Menikmati Menu 4 Sehat 5 Puisi Studio Djajan Metro

- February 24, 2018
4 Sehat 5 Puisi Studio Djajan Metro

Tak terlalu sulit menemukan lokasi Studio Djajan Metro (SDM), berada di Jl. Satelit, tepat di jalan belakang PB Swayalan Kota Metro, cafe yang dulunya pernah buka di Jl. Ahmad Yani, Simpang Kampus, Kota Metro ini, meneruskan mimpinya yang sempat buyar karena berpindah tempat, menjadikan tempat nongkrong sekaligus tempat baca dan kegiatan budaya. Selain menyediakan menu ringan, SDM juga menyediakan Studio Pustaka, tempat yang dirancang khusus untuk menyimpan buku-buku bacaan, dan sebuah garasi yang disulap sebagai ruang diskusi.

Tak hanya tempat yang mendukung kegiatan budaya dan literasi, SDM juga rutin menggelar acara-acara kesenian, seperti akuistik, musikalisasi puisi dan diskusi. Seperti hari ini (Jumat, 23/2/2018), selepas asar aku menghadiri undangan kawan-kawan pegiat seni, puisi dan teater untuk hadir di acara diskusi dilanjutkan dengan pertunjukan puisi malam harinya.

Berbincang  sembari menikmati kopi dan batangan rokok, memang menjadi kenikmatan tersendiri bagiku, apalagi ditemani oleh pegiat-pegiat seni yang terdiri dari mahasiswa dan para pelajar. Datang dari berbagai kampus dan sekolah yang ada di Kota Metro, bahkan ada yang jauh-jauh dari Bandar Lampung.

Di halaman Studio Djajan Metro, berjejer mobil dan puluhan motor. Andika Gundoel Septian, si pengundang aku hadir di acara tersebut segera mengajakku bersama peserta yang lain, duduk melingkar di atas tikar yang telah disediakan. Tak lama diskusipun dimulai, suasana berlangsung santai seperti ngobrol. "Diskusi Sosial Kota", tema yang sempat ku baca. Entahlah, aku tak terlalu mengerti maksudnya.

Untunglah Gundoel membantu menjelaskannya. "Kita ingin, realitas sosial di sekitar kita, realitas yang terjadi di kota kita, bisa juga kita tulis menjadi puisi yang indah," begitu kira-kira memberi pengantar diskusi itu.

Semua orang yang hadir menunjukkan antusiasmenya, bicara tentang cinta mereka atas Kota Metro, tentu juga soal keresahan.

Diskusi akhirnya terhenti dan ditutup, begitu adzan magrib berkumandang.

Acara dilanjutkan kembali selepas isya', kali ini acaranya adalah pembacaan puisi dari seniman Kosa Kata yang lumayan tersohor dengan musikalisasi puisinya. Meski dijeda cukup lama, dan beberapa peserta ada yang pulang, antusiasme terhadap acara tersebut tetap terlihat dari jumlah peserta yang bertahan hingga malam.

Aku datang agak telat, acara sepertinya telah berlangsung seperempat perjalanan. Aku segera mengambil tempat duduk yang bisa membuatku nyaman menyaksikan pagelaran seni, yang aku yakin pasti keren dan menarik itu.

Di depanku, di sebuah panggung kecil, telah ada 4 orang. Dua orang berdiri satu laki-laki dan satu perempuan, dan dua orang sisanya adalah laki-laki yang duduk di kursi, satunya memegang gitar dan seorang lagi memegang sebatang seruling.

Aku bilang kepada cinta//Marilah kuajak kau pergi ke utara//Bertemu dengan banyak mahasiswa//Ia menjawab tak mau aku//Sebab mereka memandangku//Hanya sebagai pentil dan susu//

Suara perempuan dari panggung itu membuatku kaget dan terdiam, ternyata acara pembacaan puisi sedang berjalan, padahal aku masih sempat mengajak guyon beberapa orang yang hadir. "Asu!" Pekikku dalam hati, kenapa juga pentil dan susu itu membuat tenggorakanku tersedak.

Untuk mengelabui beberapa mata yang memandangiku, aku pura-pura mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, selanjutnya aku ambil handphone untuk merekam pertunjukan di depanku. Suasana batinku kembali normal, tak salah tingkah.

Aku bilang jangan meremehkan//Mereka itu anak-anak pilihan//Di baju mereka tertulis: kaum cendekiawan//Ia membantah: jangan membesar-besarkan//Di kampus tak ada literatur kasih sayang//Mereka hanya diajari kekuasaan.

Suara Gundoel menyahuti bait pertama yang membuatku tersedak tadi. Di pertengahan pertunjukan, perempuan yang membaca puisi bersama Gundoel dan merangkap jadi pembawa acara tersebut, akhirnya ku tahu bernama Uul dari Kosa Kata.

Aku menikmati puisi Aku Bilang Kepada Cinta karya Emha Ainun Najib tersebut hingga bait terakhir. Selanjutnya secara bergantian, para seniman maju ke depan membacakan puisi-puisi yang keren. Ada Galih, Amin Paijo, Afriyan, Lady dan beberapa nama lain yang tak sempat ku ingat dan catat. Acara pun akhirnya usai, sekitar pukul 10 malam lebih.

"Om dan tante semua keren," ujar Muhammad Anugerah Utama, penulis novel Obladi Maria Diabla, ketika diberikan kesempatan maju ke depan, berbagi pengalamannya.

Semua pengunjung pun sepakat, bahwa acara Tajuk Kembang Kol, 4 Sehat 5 Puisi tersebut memang keren, dan berharap rutin acara serupa diadakan sebulan sekali.

Bagi yang tidak sempat hadir, sedikit cuplikan puisi dari sekian banyak puisi yang keren itu, bisa menikmatinya lewat link di bawah ini, walaupun hanya semenit.