Menanti Gebrakan Ketua Umum Baru Kohati PB HMI

- February 22, 2018
Siti Fatimah Siagian, Ketua Umum Kohati PB HMI

Sebelumnya saya tak pernah secara khusus menulis tentang Korp HMI-Wati (Kohati), sebuah lembaga/badan otonom Himpunan Mahasiswa Islam, yang berada dari tingkat Pengurus Besar (PB) hingga Komisariat. Lembaga yang menurut saya, selama ini seperti 'penjinakan' dan legalisasi subordinat HMI-Wati, agar tak terlalu tak terlalu libat dalam struktur kepengurusan PB HMI, Cabang hingga komisariat.

Faktanya, bisa dicek secara langsung betapa dominannya para HMI-Wan yang menduduki struktur-struktur kepengurusan di tingkat PB HMI, Cabang hingga Komisariat, dan para HMI-Wati menyempil dan bergerombol nrimo ing pangdum dalam struktur kepengurusan Kohati. Maka tatkala, ada isu pembubaran Kohati, saya adalah salah satu dari sekian orang yang menyetujuinya, dengan catatan mengakomodir HMI-Wati dalam jumlah lebih banyak di struktur kepengurusan.

Dalam diskursus gender, kita menemukan banyak ketidakadilan-ketidakadilan terhadap perempuan, bahkan bentuk kekerasan selain kekerasan fisik dan psikis, ada banyak kekerasan verbal dan bahasa yang selama ini akrab dalam kehidupan sehari-hari kita, termasuk juga salah satunya adalah 'kekerasan' dominasi dalam penyusunan struktur kepengurusan dalam organisasi-organisasi masyarakat, berlebih dalam organisasi politik, meski belakangan ada ikhtiar mengafirmasi perempuan, dengan kuota minimal 30% dalam struktur partai politik.

Kekerasan dan ketidakadilan bahasa sering kita jumpai dalam istilah-istilah yang cenderung menyudutkan perempuan, seperti istilah Wanita Tunasusila (WTS) yang seakan-akan perempuanlah yang sangat dekat dengan kegiatan-kegiatan negatif itu, pelacur seolah menjadi dominasi kaum perempuan, padahal pelacuran tidak akan pernah ada tanpa keterlibatan Pria Tunasusila (PTS), laki-laki yang juga asusila, belum lagi dalam dunia perfilman, hantu dan hal-hal gaib yang jahat, sering divisualisasikan dengan jenis kelamin perempuan.

Berkebalikan dengan beragam aktifitas positif yang selalu diidentikkan dengan dunia laki-laki, bahkan institusi-institusi negara seperti Kepolisian Republik Indonesia (Polri), khusus bagi perempuan yang mau menjadi anggota polisi, perlu menambahkan label wanita untuk menjadi bagian yang diakui,  sebagi polisi (baca; Polwan), seakan-akan institusi tersebut adalah milik laki-laki, padahal polisi itu ada yang laki-laki dan perempuan, semestinya agar lebih adil, jika perempuan harus menegaskan jati dirinya sebagai polisi wanita, maka laki-laki juga semestinya menyebut dirinya sebagai laki-laki pria.

Untunglah, klaim institusi oleh laki-laki itu tidak berlaku di HMI, para kader laki-laki tetap wajib melabeli dirinya dengan sebutan dan HMI-Wan dan kader perempuan dengan sebutan HMI-Wati, sehingga HMI tidaklah berjenis kelamin laki-laki sebagaimana Polri.

Namun, keberadaan Kohati sebagai sebuah institusi yang menampung kader HMI-Wati sekaligus mengembangkan minat, bakat dan kemampuannya, justeru akhirnya berdampak pada minimnya keterlibatan Kohati dalam struktur kepengurusan HMI.  Jika pun ada, biasanya ada di posisi-posisi jabatan yang dianggap feminim (baca; perempuan) seperti Bendahara Umum dan Wakil Bendahara, jabatan presidium lainnya didominasi oleh laki-laki.

