Rumah Tempat Terindah Untuk Kembali

- January 31, 2018

Belakangan ini saya seringkali mendengar guyonan lepas beberapa kawan-kawan, "...Jangan terlalu lama main di luar, entar lupa jalan pulang! Segera kembali ke rumah." Atau kalimat, "...Jika sudah lelah bermain, pulanglah ke rumahmu!"  

Tentu saja, itu hanyalah ungkapan bercanda kawan satu terhadap beberapa kawan lainnya yang belum menentukan sikap dan pilihannya untuk memilih atau menjadi tim sukses. Seringkali ungkapan serupa juga ditimpakan kepada kawan yang berbeda pilihan dan kebetulan minoritas dalam sebuah kelompok obrolan sesama pegiat politik.

Ala kulli hal, terlepas dari perbincangan politik, siapapun setuju bahwa tempat terbaik untuk kembali adalah rumah. Tuhan membuat tamsil bahwa rumah yang menjadi tempat terbaik untuk kembali adalah darul akhirat, dalam beberapa teks suci seruan untuk menapaki jalan kembali ke darul akhirah itu, mesti melalui beberapa anak tangga, bersegera kembali kepada permaafan Tuhan dan keridhaan-Nya, adalah beberapa anak tangga yang dipersyaratkan untuk sampai ke dalam rumah sebagai tempat kembali yang menenangkan itu.

Memaknai rumah memang tidaklah sesederhana pengertiannya, apalagi sesedarhana obrolan politik yang padat kepentingan.  Ada puluhan penggunaan kata rumah dengan berbagai makna sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Rumah, kadang diartikan sebagai tempat tinggal, tetapi rumah tidak selalu bermakna tempat tinggal, sehingga untuk menegaskannya tak jarang orang kemudian menyebut rumah tinggal, sebagai cara untuk membedakannya dari rumah-rumah yang ditujukan untuk kegiatan, seperti rumah makan, rumah baca, rumah duka, rumah ibadah, rumah jagal atau rumah produksi. Ada juga rumah dengan makna kiasan, seperti rumah sakit atau rumah tangga, selain kita juga mengenal istilah rumah dinas, rumah kost, rumah yatim piatu hingga rumah tahanan.

Akan bertambah banyak lagi pemaknaan tentang rumah ketika dihubungkan dengan keragaman suku dan budaya Indonesia, masing-masing daerah memiliki bentuk dan karakter rumah adat, seperti rumah panjang, rumah panggung, rumah gadang atau dalam lokalitas Lampung, dikenal juga istilah nuwo dan lamban, yang bisa dimaknai juga dengan rumah, nuwo agung, nuwo budaya, lamban kuning, lamban sastra dan seterusnya.

Reyner Banham & Francois Dallegret, menulis a home is not a house. Dalam bahasa Inggris, home dan house memang dibedakan artinya, mungkin serupa rumah dan omah. Home biasanya untuk menjelaskan sebuah tempat dimana kita merasa nyaman di dalamnya, meskipun itu bukan sebuah rumah (bangunan fisik). Seperti halnya Tarzan yang mengatakan “hutan” sebagai rumahnya (Jungle is Tarzan’s Home), dan house digunakan jika hal yang dimaksudkan adalah rumah yang sebenarnya (dan ada bangunan dalam bentuk fisik).

Rumah, memang bukan lagi secara sederhana bisa dimaknai hunian, tempat tinggal atau tempat melepas penat, rumah bahkan lebih jauh telah menjelma menjadi identitas baru, sebagai sekadar properti yang mengunggulkan nilai ekonomi dan mulai menanggalkan makna psikologis dan filosofis, rumah mulai kehilangan cultural-value bertransformasi menjadi ecomic-capitalism.

Dulu, kita masih sering menjumpai rumah panggung yang berjejer dengan bentuk yang sama, sebuah petunjuk betapa nilai-nilai kebersamaan, egalitarian dan sikap tenggang rasa begitu terjaga dan dijaga oleh leluhur kita, jika pun si pemilik rumah hendak memberi sentuhan, biasanya pada isi (bagian dalam) rumah, sisi interiornya.

Kiwari, sisi terpenting rumah adalah eksterior, karena hal tersebut terkait dengan eksistensi si pemilik, identitas dan kelas sosialnya. Tak heran, trend membangun rumah sering tak mengindahkan lingkungan dan efek resapan air, mengeksploitasi lahan dan memenuhi ruang-ruang bumi dengan kedok  arsitektur dan hunian, rumah adalah pamor dan rasa percaya diri.

