Dangdut di Pusaran Politik

- February 02, 2018

Via Vallen dan Nella Kharisma adalah dua simbol yang menjadi bukti bahwa musik dangdut sangat diperhitungkan di dunia politik. Gus Ipul, calon gubernur Jawa Timur mendaulat mereka menjadi bagian dari tim kampanye, lewat lagu Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur, Via Valen dan Nella Kharisma diharapkan mampu menarik jumlah pemilih lebih banyak.

Bukan hanya Via Valen dan Nella Kharisma, sederet nama artis dangdut seperti Nassar, Zaskia Gotik, Siti Badriah hingga penyanyi-penyanyi dangdut lokal selalu terlibat atau dilibatkan dalam kegiatan kampanye politik, simpulnya nyaris tak ada panggung kampanye tanpa musik dangdut.

Panggung memang merupakan habitat musik dangdut, maka tak berlebihan jika Jim Schiller menulis dalam Deepening Democracy: Direct Elections for Local Leaders, bahwa popularitas musik dangdut sejak tiga dekade lalu terlalu sering digunakan menyatukan massa yang notabene datang dari latar belakang berbeda. Tujuannya selain meredam ketegangan, juga demi membentuk citra kandidat yang dekat dengan rakyat.

Barangkali, maksud elit politik melibatkan dangdut dalam panggung kampanye politik mereka adalah mencoba mengobati kesedihan dan kenestapaan rakyat dengan irama musik menghentak-hentak, menawarkan kesenangan dalam goyangan, meski isinya hanyalah kesenangan sesaat dan sisanya adalah kepalsuan. Dan, ketika alunannya berhenti, kita tersadarkan,oleh kenyataan bahwa nasib sebagai mana istilah Chairil Anwar adalah kesunyian masing-masing.

Dangdut, dari awal selalu diidentikkan sebagai musik kelas bawah, musik rakyat, maka ia bisa dijadikan alat untuk mendekati rakyat. Bahkan dangdut pernah dituding sebagai sesuatu yang berkesan griezelig, macabre, creepy, nggilani, dan tahi anjing oleh Remy Sylado pada tahun 1966 di Majalah Mingguan Gatra dalam tulisan berjudul Urusan Goyang.

Dalam tulisan lain Remy menuding Rhoma Irama sebagai tokoh dangdut, hanya sebagai musikus yang mencangkokkan aliran musik cadas (rock) ke dalam dangdut, tak memiliki orisinalitas, imitasi, telah menghamba kepada selera massa, tidak menjaga patokan-patokan kebudayaan yang semestinya. (Ulumul Qur’an No. 01/XXI/2012).

Namun, kini dangdut tak lagi menjadi ikon musik kaum pinggiran melainkan telah menjadi ikon musik populer yang digemari oleh seluruh kalangan, dangdut telah menjadi identitas sosio-kultural yang bergerak secara lintas sektor. Dangdut tidak lagi bisa dianggap sepele, dilirik oleh industri, diperebutkan oleh politisi.

Seiring dengan itu pula, dangdut mengalami pergeseran selera yang disebut oleh Mochammad Salafi Handoyo dalam tulisan Membangun Identitas Dangdut, sebagai penanda atas proses pembanding dan gejolak berpikir rakyat atas kehidupan sosial, dalam istilah lain evolusi musik dangdut merupakan evolusi wajah kehidupan sosial Indonesia.

Dangdut yang mulanya adalah refleksi semangat dan aspirasi rakyat, khususnya masyarakat kelas bawah dengan lagu-lagu bertema perjuangan dan kemanusiaan yang diciptakan oleh Rhoma Irama, diikuti oleh penyanyi-penyanyi seperti Mansyur S, Ida Laila, A. Rafiq, dan Muchsin Alatas telah memaksa beberapa grup penyanyi pop seperti Koes Plus menerbitkan beberapa album pop dangdut.

Bukan hanya itu, dangdut lewat Soneta Grup yang dikomandani Rhoma Irama pernah ‘berduel’ dengan beberapa aliran musik cadas seperti The God Bless, The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Black Sabbath, Grand Funk Railroad, Emerson Lake Palmer, dan Deep Purple di Indonesia.

Lagu Barat yang populer antara tahun 1960 hingga 1970-an, berhasil didangdutkan, beberapa musik daerah seperti gitar suling dari Cirebon juga sebagian bermetamorfosis menjadi tarlingdut, dangdut dan rock menjadi rockdut, langgam jawa menjadi campur sari, kerongcong dangdut menjadi congdut. Pada tahun 1980-an dangdut akhirnya berhasil melahirkan subgenre musik, beberapa musik yang berasal dari Melayu Deli Sumatera, melahirkan Orkes Melayu (OM) Pancaran Sinar Petromaks (PSP), dilanjutkan oleh OM Pengantar Minum Racun (PMR) yang dimotori oleh Johny Iskandar.

Kini, dangdut menjadi ruang ekspresi baru bagi rakyat menumpahkan kebebasannya, selain menjadi cara menggerakkan massa dalam hingar-bingar politik di musim kampanye pemilu, kegaduhan ruang-ruang diskotik, klub malam dan berbagai tempat hiburan juga selalu menjadikan musik dangdut sebagai menu utama. Para artis yang memiliki modal suara dan wajah pas-pasan, juga selalu menjadikan dangdut sebagai jalan pintas untuk populer dan mengeruk materi.

Pada tahun 2000-an, musik dangdut ala organ tunggal yang menampilkan penyanyi perempuan berpakaian seksi dan aransemen musik dinamis, semakin terangkat. Lambat laun selera masyarakat bergeser, lagu-lagu perjuangan, nada dan dakwah perlahan tergantikan oleh Cinta Satu Malam, Poko’e Joged, Janda di Bawah Umur (Jamur), Sambalodo, Merem Melek, Aku Mah Apa Atuh, Klepek-Klepek dan beribu judul lainnya yang bergenre dangdut koplo masuk ke ruang-ruang pribadi kita, dari suara-suara yang mendesah binal baik lewat radio, hape maupun TV.

Penikmat bus malam antar provinsi juga barangkali tak terlalu sulit untuk menemukan genre musik dangdut koplo ini, OM. Sera, OM. Pantura, OM. Monata, New Palapa, Ken Arok, Renata, OM. Sonata dan berbagai nama lain.

Namun, apapun bentuknya, dangdut adalah wajah kehidupan sosial kita termasuk di dalamnya wajah politik Indonesia. Meski segala macam kemunafikan panggung politik secara tak langsung dan tanpa sadar berhasil ditelanjangi oleh goyang pantat seksi dan tubuh para biduan yang bahenol,  kita tetap harus memupuk harapan baru pada genre dangdut koplo generasi Via Valen, wajah cantik, suara menarik, dan dalam balutan busana sopan nan estetik, dangdut tetap mampu menawarkan pesan-pesan moral dengan show-show yang juga bermoral.

Pesan dari lagu kabeh sedulur, kabeh makmur menurut saya bukan hanya soal pesan kampanye Gus Ipul, melainkan pesan universal agar kita selalu menjaga kebersamaan, merawat toleransi dan menipiskan ego paling benar. Saya berharap irama musik dangdut mampu mempengaruhi ritme politik menjadi teratur sehingga bisa dinikmati bersama.

Akhirul kalam, marilah kita nikmati permainan elit politik ini seperti kita menikmati musik dangdut, menggoyangkan kepala, kaki dan tangan, sembari meneguk kopi pahit dan mengisap rokok. Tak perlu di bawa terlalu serius, hingga menanamkan benci dan menyisakan dendam.

Tabik.