Membangun Imajinasi Kolektif

- February 23, 2018
Membangun Imajinasi Kolektif

Setiap orang yang beragama, berusaha mendekati dan bertemu Tuhannya, namun jalan yang ditempuh berbeda-beda. Tujuannya sama, keselamatan, keyakinannya pun sama, jalan yang ditempuh adalah jalan keselamatan. Tak satupun dari orang yang beragama, menyegaja memilih jalan kesesatan untuk berjuma Tuhannya.

Agama kemudian menjadi diskursus, wacana terbuka yang bebas diinterpretasi. Setiap orang memiliki imajinasi personal soal agama, keyakinan dan Tuhannya. Jalan menuju Tuhan tersebut adalah jalan yang harus dilengkapi bekal pengetahuan, bukan hanya bekal semangat apalagi khayali tentang tempat indah dan rupa Tuhan.

Kebebasan berimajinasi bukanlah kebebasan yang bermakna suka-suka, ia harus memiliki landasan yang kuat, pengetahun untuk yakin ('ilm al yaqin), data empirik untuk yakin ('ain al yaqin) dan kebenaran iman yang diyakini (haqq al yaqin). Semakin dalam pengetahuan seseorang, semakin kritis ia dengan sikap keberagamaannya, bukan semakin pandai dia mengkritik dan menyalahkan keyakinan dan keberagamaan orang lain.

Sikap itulah yang ditunjukkan oleh Ibrahim, Bapak semua agama. Setelah lama berdiam melihat pekerjaan ayahnya, Azar, sebagai pembuat patung sembahan raja, Ibrahim dengan berani membuka ruang dialog dengan terlebih dahulu menghancurkan patung-patung yang disembah tersebut, dan menyisakan satu patung paling besar yang dikalungkannya kapak yang digunakan untuk menghancurkan patung-patung tersebut.

Ketika kaum penyembah patung berhala itu marah dan bertanya secara terbuka siapa yang menghancurkan patung-patung itu, Ibrahim tampil dengan berani menjawab, "sebenarnya patung besar itulah yang menghancurkannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat bicara!"

Mereka pun marah dengan jawaban Ibrahim dan menjawab, "bukankah engkau telah memahami bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara", tetapi Ibrahim menjawab dengan nada santai, bertanya dan mempertanyakan rasionalitas mereka, "jika kalian tahu mereka tak dapat bicara, maka mengapa kalian menyembah sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat sedikitpun, bahkan tidak bisa memberi bahaya apapun kepada kalian?"

Dialog antara Ibrahim dan para penyembah berhala di atas, bukanlah tindakan tiba-tiba dan spontan. Tindakn tersebut lahir dari rasio, pengetahuan dan nalar kritis. Sehingga saat berdialog, Ibrahim mampu mempertahankan argumentasinya secara konsisten. Bahkan konsistensi Ibrahim itu, dibuktikan dalam perjalanan berikutnya, perjalanannya mencari Tuhan. 

Ibrahim pernah menyembah bulan dan bintang, yang menurutnya adalah sesuatu yang tak terbatas karena sanggup mengusir kegelapan dan menerangi semesta, Ibrahim berseru, "inilah Tuhanku!" Namun, tatkala bintang dan bulan itu tenggelam, Ibrahim pun berujar, "aku tak suka yang tenggelam dan terbatas," maka ia pun mengingkari bintang dan bulan sebagai Tuhan. 

Esoknya ia mendapati matahari bersinar sangat terang, ia kembali berseru, "inilah Tuhanku, ia lebih besar!" Menjelang malam, sinar matahari meredup, dan suasana kembali menjadi gelap, ia pun kembali menegaskan bahwa ia tak menyukai yang terbatas, dan matahari bukanlah Tuhan, karena menurut Ibrahim, Tuhan adalah yang Maha Tak Terbatas.

Perjalanan dan sikap keberagamaan Ibrahim dalam upaya mencari Tuhan, tak pernah satu pun ayat suci yang menudingnya sebagai sebuah sikap yang salah, bahkan usaha dan sikap yang sungguh-sungguh dalam pencarian itu membuatnya dijuluki sebagai Bapak Semua Agama, millah Ibrahim adalah millah agama tauhid. "Ibrahim bukanlah orang yang mempersekutukan Tuhan."