Terpilihnya, Siti Fatimah Siagian (SFS) sebagai formatur Kohati PB HMI Periode 2018 - 2020 pada Munas Kohati ke-23 di Ambon, 22 Februari 2018 yang lalu, memberikan harapan baru, selain dari slogan yang diusung sarat makna, rekam jejak keterlibatannya di HMI juga menunjukkan bahwa ia tidak berada dalam subordinat HMI-Wan, apalagi akan membiarkan hegemonik dan dominasi para kader HMI laki-laki.

Cerdas sebagai pendidik, tegas sebagai pembina, berintegritas sebagai pengawal panji Islam, adalah pilihan posisi SFS, saya meyakini pemilihan kata yang disimpul menjadi Cerdas, Tegas dan Berintegritas adalah hasil penalaran yang baik dan penuh kesadaran, bahwa perempuan memiliki posisi strategis untuk menentukan peradaban bangsa di masa depan.

Penjelasan tentang cerdas, tegas dan berintegritas tergambar dalam pokok-pokok pikiran SFS yang ditulisnya dalam artikel pendek berjudul Ikhtiar Mewujudkan Kohati Cerdas, Tegas dan Berintegritas yang bisa dibaca di beberapa media online. Menurut SFS, untuk mewujudkan tujuan Kohati, terbinanya muslimah berkualitas insan cita, harus didukung oleh perangkat dan mekanisme organisasi.

Maka, ia menawarkan tiga hal yang terkait dengan perangkat dan mekanisme organisasi itu dalam periode kepemimpinannya. Pertama, pendidikan bagi kaum perempuan untuk menciptakan/menyiapkan generasi cerdas. Kedua, manajerial organisasi yang berprinsip pada asas transparansi dan akuntabilitas, yang SFS harapkan akan berdampak kepada sikap kader yang lugas dalam menghadapi isu-isu srategis tentang keperempuanan, atau soal kerakyatan dan kebangsaan secara lebih luas.

Ketiga, berintegritas sebagai pengawal panji Islam. Meski dalam tulisan tersebut SFS masih sangat abstrak menggambarkannya, tetapi paling tidak mengacu pada pemaknaan umum integritas, kita dapat memahami bahwa pilihan posisi sebagai pengawal panji Islam tersebut, pastilah terkait erat dengan soal moral, kualitas diri yang terkait erat dengan penguasaan pengetahuan dan keluasan wawasan. Sehingga, meminjam istilah SFS, kader HMI-Wati mampu membangun kerjasama dan diterima dengan baik oleh organisasi dan kelompok-kelompok lain di masyarakat.

Pengalaman organisasi SFS, sebelum menjadi Pengurus Kohati PB HMI, pernah menjadi Ketua Bidang Pembinaan Aparat Organisasi (PAO) HMI Cabang Kisaran - Asahan dan menjadi Ketua Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Kisaran - Asahan, adalah dua jabatan yang berkait-erat dengan kesinambungan organisasi, sehingga bekal pengalaman itu mampu meyakinkan saya untuk optimis, bahwa Kohati bisa berperan setara dan berbuat bersama, untuk mengambil posisi-posisi strategis dalam isu-isu kebangsaan, tanpa ada pikiran sebagai the second organisasi di bawah PB HMI. SFS harus menolak segala bentuk subordinasi.

Secara pribadi, saya memang tidak mengenal SFS, tetapi saya sangat paham karakter kader yang secara serius pernah berproses dengan baik di HMI dan saya percaya mereka adalah orang-orang baik, ideologis dengan cara pikir terbuka dan progresif, maka tak sungkan saya untuk menitipkan harapan untuk mengembalikan kembali cita-cita HMI, sebagaimana harapan itu juga saya akan titipkan kepada Asep Sholahuddin, yang menurut saya, bukan hanya cerdas, tetapi ia humble dan santun. Mimpinya adalah melahirkan kembali HMI sebagai poros pemikiran dan gerakan keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan, memiliki tagline #HMISmart serta memiliki program Gerakan Literasi Nasional.