Ironisnya, setelah dibangun rumah-rumah tersebut justeru jarang ditempati para pemiliknya, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di jalan, di kantor dan di tempat-tempat kerja, berburu materi untuk biaya perawatan rumah, mengumpulkan banyak dana untuk membongkar dan mendesain ulang, memperindah dan mempercantik kembali, sehingga tampilan rumahnya tak dinilai orang kurang up to date (kekinian).

Rumah, yang lebih banyak ditunggui dan dinikmati oleh pembantu yang dibayar untuk merawat atau mengasuh anak si pemilik rumah, alih-alih menjadi surga (baiti jannati), yang ada justeru rumah terkesan memperbudak tuannya untuk merawat dan menjaga eksterior dan estetikanya.

Modernitas berhasil menggerus filosofis dan nilai-nilai asasi yang fundamental dari rumah, bahkan rumah seolah telah kehilangan kesejatian fungsinya. Di titik ini, sangat penting untuk merenung, menemukan kembali autentisitas di tengah hiruk pikuk dan kebisingan modernitas, bahwa pada dasarnya filosofi hidup yang paling baik bukanlah mengambil sebanyak-banyaknya, tetapi mengambil secukupnya dari dunia/alam, termasuk merenung kembali sembari menggugat, “untuk apa rumah dibuat mewah dan megah, padahal kita sesungguhnya memiliki jarak secara psikologis dengan rumah yang kita bangun.”

Meskipun, tentu saja setiap orang berhak bermimpi, membangun rumah bak istana, sebagaimana mimpi yang didendangkan Meggy Z, dalam lagu “Gubuk Bambu”.

Di dalam gubuk bambu/Tempat tinggalku/Di sini kurenungi nasib diriku
Di dalam gubuk bambu/Suka dukaku/Di sini kudendangkan sejuta rasa
Kuhapuskan derita dan air mata/Kunyanyikan selalu lagu ceria
Kupasrah dan berdoa/Tak putus asa/Suatu saat nanti/Nasib berubah
Kucing pun menari/Mengajak ku bercanda/Hati riang membuatku bahagia
Siang dan malam/Aku membanting tulang/Demi untuk hidup di masa depan
Aku yakin dan ku percaya/Nanti si gubuk bambu jadi istana.

Meggy Z, mungkin juga kebanyakan orang menganggap bahwa istana adalah tempat yang lebih menjanjikan kebahagian daripada gubuk bambu. Tetapi, baiknya kita juga mengingat istana Versailles yang megah dan mewah milik Marie Antoinette di Prancis, siapa sangka justeru Marie lebih senang tinggal disebuah gubuk yang bernama Hameu de la Raine, gubuk itulah yang justeru menjadi tempat istirahat bagi Marie dari kehidupan istana yang melelahkan.

Gubuk Hameu de la Raine, yang dulunya menjadi bagian dari halaman Istana Versailles, kini terpisah dengan istana dan harus ditempuh dengan kereta karena jauh, adalah tempat Marie menghabiskan waktu berhari-hari. Di gubuk tersebut juga terdapat tulisan ‘rumah merenung Marie Antoinette’. Tak ada yang tahu pasti, apa yang direnunginya, entah merenungi diri sebagai pengkhianat cinta suaminya dan mata-mata sebagaimana yang dituduhkan kepadanya adalah misteri yang tak pernah terpecahkan hingga kini.

Namun, paling tidak Marie dan gubuknya Hameu de la Raine mengajarkan kepada kita, bahwa bukanlah istana yang melainkan tempat yang nyaman, a home is not a house,  tempat merenung dan tempat kembali menyemai asa dan kebahagiaan. Rumah adalah mikro kosmos dari sebuah keluarga, semua (?) pasti (ingin) pulang ke rumah induk, rumah leluhur, tempat berkumpul, di mana harmonis, rindu dan cinta dibangun.

Di ata segalanya, rumah yang di dalamnya senantiasa ada cinta, rindu, harmoni, kesetiaan dan kemanusiaan sebenarnya dalam kehidupan ini adalah nurani, di mana kesempitan bisa berubah menjadi kelapangan, gubuk menjadi istana.

Jika kau lelah menapak gemerlap dunia yang tak berujung, padahal hartamu bertumpuk, tetapi resah masih memeluk, maka pulang dan segeralah kembali ke rumahmu, nuranimu, dan jenguklah hati yang lama kamu abaikan.