Ibrahim, adalah contoh sosok mujtahid, orang yang berijtihad untuk menemukan kebenaran, melakukan koreksi secara radikal atas keyakinan dan keberagamaannya sendiri. Ijitihad yang seakar dengan kata jihad adalah sebuah kesungguhan, usaha maksimal untuk mengetahui, memahami dan menemukan kebenaran, dan usaha itu tak pernah final, perjalanan itu tak pernah finis dan selesai. Ibrahim hanya mewariskan kata kunci dalam ijtihadnya, ia tak menyukai yang terbatas.

Semua yang beragama, pastilah sepakat bahwa Tuhan adalah 'sesuatu' yang tak terbatas. Kesepakatan bersama itulah yang melahirkan imajinasi kolektif tentang Tuhan yang absolut, mutlak dan memiliki kepatutan menjadi sembahan, menjadi kebenaran puncak sebagai Yang Maha Benar. Sedangkan perjalanan menuju ke kebenaran absolut itu adalah kebenaran yang nisbi, yang setiap saat berubah menjadi sesuatu yang tak benar, maka sangatlah tak layak, setiap orang yang menuju dan masih berusaha menempuh perjalanan menuju ke kebenaran itu, saling menyalahkan dan menyesatkan.

Setiap kita, barangkali memiliki persepsi dan imajinasi masing-masing tentang kebenaran dan kebajikan, persepsi yang kita dekap dengan penuh keyakinan. Imajinasi adalah mekanisme psikis dalam melihat, melukiskan, membayangkan, atau memvisualkan sesuatu dalam struktur kesadaran, yang menghasilkan sebuah citra (image) pada otak, (YAP, Agama dan Imajinasi, 2011; xxi). Kita membayangkan, melukikskan dan memvsisualkan agama yang ideal, Tuhan yang ideal, keshalihan yang ideal berdasarkan imajinasi personal.

Menurut Yasraf Amir Piliang, dalam kehidupan beragama, individu, kelompok atau umat memproduksi bayangan tentang umat, agama, dan Tuhan itu sendiri. Piliang mengutip Mulla Shadra yang berbicara tentang bentuk imajinasi pada tingkat transendental, yang disebut imajinal. Bentuk-bentuk imajinal yang tidak berada pada otak (material), tidak juga pada tubuh-tubuh langit, bahkan tidak juga pada khayaliyah yang berada terpisah dari jiwa.

Menurut Ibnu Khaldun, berpikir (fikr) adalah penjamahan bayang-bayang (image) tentang sesuatu di balik perasaan dan aplikasi akal untuk membuat analisis dan sintesis dari apa yang dibayangkan, berpikir menghasilkan pikiran intuitif (fuad), (Muqaddimah, 2005: 522).

Imajinasi personal yang melahirkan simbol-simbol keshalihan, baik itu yang didapatkan dari proses melihat dari luar diri, mendengar, menghayal atau bahkan yang diproduksi oleh media sosial, ataupundari dalam diri berupa mimpi, dan semua imajinasi personal tentang kebenaran tersebut tentu saja bukanlah kebenaran absolut. Berimajinasi tentang 'sesuatu' berarti menciptakayan bayangan tentang sesuatu itu, dan dapat dipastikan bayangan itu bukanlah sesuatu itu.

Kebenaran absolut adalah milik yang Maha Benar, ia diimani oleh semua orang, korespondesif, konsisten dan pragmatis, bukan kebenaran yang didaku dan berlaku untuk satu orang atau satu kelompok. Setiap orang yang meyakini kebenaran adalah hasil ikhtiar, interpretasi, ijtihad tentang kebenaran yang bersifat relatif, dan oleh karenanya jalan ijtihad itu harus selalu membuka diri untuk berdialog dengan kebenaran-kebenaran nisbi lainnya, tentu dengan dialog setara, tanpa amarah.

Meneladani Ibrahim semestinya adalah meneladani perjalanan usaha dan cara pikirnya mencari Tuhan, yang kritis dan rasional, serta berani mengoreksi dan membatalkan keyakinan diri sendiri yang dianggap keliru, bukan membatalkan keyakinan orang lain dengan menghukuminya kafir, tanpa keberanian berdialog secara setara dan sehat.

Tak perlu buru-buru menuding orang lain menganut paham baru, karena bisa jadi kita yang baru paham.