Lapangan Samber itu Kini Menjadi 'Samber Park'

- February 02, 2018

Entah apa yang ada di benak Pemkot Metro, bukan hanya merubah wajah Lapangan Samber menjadi terlihat 'modern' dan 'estetik', tetapi juga mengganti nama Lapangan Samber menjadi 'Samber Park'.

"Bagus sih, tapi kok terkesan norak dan tak paham sejarah! Barangkali pemerintah senang dengan nama yang berbau istilah-istilah Inggris, makanya lebih senang dan pede menggunakan dan memperkenalkan istilah-istilah asing daripada memperkenalkan nilai-nilai lokalitas dan daerah sendiri," ujar Jerry yang diaminkan oleh kawan-kawannya beberapa waktu lalu saat nongkrong bersama beberapa komunitas.

Jerry juga menjelaskan, sebagaimana yang ia dengar dari penuturan orang dan neneknya bahwa keberadaan Lapangan Samber tersebut melibatkan peranserta banyak orang, bukan hanya warga yang tinggal di sekitar lapangan, melainkan juga warga lain banyak yang ikut iuran membeli tanahnya.

"Kebutuhan akan lapangan desa ketika itu sangat mendesak, termasuk kebutuhan untuk pemakaman. Makanya, banyak warga yang terpanggil untuk urunan. Jika tak salah ingat kuburan pertama di TPU Samber tersebut yang berada di bawah pohon besar itu," Jerry mengisahkan.

Tertarik untuk mengetahui sejarah Lapangan Samber, saya pun berusaha menelusuri beberapa catatan lama sembari berusaha menghubungi beberapa orang tua yang tinggal tak jauh dari Lapangan Samber, salah satunya adalah Mbah Jo dan beberapa narasumber lain.
Lapangan Samber sebelum berubah wajah menjadi "Samber Park"
 “Samber ini milik Desa, sebelum akhirnya diserahkan ke pemerintah Kota,” Lelaki tua bernama Mbah Saijo (90)itu membuka cerita tentang Samber, tempat yang menjadi nama Lapangan dan Tempat Pemakaman Umum (TPU/Kuburan).

Nama Samber cukup akrab di kalangan masyarakat Metro, bukan hanya karena posisinya yang berada tepat di tengah-tengah Kota, tetapi juga karena Samber, khususnya Lapangan Samber telah menjadi pusat berbagai aktifitas. Hampir setiap acara konser atau event yang melibatkan orang dalam jumlah besar, selalu digelar di Lapangan Samber, seperti konser, festival hingga acara-acara resmi pemerintahan seperti upacara, peringatan ulang tahun Kota Metro, Metro Fair dan MTQ.

“Samber ini sebenarnya lebih lebar dari yang sekarang, bentuknya persegi, termasuk kini yang menjadi lokasi sekolah, MIN (dulunya SDN 6) dan SDN 4 adalah lokasi Samber,” tutur Saijo yang akrab disapa Mbah Jo, seraya berjalan tertatih menggunakan tongkat, mengajak saya berbincang di halaman depan rumahnya yang mepet badan jalan.

Saya menyodorkan dua bungkus rokok kretek kesukaan Mbah Jo. Mbah Jo tinggal berdua bersama istri  di pojok dekat Kuburan Samber, menghuni rumah yang hanya berdinding papan yang nyaris lapuk. Sesekali dahi Mbah Jo berkerut, menandakan ia sedang berusaha keras mengingat kejadian-kejadian masa lalu.

“Dulu hidup sangat susah, sudah bagus sehari itu bisa makan nasi sekali, lebih sering kita hanya makan onggok. Samber ini tanah bengkok yang dimiliki desa, menjadi tempat penduduk bercocok tanam, menanam singkong dan jagung, mereka bebas menikmati hasilnya.” Cerita Mbah Jo setelah beberapa saat terdiam.

