Profesi Keren itu Bernama Broker

- January 29, 2018
Broker, Broker Politik, Omah1001

Broker itu bukan singkatan dari brother keren loh! Tetapi ini sesuatu hal yang mengait erat dengan profesi sampingan beberapa orang. Profesi ini sangat jeli memanfaatkan momentum, musim pemilu ia muncul sebagai broker politik, musim proyek maka ada broker proyek, entar kalo ada musim poligami, pasti bakal muncul juga broker poligami.

Rata-rata kamus memberi pengertian broker sebagai makelar, pialang; pedagang perantara yang menghubungkan pedagang yang satu dengan yang lain dalam hal jual beli, atau menghubungkan antara pedagang dan pembeli.

Praktik broker sebagaimana definisi di atas, pernah dialami oleh seorang milyarder tersohor, Christopher Gardner. Tokoh yang lebih dikenal dengan nama Chris Gardner ini mulanya adalah gelandangan, masa kecil dilaluinya dengan memutuskan lari dari rumah karena sering disiksa ayah tirinya, kemudian tinggal di panti asuhan.

Gardner tak pernah bisa menyelesaikan sekolah, hingga ia memutuskan untuk bekerja kepada ahli jantung, yang kemudian mempekerjakannya sebagai asisten penelitian klinis. Gardner kemudian berganti pekerjaan, menjadi penjual alat medis, yang kemudian mengantarkannya bertemu pria pemilik Ferari merah, Ferari yang kemudian menjadi titik awal perubahan kehidupan Gardner, dengan dua pertanyaan yang ia ajukan kepada si pemilik Ferari, “apa yang Anda lakukan?” dan “bagaimana Anda melakukan itu?”

Jawaban si pemilik Ferari, seolah menjadi jawaban takdir Gardner. Broker! Dia tak memiliki pendidikan, maka dia merasa sangat cocok untuk menjadi broker. Gardner menunjukkan keseriusannya menjadi broker dengan mengikuti kursus dan pelatihan, dan akhirnya mengantarkannya direkrut untuk bekerja di perusahaan broker Dean Witter, pernah juga menjadi marketing terbaik dengan penjualan tertinggi di San Fransisco dan New York ketika ia bergabung dengan perusahaan broker Bear, Stearns & Company tahun 1983, sebelum akhirnya memutuskan berhenti.

Gardner kemudian merintis usaha sendiri, Gardner Rich & Co di Chicago, Illinois dan terakhir mendirikan mendirikan Christopher Gardner International Holdings di New York, Chicago dan San Fransisco. Gardner pernah bertemu dengan Nelson Mandela untuk membicarakan kemungkinan investasi di Afrika Selatan, yang dikabarkan akan membuka ratusan pekerjaan untuk jutaan orang.

Gardner adalah contoh broker yang sukses, yang dikenang dan akhirnya diikuti banyak orang, terutama dalam dunia broker saham.

Namun, ternyata praktik broker tidak hanya ditemui pada sisi kehidupan ekonomi sebagaimana definisi dan cerita di atas. Hampir seluruh sisi kehidupan lain, dipenuhi oleh banyak broker, ada broker cinta istilah lain dari mak comblang yang bertugas menghubungkan rasa seseorang kepada seseorang yang lain, ada broker angkot atau sebutan lain cakil atau calo di terminal yang menghubungkan penumpang dengan sopir angkot, ada broker sedekah yang menghubungkan dermawan dengan masakin hingga broker demonstrasi yang menghubungkan massa demonstran dengan si pemilik isu/kepentingan, termasuk tak ketinggalan broker proyek yang menghubungkan pengusaha dengan penguasa.

Kekinian, berhubung musim pilkada serentak profesi broker juga merambah dunia politik, jadilah ngetrend broker suara. Broker suara ini beragam, tergantung profesi awalnya, jika dia adalah pengurus partai politik dia juga bisa menjadi broker untuk menghantarkan calon tertentu untuk mendapatkan rekomendasi partai, dengan asumsi akan mendapatkan keuntungan prosentase dari 'mahar' yang disetorkan si calon untuk mendapatkan perahu partai atau bisa juga mendapatkan insentif lainnya.

Jika ia kebetulan adalah tokoh masyarakat, ia juga bisa menjadi broker yang menghubungkan antara si 'calon' yang membutuhkan suara dengan rakyat, kelompok atau komunitas tertentu yang punya basis suara. Tentu saja dengan prasyarat yang disepakati, nominal sejumlah uang.

Begitulah broker itu masuk dalam seluruh sektor kehidupan dan hidup kita.

Broker sejatinya sebagaimana Gardner melakoni pekerjaan ini dengan pengetahuan, proses dan keuletan, bukan dengan cara instan dan abrakadabra, yang kemudian berakhir pada kesuksesan. Broker yang lahir belakangan dalam konteks zaman yang serba cepat dan instan, melahirkan mentalitas yang akhirnya juga instan, jangka pendek dan serba tergesa-gesa, terburu-buru menginginkan kekayaan tanpa harus berproses alih-alih dengan pengetahuan dan ketekunan.

Sebutlah misal, broker proyek dan broker politik di atas. Pekerjaan menjadi broker proyek dan politik ini kebanyakan bukanlah pekerjaan utamanya, tetapi bisa menjadi penghasilan utama. Hanya mengandalkan kedekatan, relasi dan akses. Mereka yang bekerja menjadi broker ini, jika bukan “orang dalam”, maka bisa dipastikan adalah mereka yang datang dengan penawaran-penawaran “setoran” menggiurkan.

Broker proyek ini sangat populer di negeri ini, sebutlah salah satunya adalah Nazarudin yang sudah ditangkap, atau berderet nama lain yang berprofesi sebagai anggota legislatif pusat, tetapi tetap nyambi menjadi broker proyek yang bertugas menghubungkan pejabat-pejabat daerah dengan pusat. Begitupun broker politik, sangat populer, meski belum ada yang ditangkap.

Broker, memang pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus dan menggiurkan, dia terlahir sangat istimewa, bisa sebagai keluarga dari salah satu pihak, pengusaha atau penguasa, bisa juga orang yang memang piawai dan pialang, sebagaimana takdirnya sebagai broker. Seorang broker memiliki keuntungan ganda, dia bisa sangat dekat dengan penyedia jasa dan barang, dia juga bisa sangat dekat dengan pihak penyedia modal. Mujur ia bisa mendapatkan keuntungan ganda, bahkan bisa lebih besar dari kedua belah pihak. Broker adalah juru kunci, pemegang Kartu As, pada saat genting dan penting.