Kita Masih Bersaudara, kan?

- February 10, 2018
Mahatma Gandhi - Kebajikan

Kebajikan adalah sesuatu yang diinginkan, tetapi jarang diperjuangkan. Nilai-nilai kebajikan adalah nilai-nilai universal. Seperti kejujuran, kesetiaan, keadilan, welas asih, penyayang semua orang mengimaninya sebagai sesuatu yang baik, bajik dan terpuji, semua manusia berhasrat mendakunya, tetapi faktanya tak banyak orang yang secara teguh mendekapnya sebagai sikap dan ucap. Begitulah, realitas selalu menghadirkan ironi yang memilukan.

Media sosial kita dipenuhi oleh celoteh pencitraan, bahwa segala 'keakuan' adalah wajah dari kebajikan itu. Namun, sayang kebajikan memang tak cukup di niat, apalagi sekadar hayali, kebajikan niscaya diperjuangkan dan menjadi tujuan. Kebajikan bukanlah gerak hampa yang didasarkan pada klaim.

Kebajikan tentu saja tidak bisa didaku oleh mereka yang mengabaikan kohesi dan antisosial, gemar mencemooh dan selalu merasa benar, namun jarang merasa. Untuk itu, meski banyak orang jungkir balik meneriakkan soal kebajikan, teriakannya akan membentur tembok kesadaran massa, tertolak, jika kebajikan yang diteriakkan itu hanyalah klaim, diaku-aku. Bahkan, semakin sering ia mengaku, semakin naif dia terlihat.

Di sekeliling kita, hari ini fenomena sosial-relegius dipenuhi oleh klaim kebajikan. Nyaris sulit untuk membedakan mana sosok sesungguhnya dan mana bayangan. Kita terlalu sering menyerang dan membully orang lain yang berbeda, tetapi memiliki pertahanan yang teramat rapuh dan sistem imun yang tipis, jika diserang balik. Kita menjadi baperan jika idola dan pujaan kita dikritik, sehingga lebih sering tidak fokus pada serangan. Menggeser gawang agar tak kebobolan.

Meminjam satu paragraf kolomnya Arif Budiman Beda Kubu Sama Laku - Benci ini punya kita. Begitu pula cinta. Kita sama memilikinya. Hanya berbeda letak arahnya. Apa yang aku benci, justru itulah yang kamu cintai. Sebaliknya, apa yang aku cintai justru itulah yang kamu benci. Kita berbeda dalam menatap. Aku menuju Barat, sementara kamu memandang Timur. Aku merangkul Utara, sedangkan kamu mendekap Selatan. Namun, kita sama dalam cara memicingkan mata. Kita sama dalam merangkai kata. Kita sama dalam ekspresi benci dan cinta.

Arif Budiman hendak menegaskan, bahwa seringkali kita temui di sekitar kita, setiap orang berbeda kubu, entah itu kelompok yang dituding intoleran atau malah yang menganggap dirinya toleran, sering berhadap-hadapan secara diametral, tetapi justeru memiliki kesamaan, memiliki jurus yang sama, memainkan musik yang sama, dan memiliki perbendaharaan kata yang sama, masing-masing memaki setiap hari, menggelar serapah di ruang publik.

Semua mengaku baik dan benar, semua adalah kebajikan. Entahlah, meminjam kembali istilah Budiman, setan menjadi dua, malaikat pun berwujud ganda, setanmu jadi malaikatku, malaikatmu jadi setanku. Terlebih-lebih urusan politik, atas segala yang ada di langit dan di bumi, kita merawat kristal benci, padahal sebelumnya, kita sering bertemu di perhentian yang sama, sering melempar pandangan ke arah yang sama, kita saling mencela, padahal sesungguhnya kita adalah tetangga yang ramah dan sering bekerjasama.

Gara-gara politik tanpa ideologi itu, kini kita sering bersitatap dengan penuh kaku, terpaksa bersalaman dan bertukar sapa dengan terbata-bata, sembari mengingat sumpah serapah yang pernah sama-sama kita tabur di media sosial, mungkin menyesali benci yang bermukin di hati atau malah memupuk amarah mengincar lengah. Kita sama menelan ludah yang mengering di kerongkongan, menertawai luka yang diderita.

Aih... Ada apa sebenarnya? Bukankah kita gandrung kebajikan yang sama, kita sedang memperjuangkan kebenaran yang sama. Kita memiliki pengertian yang sama soal kejujuran, keadilan dan kesejahteraan, lantas kenapa kita memiliki tafsir yang berbeda hanya karena soal kubu tanpa ideologi itu?

Kita adalah representasi dari seluruh masyarakat yang terbagi. Zaadit Taqwa, bisa jadi memang bego dan bloon, kurang baca dan kader partai tertentu, tetapi apa yang salah dari substansi kritiknya, sejak kapan kritik itu punya aturan harus lulus mata kuliah ekonomi makro lebih dahulu, harus mengalami dulu dan bla bla persyaratan yang lain. Jokowi, barangkali juga memang kampungan dan ndeso, tetapi apakah sama sekali tanpa prestasi atau kita yang miskin apresiasi?

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana populisme menjadi diktator, ketika para intelektual menjadi pembeo, mahasiswa kehilangan nalar kritisnya, Jokowi tanpa kritik. Di sisi lain, kita juga tak bisa membayangkan jika semua aktivitas Jokowi dianggap salah, bangun tol salah, jalan ke sana-sini salah, lantas dia bisa apa?

Kita, memang, sekali lagi mengutip Arif Budiman, beda kubu tetapi sama laku, sama-sama pemelihara benci dan dengki, padahal untuk merawat keberagaman dan membangun Indonesia, kita sebenarnya cukup menjadi manusia yang setia pada akal sehat, nurani dan kewarasan.

Kita, masih bersaudara kan?