bicara kepada Semar. Barangkali ia juga ingin menyampaikan sesuatu.

Anak panggung itu pun kembali memanggil.

Semaaaaaaaarr…! Semaaaaaaarrr…! Semaaaaaaaaaaarrr…!

Tetabuhan kembali berbunyi, wangi dupa menyeruak bersama asap tebal yang pelan-pelan menipis bersaba kehadiran lelaki yang menjelma menjadi Semar.

"Maaf, sebelum saya bicara lebih jauh, terlebih dahulu saya harus meluruskan sebuah kebengkokan. Saya bukan Semar, saya adalah Waska. Saya betul-betul Waska. Memang banyak sekali orang bernama Waska. Tapi saya adalah Waska yang paling Waska. Waska dari segala Waska. Dunia saya adalah dunia Waska. Penderitaan saya adalah penderitaan Waska. Borok saya adalah borok Waska. Sakit saya adalah sakit Waska. Dendam saya adalah dendam Waska. Kemiskinan saya adalah kemiskinan Waska. Lapar saya adalah lapar Waska."

Laki-laki yang mengaku Waska itu memukul-mukul drum, tong, sebelum akhirnya melanjutkan.

"Bagaimana lagi saya harus menjelaskan? Percuma saja saya menjelaskan karena mereka tidak punya telinga. Berfikir! berfikir! Percuma saja saya berfikir karena mereka tidak mau menerima pikiran orang lain. Berdo’a! Berdo’a! Percuma saja saya berdo’a karena Tuhan sudah tidak mau mendengar."

Lebih baik saya diam. Diam bagai batu. Saya memang batu. Batu yang angkuh! Saya harus menjadi angkuh karena semua orang telah menjadi musuh.

Lelaki itu seperti kelelahan.

Tiba-tiba lelaki yang mengaku Waska itu mendengar suara yang menyuruhnya istirahat. Dan Waska menjawab

"Siapa bilang saya lelah? aku tidak lelah! Bangsat! mereka mengunyah-nguyah dagingku! mereka menghisap darahku!"

Ia memegang lututnya, seperti seorang yang kesakitan teramat sangat. Membalutkan kain. Laki-laki itu mengerang kesakitan. Tumbang,

"Bertahanlah Waska! Bangkitlah Waska! Ayo bangkitlah Waska!" Ia menyemangati dirinya.

Bangkit dan kembali tumbang.

"Berdirilah Waska! Ayo berdiri! Kau harus berdiri diatas kakimu sendiri!" Kembali ia berusaha membangitkan semangatnya.

Bangsat! Aku masih tetap seorang Waska. Aku masih bisa bangkit, berdiri dan berjalan. Ayo kaki! Berjalanlah! Kemana kau suka! Ayo kaki! kau harus berjalan! Mengembaralah ke gunung-gunung, ke bukit-bukit, ke lembah-lembah.

Bangkit dan tumbang

Ampun Tuhan... Ampun. Aku Kalah..

Ia menangis.

Begitulah, sekilas pagelaran panggung Monolog Topeng selama 45 menit itu. Berhasil membuat penonton hening, hingga semua lampu dinyalakan. Barangkali ada yang meraba apa pesan yang ingin disampaikan.

Monolog Topeng - Cafe Mama, Omah1001
Gundoel dan Tim Teater Sang Saka, foto bersama sesaat setelah pementasan Monolog Topeng 

Pesan Sosial Waska

Mungkin, beberapa penonton bingung dan bertanya siapa Waska? Siapa Semar? Kenapa saat Waska dipanggil, tetapi yang muncul justeru Waska yang mengaku Semar, dan saat Semar yang dipanggil, justeru yang hadir adalah Semar yang mengaku Waska.

Andika Gundoel Septian, berusaha memainkan peran sebagai anak panggung yang sekaligus memerankan pergantian tubuh, antara Waska dan Semar, mencari jalan tengah itu, Gundoel sebagai anak panggung bergerak menyusur alur, berganti adegan dengan menyentuh karakter dan gestur tubuh Waska dan Semar. Ia hendak menyampaikan pesan soal Waska yang berbohong dengan mengaku sebagai Semar, dan Semar yang hendak meluruskan kebohongan Waska, dengan mengaku Waska.