“Saya sudah lupa bagaimana prosesnya, hingga tanah kuburan ini menyempit dan dibangun rumah-rumah pemukiman di atasnya, yang saya ingat tanahnya lebih luas dari yang ada saat ini,” lanjutnya.

Mbah Jo juga mengaku tak ingat lagi tentang asal muasal penamaan nama Samber untuk Lapangan dan Kuburan Samber.

“Sudah tak ingat lagi, tapi bisa saja dikaitkan dengan banyak cerita. Salah satunya, dulu pernah ada anak-anak main bola di Lapangan depan kuburan, kemudian meninggal kesamber bola, mungkin juga nama Samber itu dari itu,” ujar Mbah Jo seraya tertawa seolah tak yakin.

Hal serupa juga dituturkan Sauki (56) tukang servis sepeda dan motor, yang telah puluhan tahun membuka bengkel di pojok lapangan samber, kenapa kuburan dan lapangan tersebut dinamakan Samber?

"Mungkin karena dekat dengan kuburan? Atau bisa jadi saat babat alas ada yg kesamber geledek kali," cerita Sauki (56) sambil bercanda.

Namun, menurut penjelasan Tato Gunarto, mantan Anggota DPRD Kota Metro bahwa penamaan Samber memiliki latar belakang sejarah.

“Saya yakin ada yang melatarbelakangi penamaan samber untuk kuburan dan lapangan Samber, dulu pernah diceritakan oleh kakek dan orang-orang tua, sayang saya sudah tidak ingat persis ceritanya, nanti saya telusuri lagi, mudah-mudahan ada yang masih ingat,” ungkap Tato.

Memang tak banyak orang-orang yang paham persis cerita di balik penamaaan Samber, baik untuk lapangan maupun kuburan. Orang-orang tua yang pahampun telah banyak berpulang.
Polisi cilik sedang latihan di Lapangan Samber 
Kini Lapangan Samber sebagai salah satu lapangan tertua di Kota Metro, hanya tampak seperti lapangan biasa, ramai setiap hari untuk latihan baris-berbaris anak-anak sekolah, praktik olahraga sekolah-sekolah yang ada disekitarnya, menjadi tempat penyelenggaran festival, konser bahkan event-event besar Pemerintah Kota, seperti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), atau upacara untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Metro.

Kuburan Samber, yang kini telah penuh tersebut, juga tak banyak orang yang paham sejarahnya. Meski hampir semua orang-orang tua mengakui bahwa luasnya telah berkurang, selain digunakan untuk lahan sekolah sebagian juga digunakan warga untuk membangun pemukiman.

“Sebenarnya ada banyak cerita, cuman kita juga takut salah, karena sekarang susah untuk membuktikannya. Tapi seingat saya, lokasi yang saat ini menjadi lokasi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) termasuk lahan kuburan. Bahkan, beberapa orang mengakui saat menggali lubang di atas lahan itu menemukan beberapa tengkorak manusia,” Ujar Mbah Sum, pemilik Warung Pojok yang menurut penuturan beberapa orang, kakeknya adalah angkatan pertama dari proyek kolonisasi Belanda, dan salah seorang penyuplai logisti (makanan) untuk gerilyawan melawan Belanda.

Orang-orang yang bertempat tinggal di sekitar lokasi tersebut juga mengakui bahwa meskipun sekarang menjadi tempat belajar (MIN), tetapi tempat tersebut masih terasa angker.

“Serem, sering terdengar suara-suara aneh,” Ungkap Susi, sambil menunjukkan ekspresi ketakutan.

Lapangan Samber memang sangat banyak menyimpan cerita kegetiran masa lalu, kepedihan dan beratnya perjalanan hidup. Lapangan Samber menjadi saksi bagaimana kreatifitas tumbuh dan menemukan ruangnya, Lapangan Samber juga menjadi saksi banyaknya transaksi bisnis haram, Lapangan Samber adalah titik bertemu kejelataan dan kemewahan, dan Lapangan Samber adalah simpul akrabnya kebaikan dan kejahatan.

