Pariyem : Menafsir Ulang 'Nrimo' Sebagai Kepasrahan Absolut

- January 22, 2018

Rasa dosa tidak saya kenal, tapi rasa malu saya tebal (Pengakuan Pariyem)


Apakah inti dari agama? Kepasrahan absolut, penyerahan diri secara total tanpa reserved, tanpa syarat. Membiarkan diri yang terbatas bergantung terhadap kemutlakan Tuhan, ke-maha takterbatas-an Tuhan. Bahkan, Islam secara lughawi dimaknai sebagai sikap pasrah, menyerahkan diri seutuhnya (islam kaffah) kepada kuasa Tuhan, berislam berarti menyerah, tunduk, menyadari dan menerima keterbatasan diri, sehingga memerlukan sesuatu yang tak terbatas, Tuhan.

Begitulah, saya hendak menggambarkan bagaimana konsepsi nrimo, pasrah yang dijalankan oleh Pariyem, Maria Magdalena Pariyem lengkapnya, perempuan dari Wonosari, Gunung Kidul dalam novel Pengakuan Pariyem (Dunia Batin Seorang Wanita Jawa) karya Linus Suryadi AG ini. Bukan, soal gumaman kata-kata, aku ikhlas, nrimo, pasrah menjalani kehidupan yang menjadi takdirku. Sikap nrimo Pariyem adalah sinergi kata dan karya, ucap dan sikap, kepantasan dan memantaskan diri.

Pertama kali saya melihat novel ini, yang menarik perhatian sebenarnya adalah anak judul "Dunia Batin Seorang Wanita Jawa"  yang ditulis lebih kecil dari judul utama novel ini, kebetulan saya sedang bergairah membaca 'Jawa' akhir-akhir ini. Dan, tepat, selama perjalanan dari Jogja - Lampung, saya berhasil menyelesaikannya, meski lumayan terganggu dengan beberapa bahasa Jawa, yang tak saya mengerti, saya senang dan beruntung berkesempatan memahami Jawa dengan cara ringan dan menghibur lewat tulisan Linus Suryadi AG.

Pariyem, tokoh utama dalam novel ini, di bantu Ndoro Kanjeng, Ndoro Ayu, Den Bagus, Ndoro Putri, dan Kliwon. bercerita tentang banyak hal dalam masyarakat Jawa, cerita ini pun terasa sangat dengan kehidupan manusia, narasi hidup sehari-hari, meski bukan Jawa.

Pariyem, perempuan dari desa yang menjadi babu di kediaman keluarga priyayi, Ndalem Suryamentaraman Ngayogyakarta. Pariyem bekerja dengan penuh dedikasi, tulus mengabdi dari hati. Tak memiliki tuntutan apapun tentang hidup,  karena menurutnya semua telah berbagi tugas dengan baik, dan ia cukup menjalaninya secara maksimal, dengan senang, bahagia.

Menjadi babu yang diperlakukan secara manusiawi, melebihi penghargaan apapun baginya. Pariyem adalah simbol dari harapan, cinta, keikhlasan, kebahagiaan sekaligus kesedihan, kesepian, kehilangan, serta kemanusiaan semesta.

Pariyem, seorang perempuan Jawa tulen. Ia bercerita tentang dunianya sendiri. Tentang ingatan-ingatannya, tentang imajinasinya, ia bercerita tentang apa yang ia alami dan disebutnya sebagai sebuah pengakuan. Bukan soal dosa, karena Pariyem tak kenal dosa, meski tebal malu.

"Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
"Iyem" panggilam sehari-hari
dari Wonosari Gunung Kidul
sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta
Rasa dosa tidak saya kenal
tapi rasa malu saya tebal."

Pariyem bercerita soal kebahagiaan hidupnya, soal seksualitas termasuk soal kesedihannya. Ia bercerita ketika pertama kali berhubungan badan dengan  Kliwon, sang kekasih hati, di atas tumpukan jerami sarang semut. Ia juga bercerita, ketika dia orgasme saat berhubungan badan dengan Den Bagus, putra dari Ndoro Kanjeng dan Ndoro Ayu. Ia menampilkan ketegasan sikap, sesuatu yang barangkali dinilai kontras dibalik sikapnya yang nrimo sebagai perempuan Jawa yang pasrah.

Kepasrahan Pariyem sebagai perempuan Jawa digambarkan dengan apik. Ditinggal kekasih, lega-lila. Ditiduri anak majikan, lega-lila. Terancam terusir dari rumah karena hamil juga lega-lila. Bukan, bukan soal pasrah-biasa, Pariyem meyakini soal jalan hidup, soal kepantasan dan kepatutan, bukan soal nrimo yang pasrah tanpa sikap.