Waska dan Semar dua sosok yang mungkin cukup mewakili realitas kehidupan kita.

Suara-suara menjadi teriakan, membangun dialog. Endapan-endapan imajinasi Gundoel sebagai sang aktor, hadir di panggung menghadirkan karakter Waska dan Semar, karakter yang mewakili watak manusia umumnya.

Perubahan yang begitu terasa dengan geraman vokal dan gestur aktor, permainan pencahayan dan musik. Bisa jadi, penjelmaan Waska yang mengaku Semar itu adalah penjahat kecil yang berubah menjadi perampok semesta, berkedok pengusaha yang mengerjakan proyek surga. Padahal ia justeru memakan dan menghisap darah sesamanya, dengan bertopeng proyek besar kemanusiaan. Begitu juga Semar adalah tokoh lain yang diperankan Waska, ketika Semar hadir ia tidak ingin mengakui dirinya sebagai Semar, ia adalah Waska, sewaska-waskanya.

Kekuatan narasi dari anak panggung dengan letupan borok-borok peristiwa kemanusiaan, mungkin adalah intertekstual dalam tokoh Waska dan Semar sebelumnya. Karakter kesadaran dengan adanya dua nilai yang memaksa individu harus memilih. Memilih untuk mengikuti, menerima atau menolaknya.

Dalam narasi monolognya, Waska yang didaku Semar, tengah putus asa, mengutuk dirinya seperti sudah terjebak dalam mimpi, mimpi yang diciptakan dari ruang keinginan sehingga sudah tidak percaya sama Tuhan sekalipun. Ya, pada akhirnya terkesan amat jauh melihat lubang kecil di ujung labirin.

Begitulah, Andika Gundoel Septian, berperan sebagai anak panggung, sahabat Waska dan Semar dalam Monolog Topeng karya Rahman Sabur di pelataran halaman belakang Cafe Mama, menghadirkan wajah dari realitas sosial kita.

"Angkat topi buat Gundoel, meski dari sisi keaktoran saya harus memberi banyak catatan, banyak sekali PR-nya. Soal totalitas, feel dan gerakannya. Tangga dramatiknya berantakan, soal artistik semuanya keren, setting keren, kemunculan keren, tapi Gundoel terasa enggak nyaman di panggung, termasuk kehadiran wayang yang dijatuhkan" ujar Duma, aktifis senior panggung teater, yang sudah menyutradarai beberapa naskah teater dan di akhir April nanti akan mementaskan Monolog Puisi dari puisi Joko Pinurbo, di beberapa kota.

Padahal, lanjut Duma, sebagai pekerja teater, semestinya Gundoel mampu menghadirkan sosok Waska yang melakukan pemberontakan itu, bisa mengungkap banyak hal, kelaparan, penderitaan dan hal-hal lain yang menyebabkan ia memberontak.

Hal yang sama juga disampaikan Sari, Guru Kesenian SMA Muhammadiyah yang sejak menjadi mahasiswa di UNY, juga telah aktif berteater.

"Make up-nya kurang. Saya masih melihat Gundoel yang saya temui sehari-hari di panggung, bukan Waska atau Semar, karena barangkali make upnya kurang." Kritik Sari sesaat setelah pertunjukan.

Ketua Dewan Kesenian Metro (DKM), Muadin Effuari, juga mengaminkan itu, terutama terkait peralihan dari tokoh-tokoh yang diperankan Gundoel dalam Monolog Topeng tersebut.

"Sebenarnya bisa disiasatin dengan lighting." Saran Muadin.

"Bagaimanapun dan apapun, tanpa harus melacurkan diri dengan menyesuaikan keaktoran dengan selera pasar, kita tetap bisa menyampaikan pesan dan membuat penonton nyaman. Dan sebagai bara api, saya angkat topi buat Gondoel, karena semua itu aku paham tak gampang." tutup Duma.

Dan Andika Gundoel, dalam dua kali pementasan yang disutradarainya, telah berhasil membuat geliat berkesenian di kalangan anak-anak muda di Kota Metro, terutama membawa teater di ruang publik seperti Cafe, dan berani membuka diri untuk dievaluasi.

Respect dan selamat buat Gundoel yang telah melahirkan tradisi itu.