“Sebelum diberi penerangan, lapangan Samber ini gelap gulita, bukan hanya transaksi kejahatan terjadi di sini, tetapi praktik mesum juga sering di lakukan di lapangan ini saat malam hari,” Ujar Tato Gunarto

Namun, selain hal-hal negatif tersebut, Tato juga menjelaskan bahwa sesungguhnya, dulu banyak juga aktifitas-aktifitas positif dilakukan di Lapangan Samber, seperti panjat dinding (climbing), para pembuat mural mengapresiasikan kreativitasnya dengan melukis dinding pagar, para penyuka BMX melakukan latihan, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya.

“Termasuk banyak event nasional maupun lokal di laksanakan di Samber, konser Musik, festival, pasar malam keliling, atau hajat-hajat daerah seperti MTQ dan ulang Tahun Kota,” ungkap Tato.

Seiring perkembangan waktu dan perubahan status Metro menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) serta pergantian kepemimpinan, Lapangan Samber akhirnya berubah fungsi, tidak lagi berfungsi sebagai lapangan bola semata, lambat laun aktifitas olahraga juga mulai berkurang, sarana panjat dinding juga telah menghilang, berganti dengan jejeran warung-warung semi permanen, yang berderet memanjang di sebelah Selatan, Barat dan Timur lapangan.

Di sebelah Timur berderet warung-warung tenda menutupi lukisan mural yang menghias dinding-dinding MIN dan SD Teladan, warung-warung tersebut menjual berbagai jenis makanan dan minuman seperti mie, ketoprak, nasi goreng, kopi, wedang jahe dan jus buah, ada yang buka sejak pagi hingga malam, ada juga yang baru buka menjelang malam hingga dini hari. Sebelah Barat lapangan, meski lebih sedikit jumlahnya, juga terdapat beberapa warung tenda yang berjualan jenis makanan dan minuman serupa.

Sebelah Selatan Lapangan Samber, tepat seberang jalan Tempat Pemakaman Umum (TPU), berderet pedagang durian musiman yang berjualan di bawah tenda semi permanen.

“Mereka rata-rata tidak mengerti, bahwa kuburan itu banyak orang-orang tua yang dulu berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, termasuk orang-orang yang berjuang membangun kota ini, yang mereka tahu hari ini lapangan Samber menjadi tempat yang asyik buat nongkrong,” ujar Tato.

Lapangan Samber menyimpan banyak cerita, banyak ritual baik dan buruk. Lapangan Samber pernah menjadi tempat transaksi seks dan berbagai kejahatan, bahkan konon pernah menjadi tempat praktik prostitusi liar, tetapi Lapangan Samber juga dari dulu telah menjadi tempat untuk melaksanakan ritual-ritual suci seperti upacara dan salat hari raya.

Misteri Tanah Samber yang Menyusut

“Rumah Dinas Wakil Walikota sekarang, dulunya adalah Markas Kodim, di tempat itu banyak orang-orang PKI yang ditahan, beberapa dari mereka berniat kabur dan akhirnya ditembak, kemudian mayatnya dikubur di atas lahan yang pernah menjadi bangunan bekas SD 6, sekarang MIN Metro,” tutur Mbah ketika hendak menjelaskan titik-titik batas kuburan Samber.

Menurut Penuturan Mbah Jo, Tempat Pemakaman Umum (TPU) Samber atau lebih dikenal dengan Kuburan Samber, dulunya lebih luas dari sekarang, lokasinya mulai dari titik temu Jl. Mr. Gele Harun – Jl. Mayjend Ryacudu memanjang hingga sebelah Timur persis yang saat ini menjadi Lokasi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) masuk memutar melewati SD 4 ke Gang Belakang Kuburan hingga kembali lagi ke Jl. Mayjend Ryacudu.

