Kotaku Banjir?

- February 20, 2018
Kotaku banjir?

Sekira pukul 16.15 mendung tebal menyelimuti langit Metro. Aku bergegas menjemput anak ke sekolah. Dalam perjalanan, hujan deras turun tak bisa dicegah, aku pun basah kuyup, ku belokkan sepeda motor hingga jalan AH Nasution, ingin ku pastikan apakah titik-titik langganan genangan air ketika musim hujan itu, tetap setia menjadi titik limpah air yang tak tertampung drainase yang semakin tergerus?

Wajahku pedih, derasnya hujan mengganggu penglihatanku. Aku segera menjemput anakku ke sekolah, dan setelah memasukkan tasnya ke jok sepeda motor kami pun menembus derasnya hujan. Kangen dengan masa-masa kecil yang akrab dengan hujan, berlarian di pinggir pantai, sebelum akhirnya menceburkan diri ke laut dan menikmati hangatnya air laut.

Usai mandi dan mengeringkan badan, aku iseng membuka media sosial yang sudah lama tak pernah ku buka, kecuali ada notifikasi yang muncul, media sosial yang hanya ku gunakan untuk share tulisan dan buku-buku pdf yang rutin ku bagi setiap hari, berharap bermanfaat untuk mereka yang mau membaca dan belum memiliki kesempatan untuk membeli.

Tepat dugaanku, beberapa warga Kota Metro yang kebetulan berteman, memosting foto-foto yang menunjukkan genangan air di tempat mereka. Iseng, ku ambil satu gambar dan ku posting ulang, kutambahkan sedikit keterangan memancing komentar dari para anggota dewan yang sebelumnya sibuk berkomentar tentang banjir Jakarta.

Sebenarnya ini bukanlah postingan dan tulisan pertamaku soal genangan air yang berlebih di kota ini, beberapa tahun yang lalu sudah ada beberapa tulisan, baik soal drainase dan trotoar yang tergerus karena sering dilalui kendaraan atau dijadikan area parkir atau terkait dengan menjamurnya ruko yang menyesaki jalan-jalan utama tanpa area parkir memadai, yang menjadi penyebab minimnya resapan air.

Berbagai komentarpun datang. Termasuk salah satu yang menarik adalah komentar yang menegaskan bahwa wajar saja terjadi genangan atau luapan air, karena hujan deras. Ya, iyalah, masa terik matahari bisa menyebabkan genangan air. Anehnya, ada yang ngotak menanggapi, bahwa luapan air dari kualitas drainase yang buruk itu tak mengakibatkan apa-apa. Air yang masuk ke rumah-rumah warga, tak mengakibatkan apa-apa? Mikir!

Dulu, di Jl. Seri Yosomulyo, saya bersama RT dan warga pernah mengusulkan untuk pembuatan drainase sepanjang 400 meter, karena ketika hujan seringkali air melimpah hingga masuk ke dalam rumah. Usulan yang ditandatangani warga tersebut, hinggi kini tak kunjung terjawab, pernah suatu ketika ada petugas yang membentangkan tali pengukur, namun entah untuk apa, kami jenuh menunggu, percuma berharap pemerintah, akhirnya berinisiatif sendiri membuat parit, bagi yang punya kemampuan memasang batu, bata dan menyemennya sendiri.

Sebenarnya, dengan memosting foto-foto genangan air itu, aku tidak bermaksud menggantung harap kepada pemerintah yang tuna kepedulian dan mati rasa. Buktinya, semakin kencang kita berteriak agar pembangunan ruko dan toko-toko ritel dihentikan, semakin bersemangat mereka mengeluarkan izin, karena kita sadar suara cis memang lebih nyaring daripada teriakan rakyat yang parau dan serak bercampur dahak.

Tujuannya hanya sekadar menumpahkan rasa kangen terhadap suara-suara wakil rakyat yang telah lama tak terdengar tentang kotanya, sekadar ingin tahu bahwa mereka tak bisu. Bukankah parlamen itu artinya parle alias ngoceh. Itu pun, karena aku menyaksikan dan ikut senang, mereka bicara soal Jakarta, masa sih untuk bicara kotanya sendiri enggan. Jika pun, tak mau bicara, tak kuasa juga sahaya memaksa. Toh, rindu tak harus beradu. 

Adillah, kata Tuhan dalam Kitab Suci. Jangan karena kamu benci, maka kau tak adil. Adillah sejak dalam pikiran, tulis Pram. Perasaan benci dan tidak suka ada pada setiap orang. Setiap manusia memang digenapi dengan berbagai emosi, salah satunya benci dan cinta, suka dan duka. Tapi, emosi-emosi bawaan ini tidak boleh membuat gelap mata. hingga cenderung menolak kebenaran.

Rasa benci memang terkadang melahirkan iri dan dengki, pun rasa cinta yang berlebihan seringkali melahirkan puja-puji tak senyatanya. Benci dan cinta semestinya sekadarnya saja, tak harus melampui kepatutan, yang dicinta hari ini esok bisa menjadi yang dibenci, benci pun bisa menjelma cinta. Tuhan, melarang benci dan cinta yang berlebihan.

Untuk itu, marilah kita memeluk rindu pada ruang-ruang sendu, percuma mengeluh, tak perlu mengadu, apalagi sedu-sedan itu. Itu bukan genangan air, apalagi banjir. Tuhan hanya mengirimkan hujan yang deras, agar genangan yang mengalir dari matamu tak ada yang tahu, wahai warga.