Membaca Alam

- February 26, 2018
isyarat alam

"Sesungguhnya di balik penciptaan langit dan bumi, pergeseran siang dan malam ada tanda-tanda bagi mereka yang memiliki akal dan hati (ulul albab). Sesungguhnya tiada satupun peristiwa yang terjadi, nihil makna." Begitulah Tuhan memberi isyarat kepada manusia yang mau berpikir.

Dalam seminggu, kota ini mendapat curahan air berlimpah. Banjir terjadi di beberapa titik, di hampir semua kecamatan, meski jumlahnya barangkali tak sebanyak jumlah jembatan yang dicat dan dipasang lampu hias, biaya penanganannya pun, mungkin tak sebesar jumlah uang 41 miliar rupiah yang dialokasikan untuk membangun gedung prestesius nan mewah, Metro Convention Center (MCC) yang pemanfaatannya belum tentu semua warga bisa akses dan nikmati.

Alam memberi isyarat, mana yang mendesak dan penting. Perisitiwa banjir memberikan informasi penting, tentang banyak hal yang sebenarnya telah kita bincang sejak lama, hal kecil yang seringkali kita abaikan, demi pembangunan gedung wah bergengsi.

Kita terlalu sibuk bicara wajah, bicara tentang permukaan tanah, namun kita lewat mendiskusikan bawah tanah, soal resapan dan daya tampungnya terhadap air. Kita mengabaikan saluran air yang terlalu kecil, tergerus dan mampet. Kita benahi permukaannya, trotoarnya, tetapi kita tidak pernah chek dalamnya.

Maklum. Pikiran kita mungkin membayangkan bahwa saluran air itu masih layak menampung ribuan ember air yang tumpah dari bekas cuci piring rumah tangga, sehingga kita semakin gila membangun ruko, membangun perumahan, menjejer usaha ritel, sembari sesekali iseng merias jembatan-jembatan dengan lampu dan cat warna-warni. Kita semakin sumir dan samar menatap, hingga tak mampu lagi membedakan antara keren dan norak.

Ooo, ini sama sekali bukan hanya soal pemerintah yang sibuk merias rupa kota dengan dandanan menor itu, bukan pula soal legislatif yang hemat bicara itu, sekali-kali bukan. Ini juga soal kita yang semakin tak peduli dengan kota kita, yang tanpa beban dan dosa membuang sampah ke aliran sungai. Kita yang sibuk membeli gengsi untuk berbelanja di toko-toko modern, sehingga cuek bebek dan masa bodo dengan warung tetangga yang tiba-tiba tutup, sejak ruko dan toko-toko modern itu berdiri. Kita yang sibuk mengeja kemajuan kota dengan julang tinggi tembok.

Sekali lagi, ini bukan hanya soal pemerintah yang sibuk menaksir untung dari lembar-lembar perizinan atau sisa hasil dari pembangunan-pembangunan merias jembatan itu, bukan pula hanya soal wakil rakyat yang sibuk menghitung dan mencari modal, bukan hanya soal itu, tetapi ini juga soal kita yang memiliki uang berlebih dan ingin terus menumpuk kekayaan, sehingga tak peduli saat usaha yang kita bangun di daerah sempadan sungai, melanggar konsep tata ruang kota yang ramah lingkungan, alih-alih kita peduli dengan peringatan keras teman, peringatan Tuhan tentang kerusakan di darat dan di laut karena ulah kita sendiri, yang tertulis dalam Kitab Suci, juga kita acuhkan.

Oh, iya. Ini juga bukan hanya soal saluran air, drainase, got atau yang disebut siring itu. Ini juga soal pohon yang telah kita babat habis diganti berganti beton, ini soal alam yang tak seimbang lagi.

Barangkali karena kita juga mulai meragukan bahwa kehidupan akhirat itu ada, sehingga kita tak perlu takut mendapatkan balasan dari kejahatan yang kita lakukan, atau mungkin menurut kita segala keburukan itu bisa ditutupi dengan topeng. Bertopeng kopiah dan baju koko, berhijab rapi dan anggun, sembari melembut-lembutkan lidah hingga kata-kata renyah terdengar seperti kacang rebus yang jelata kunyah ketika musim kendurian.

Namun, lihatlah kini, air tak lagi hanya tumpah dari atas melainkan juga meluap dari bawah, ia mengalir begitu cepat menggenangi titik-titik cekungan kemanusiaan kita. Air itu hadir ketika kita terlelap di tengah malam, dinginnya mengetuk dinding-dinding nurani kita, bertanya apakah kita masih peduli, atau membiarkannya berlalu begitu saja, tanpa makna, tanpa pelajaran, meninggalkan onggokan sampah yang bertumpuk, menggerogoti setiap relung hati, membusuk serupa borok.

Setiap ciptaan, setiap peristiwa tak ada yang hadir sia-sia, selalu ada pesan dan selalu ada peringatan. Alam mengajak kita membuat jeda dari kesibukan menumpuk harta, agar kita bisa membaca tanda-tanda, mematok tanda tanya besar di hadapan, apakah kita masih manusia dengan segala keserakahan yang kita pertontonkan?