Dicari, Iman yang Hilang

- February 19, 2018
Mahatma Ghandi, Manusia Kuat

Pada sebuah kesempatan, seorang kawan mengajukan pertanyaan, apakah Tuhan itu statis atau personal?  Di saat yang sama, di hadapan saya tergeletak sebuah buku yang juga penuh pertanyaan. Mampukah agama hidup tanpa kebebasan, imajinasi, fantasi, inovasi dan kreativitas sama sekali?

Belum sempat saya memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dia sudah menyodorkan sebuah buku The God Delusion karya Richard Dawkins.

Sebuah pertanyaan sederhana yang sangat mengusik. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah banyak membuat orang yang malas berpikir, berputus asa kemudian menghukumi mereka yang bertanya, sebagai sesat, tak bertuhan, kafir dan tudingan-tudingan lain, manifestasi dari ketidakmampuannya menjawab soal-soal yang diajukan itu.

Apa pentingnya pertanyaan tersebut? Pertanyaan balik bernada sinis dari beberapa orang.

Tentu bagi saya sangatlah penting, untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kita mempersepsikan keyakinan dan cara meyakini Tuhan.

Apakah Tuhan setelah menciptakan alam semesta dan isinya, menciptakan manusia dan segenap potensinya, menurunkan aturan-aturan, kemudian setelah itu Tuhan bersemayam di 'arsy dan hanya menonton sepak terjang ciptaan-ciptaan-Nya dalam menjalani kehidupan? Ataukah Tuhan masih terlibat mengintervensi perjalanan kehidupan makhluk-Nya?

Sekitar 20-an tahun yang lalu, di pulau saya, seorang penganut fatalisme pernah tertangkap melakukan perbuatak tak senonoh terhadap seorang perempuan, dan dengan entenngnya ia berdalih, bahwa apa yang ia lakukan tersebut adalah 'keinginan' Tuhan, karena tak mungkin ia bisa melakukan sesuatu yang Tuhan tak restui.

Saya tentu saja tak ingin terburu-buru menjawab, dan kawan tadi juga tak memaksa saya untuk memberikan jawaban yang ia inginkan. Kami akhirnya berdiskusi tentang pengalaman keagamaan, perjalanan spritualitas dan hal-hal yang dialami bersama orang-orang beragama di sekitar kami.

Ada banyak hal yang diimani, yang seringkali membuat kita menghukumi keyakinan orang lain sebagai sesuatu yang salah, atau bahkan keyakinan-keyakinan yang justeru membatasi gerak, sedikit-sedikit haram dan tak boleh, sebuah keimanan yang justeru melahirkan rasa was-was, membangkitkan emosi dan mengundang kemarahan, padahal semestinya iman mampu memberi rasa aman, menciptakan kedamaian, keselamatan dan kasih sayang.

Lantas, muncul pertanyaan kembali, sebenarnya beragama untuk apa dan siapa? Pertanyaan pragmatis tersebut, seakan-akan menggugat iman, tentang kemampuan menuhankan Tuhan, tetapi di sisi lain, justeru gagal memanusiakan manusia.

Jika sedikit mau jujur, seringkali agama beragama seperti itu didasarkan pada persepsi, imajinasi personal, ilusi atau tepatnya delusi. Keinginan-keinginan personal yang diklaim sebagai keinginan Tuhan. Mempersepsikan keshalehan-keshalehan dengan simbol-simbol, seolah-olah Tuhan sangat mencintai simbol-simbol itu, padahal berkali-kali Nabi menyampaikan pesan suci, bahwa Tuhan itu tak melihat jasad dan penampilan (simbol), melainkan Ia melihat hati yang suci dan amal nan bajik.

Tak terasa, lebih dari tiga jam kami berdiskusi, Saya izin menjeda diskusi untuk menunaikan salat, tetapi ia pun pamit untuk menjemput keluarga. Sebelum kami, berpisah kami menyepakati satu hal, bahwa terkadang penampilan itu perlu, tetapi bukan untuk Tuhan, melainkan untuk membantu sesama, agar tak terus-menerus merendahkan,Sisanya kami berjanji untuk terus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, dan sewaktu ngobrol bareng lagi, untuk sama-sama menemukan kesejatian beragama, yang tak hanya didasarkan pada semangat dan imajinasi personal.

Setiba di rumah, di sore yang gerimis itu, saya membolak-balik kembali Tema Pokok al Qur'an-nya Fazlur Rahman, Menalar Tuhan karya Frans Magnis Suseno dan catatan-catatan hariannya Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam.

Saya membaca dan merenungkan kembali, apa yang dimaksudkan Tuhan sempurna kreatif oleh Rahman. Menangkap dan merekontstruksi cara pikir dan merasionalisasi kembali apa yang ditulis oleh Romo Franz sebagai petunjuk adanya Tuhan, di halaman 146 - 149 di bukunya itu. Sekaligus berusaha memahami secara obyektif, kegenitan dan kenakalan-kenakalan pertanyaan yang dilontarkan Ahmad Wahib.

Mengajukan pertanyaan balik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, apakah kejadian-kejadian yang sedang berjalan di alam semesta ini terjadi kebetulan? ataukah itu menjadi bagian dari kreativitas Tuhan?

Apakah tatkala saya gelisah dan marah dengan keyakinan orang lain, lumrah dalam iman atau justeru iman saya salah? Bukankah, mestinya setiap orang yang bertemu dengan orang yang beriman, orang tersebut menjadi nyaman dan tentram, risalah agama itu sama, selalu membawa pesan kasih, menolak iri dan dengki? O, di mana sebenarnya iman dan agama saya, kenapa justeru dada dipenuhi 'rasa benar sendiri', disesaki deret antrian iri dan dengki.