Ditanya, bagaimana prosesnya kuburan itu bisa menjadi lokasi bangunan sekolah? Mbah Jo hanya menggeleng dan mengatakan. “tidak tahu,” dengan nada berat dan suara sangat pelan.

Bukan hanya menjadi lokasi bangunan sekolah, beberapa rumah permanen tempat tinggal warga juga diakui Mbah Jo, awalnya masuk menjadi area kubursan Samber juga.

“Kalau itu, mungkin karena tanah kuburan ini milik desa, tanah bengkok dan lurah Gondo Wardoyo sebagai lurah pertama dan lurah Wiryo sebagai lurah kedua yang mengurus surat-suratnya ke Agraria, mungkin mereka berpikir belum terlalu dibutuhkan tanah kuburan yang luas, maka sebagiannya diperuntukkan untuk warga,” ujar Mbah Jo.

Lebih tegas dari Mbah Jo, Ayu (60) menjelaskan bahwa beralihfungsinya tanah kuburan menjadi lokasi bangunan sekolah, karena memang di atas kuburan itu tidak ada tanda-tanda makam sama sekali, karena yang dikubur di situ adalah tahanan-tahanan PKI yang ditembak tentara.

“Tapi, saat sekolah dibangun kan banyak juga yang melihat dan menyaksikan langsung baik itu tukang maupun warga sekitar bahwa ada tengkorak manusia di lokasi tersebut. Bahkan, ketika anak-anak sekolah disuruh menanam pohon dan menggali lubang, sebagian mereka mendapatkan tengkorak di galiannya,” ujar Ayu.

Ayu menjelaskan, dulu usianya sekitar 9 tahun dan masih duduk di sekolah dasar. Saat ia melewati Markas Kodim, dia sering mendengar orang menjerit dan meminta tolong seperti orang yang disiksa dan disetrum. Meski ia mengaku belum pernah melihat langsung penyiksaan maupun proses pemakaman orang-orang yang meninggal karena disiksa itu.

“Tapi, dulu banyak orang yang hilang begitu saja. Semua orang meyakini mereka dibunuh kemudian dikubur di Kuburan Samber yang kini menjadi lokasi MIN, itu sudah menjadi rahasia umum, banyak yang tahu. Makanya hingga saat ini, sekolah itu terkesan seram dan angker,” ujar Ayu.

Ayu juga menjelaskan bahwa area pekuburan yang kini menyusut karena dibangun rumah tempat tinggal.

“Wajar saja, karena tanah bengkok ini dulu dikuasai desa, yang mengurus dan membuatkan surat-suratnya juga mereka,” pungkasnya.

Kini, TPU Samber tidak sanggup lagi menampung jenazah warga sekitar yang meninggal, nyaris tak ada lagi lahan tersisa untuk makam. Untuk itu pemerintah Kota Metro berniat membangun TPU baru di daerah landbouw tepatnya di belakang Gedung Sesat yang kini dikenal sebagai Nuwo Budaya.

Begitulah, perubahan bergerak begitu cepat. Lapangan atau alun-alun Merdeka yang ada di tengah-tengah Kota Metro, anak-anak muda millenial hanya paham itu adalah taman, padahal dulunya kegiatan olah raga, seperti sepak bola dan beberapa olah raga lain terkonsentrasi di situ dan lapangan samber menjadi lapangan dan area bermain anak-anak desa.

Saya dan barangkali semua orang tak bisa menolak derasnya perubahan itu, termasuk saya juga meyakini, tak ada satupun yang keberatan dengan niat pemerintah untuk membangun kota ini lebih baik, tetapi tak salah jika warga juga mengingatkan agar pemerintah tak abai sejarah dan tetap memberi penghargaan terhadap nilai-nilai lokal, kearifan lokal, semisal tetap menggunakan nama "Lapangan Samber" apalagi ditambah aksara Lampung di bawahnya. 


Tabik, Ngalimpuro.