Politik dan Sepak Bola di Tahun 2018

- January 30, 2018

Presiden Jokowi menyebut tahun 2018 ini sebagai tahun politik, namun bagi pecinta sepak bola tahun 2018 adalah tahun sepak bola. Dua event besar tersebut memang akan digelar sepanjang tahun 2018 ini.

Untuk event sepak bola, di tahun 2018 ini setidaknya ada ada tiga agenda sepak bola internasional yang akan digelar di Indonesia, Asian Games, Piala Asia U-19, dan Piala AFF.

Di luar event internasional, kompetisi lokal seperti Piala Presiden 2018, Liga 1, Liga 2, hingga Liga 3 (Liga Nusantara) juga akan menjadi kompetisi yang akan mengawali awal tahun ini.

Dan yang lebih besar lagi gaungnya, terasa hingga sudut-sudut kampung di negeri ini adalah event Piala Dunia 2018, event sepak bola sejagad ini mempertemukan 32 negara terbaik sedunia dan secara kebetulan bertepatan dengan event Pemilu di Indonesia, yakni Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada.

Sebanyak 171 daerah yang terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada 27 Juni 2018 mendatang. Disimpulkan bahwa tahun 2018 adalah tahun sepak bola dan politik.

Saya teringat 3 tahun yang lalu, ketika awal kali Chusnunia Chalim atau yang akrab disapa Nunik yang kini menjadi Bupati Lampung Timur bergabung dalam diskusi-diskusi yang digelar komunitas, sepak bola adalah salah satu tema diskusi yang beliau menjadi salah satu pemantiknya. Diskusi yang hangat di tengah Taman Merdeka, Kota Metro, diskusi yang sekaligus memunculkan ide agar ia maju menjadi Bupati Lampung Timur, ide genit yang dilontarkan Endri Y, yang dulunya saya kenal sebagai Endri Kalianda, Pimred Editor, koran politik satu-satunya yang ada di Lampung.

Dari Nunik jugalah saya akrab dengan istilah “tidak ada yang penting dari politik, kecuali kemanusiaan dan tidak ada yang penting dari kekuasaan kecuali kekuasaan yang bermanfaat bagi sesama manusia”, istilah yang saya tahu pernah di populerkan oleh Socrates (w. 2011), salah satu legenda sepak bola Brazil.

Socrates bernama lengkap Socrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira, adalah seorang filsuf, dokter, penulis sekaligus pemain sepak bola yang lahir dari keluarga miskin. Ayahnya sangat suka membaca, ia mengunyah buku-buku filsafat Yunani, dan dari kegemaran membaca buku-buku filsafat itulah nama Socrates dipilih ayahnya untuk menjadi namanya.

Sejak kecil Socrates sudah memiliki ketertarikan pada persoalan politik, Socrates paham betul arti penting demokrasi dan kebebasan bagi manusia. “Di tahun 1966 ada kudeta militer. Aku masih 10 tahun dan ingat bagaimana ayahku membakar buku-buku tentang Bolshevik. Itu mengapa aku tertarik pada politik,” jelas Socrates megungkapkan alasan ketertarikannya terhadap politik dan kemanusiaan.

Socrates sangat mengagumi sosok Fidel Castro dan Che Guevara. Dalam perjalanan politiknya, ia pernah menjadi anggota Partai Buruh Brazil dan berpidato di depan peserta rapat umum yang menghimpun 1,4 juta orang, pada tahun 1984. Ia berjanji kepada massa aksi yang mengelu-elukannya, kalau kongres mengamandemen konstitusi untuk mengembalikan pemilu bebas, dirinya akan menolak tawaran untuk bermain di Italia.

Socrates juga mengeritik model pembangunan kapitalistik. Dia bilang, “kita harus mengubah fokus pembangunan. Kami harus memprioritaskan kemanusiaan. Ironisnya, dalam dunia yang terglobalisasi, orang justru berfikir tentang uang.”

Bagi Socrates, terlibat dalam politik adalah kewajiban. Dan dia mengaku, rakyat telah memberinya inspirasi dalam bermain bola. “Jika rakyat tidak punya kekuatan untuk menyampaikan sesuatu, maka saya akan menyampaikannya atas nama mereka. Jika saya berada di pihak lain, bukan di pihak rakyat, maka tidak ada orang yang akan mendengar saya.” pernyataannya dicatat media.

Socrates memberitahu kepada kita, bahwa di manapun kita berada, bahkan di lapangan hijau sekalipun, tugas kemanusiaan itu selalu melekat. Dan Socrates menggunakan sepak bola untuk membela kemanusiaan dan demokrasi.

Di dalam tim, Socrates memulai karirnya sebagai pemain sepak bola professional di klub Corinthians, Sao Paulo. Konon, cikal bakal klub ini dibangun oleh kaum pekerja kereta api di Sao Paulo. Namun, versi lain menyebutkan, klub ini tumbuh dari gerakan pro-demokrasi penentang kediktatoran.

Di klubnya, Corinthians, Socrates membangun sel perlawanan anti-kediktatoran. Ia juga menciptakan gerakan demokratisasi di dalam klub-nya. Ia membentuk apa yang disebut “Time do Povo” atau “Team untuk Rakyat”. Dengan persetujuan Presiden klub, Waldemar Pires, para pemain menciptakan proses demokratis dalam pengambilan segala keputusan. “Semua orang punya hak yang sama untuk menentukan nasib klub,” kata Socrates.

Socrates tampil 297 kali membela Corinthians dan mempersembahkan 172 gol. Salah seorang supporter fanatiknya adalah aktivis Serikat Buruh, Lula Da Silva, yang kelak menjadi Presiden Brazil (2003-2011).

Politik Kemanusiaan

Jika sepak bola meniscayakan untuk menanggalkan ego, mengutamakan kerjasama dan bekerja dalam lintas keyakinan, sangat toleran dengan perbedaan sehingga bisa berbagi peran dengan baik di atas lapangan, lalu apakah politik benar-benar bisa bekerja untuk kemanusiaan?

Sepak bola selalu mampu meredam dendam ketika usai pertandingan, meski ada juga fans-fans sepak bola yang sangat fanatik, berbeda dengan politik, selalu menyisakan duka berkepanjangan meski pesta telah usai sekian lama. Saling bully di media sosial meneguhkan wajah politik yang tak ramah, hingga jargon politik untuk kemanusiaan seakan pemoles bibir, yang indah didengar namun susah dibuat nyata.

Tahun 2018, adalah tahun di mana dua event  yang banyak menyedot perhatian massa digelar, sepak bola dan pilkada serentak. Memang keduanya tak sama, tetapi ada banyak kemiripan. Dalam sepak bola, klub peserta Piala Dunia 2018 telah ditetapkan melalui proses kualifikasi dan verifikasi yang ketat, tanpa Belanda dan Italia. Sebentar lagi peserta pilkada serentak juga akan ditetapkan, melalui seleksi dan verifikasi yang ketat juga, mungkin ada bakal calon terbaik yang tak bisa ikut perhelatan Pilkada, sebagaimana juga di Piala Dunia, namun kita yakin para fans dan supporter tetap bisa ikut menonton.

Sebagai penonton yang menjagokan Italia, saya juga akan tetap menonton meski Italia gagal menjadi peserta. Sembari tetap berusaha merawat kewarasan dan nilai-nilai kemanusiaan sekaligus berharap akan mendapatkan tontonan yang indah (fair play), jujur, nir-SARA dan tidak diskriminatif.