Alur cerita Pariyem dalam novel ini, seakan menggugat tafsir soal nrimo sebagai pasrah tanpa sikap, pasrah meski terpaksa. Bagi Pariyem, pasrah bukan berarti tak bersikap sehingga berhak dipaksa atau menjadi terpaksa, bersikap nrimo juga bisa menjadi subyek, memiliki sikap untuk menentukan apa yang diinginkan dan dikehendaki.

Sikap itu ditunjukkan oleh Pariyem, ketika ia sedang memiliki hasrat untuk bercinta dengan Den Bagus, ia bisa mengambil inisiatif untuk memulai menggoda dan memberi kode terlebih dahulu, di sisi lain memang ia terlihat pasrah dan tak kuasa menolak, selain karena memang begitu 'sepantasnya' seorang babu melayani majikannya, alasan yang lain yang lebih tepat adalah karena ia juga memang tertarik dengan ketampanan dan keperkasaan Den Bagus, yang seringkali ia perhatikan pada saat sedang latihan bela diri di halaman rumah. Ia memang menginginkan Den Bagus.

Pariyem memang pasrah disetubuhi oleh Den Bagus. Ia pasrah karena ia hanya babu. Tetapi, di sisi lain, ia juga menikmatinya, ia berlaku sebagai subyek yang merasakan kenikmatan beradu cinta dengan seorang anak priyayi yang rupawan, berpendidikan, seorang mahasiswa.

Tak ada sikap nrimo dalam penggambaran kehidupan Pariyem yang dijalani penuh tekanan, terpaksa apalagi menyimpan kesumat "awas aku balas suatu saat nanti!" Nrimo bagi Pariyem, adalah menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan, mengalir dan tulus, memantaskan diri.

Selain itu, di lembar-lembar awal novel ini, Pariyem juga sudah bercerita soal bibit, bobot dan bebet sebagaimana lazimnya seorang Jawa tulen, ia juga bercerita soal asih, asah dan asuh, bahwa baginya bukan ketakutan atau keberanian yang mengantarkan kita berjalan tapi kemauan dan kebulatan hati yang membuat kita bangun dan bangkit,dan bukan kemenangan dan gagah-gagahan yang mengundang untuk bertandang tapi maaf dan rasa kasih sayang yang melestarikan hubungan.

Soal berbagi tugas, ada raja dan ada babu, bagi Pariyem adalah madeg, mantep dan madhep, bahwa rezeki datang bukan dari perbuatan yang curang tapi karena sudah diatur oleh Hyang Maha Agung. Karsa, kerja dan karya bahwa kerja sebagai ibadah harian hidup, karsa yang muncul dari sanubari dan karya hanya cita-cita, tanpa karsa kerja hanya sia-sia, karena karsa yang mengaliri panca indera, mengusik rasa dan pikiran, menggerakkan kaki dan tangan hingga menghasilkan karya yang diingini.

Kehidupan Ndalem Suryamentaraman Ngayogyakarta, digambarkan secara tertib dalam filosofi lirih, laras dan lurus. Bicara tak perlu berteriak lirih, tetapi cukup terang dan jelas. tetapi tidak juga gadhok laras,  tetapi penuh irama, juga tidak asal mulut menchong,  tetapi lurus. Begitulah Ndoro Kanjeng, ketika menggelar sidang meminta pertanggungjawaban Den Bagus yang menghamilinya. Titis, tatas dan tetes sebagai orang muda harus titis dalam menangkap makna pembicaraan, tatas dalam perkerjaan yang dilakukan dan teteslah buah budi yang diwujudkan, mengandung semua kebijaksanaan hidup.

Menjadi selir Den Bagus, adalah kebahagiaan sekaligus kepantasan yang diterima Pariyem, sebagai babu yang nrimo, tak protes tapi punya sikap! Bukan hanya itu, Pariyem juga meceritakan soal relasi, soal kesetaraan bukan hanya relasai majikan-tuan, tetapi juga relasi laki-laki dan perempuan. Tak ada pembedaan priyayi dan babu. Mereka hidup berdampingan selayaknya teman, tak ada yang sok berkuasa, tak perlu ada yang merendah-rendah.

Novel ini sukses membuat saya harus berkata, keren! dan sepertinya harus saya baca kembali, terutama di bagian-bagian bahasa Jawa yang susah saya cerna itu. Biarlah bukunya untuk satu minggu ini diselesaikan Gundul terlebih dahulu.

Ya, ya, Pariyem. Betapa sederhana sebuah kebahagiaan. Betapa kebahagiaan bisa sederhana.