Nyulu

- January 21, 2018


Malam itu, bulan maksimal menyinarkan cahayanya di pulau kami. Suasana menjadi terang. Selepas Isya, orang-orang pulau yang biasanya sudah berada di balik selimut, justeru memenuhi depan rumah masing-masing, anak-anak berkejaran hingga tengah. Sebagian mereka bermain lelembotan, petak umpat. Sebagian lagi bebentengan.

Pulau kami akan lebih ramai lagi, jika tersiar kabar akan terjadi bulan enta rau, gerhana bulan. Meskipun ada mitos yang dibangun, bahwa raksasa bernama rau akan keluar dan memakan bulan, tak sedikit pun menyurutku orang-orang pulau untuk menunggu dan menyaksikannya. Puncaknya, saat bulan sedikit demi sedikit dimakan rau (tertutup cahanya), orang-orang pulau secara serentak akan membunyikan apa saja yang ada di sekitar mereka. Ibu-ibu akan mengambil alu, dan menumbuk lesung sehingga menimbalkan irama bertalu-talu yang teratur, sedangkan bapak-bapak akan membunyikan kentongan yang terbuat dari batang bambu besar. Anak-anak segera di minta masuk ke dalam rumah, dan dalam sekejap pulau kembali menjadi gelap dan hening.

Namun, malam itu bukanlah malam gerhana bulan. Enci (sebutanku untuk Bapak) menyuruhku tak tidur terlalu larut malam. Biasanya menjelang pagi, sekira sejam sebelum subuh, bulan purnama sudah condong ke sebelah barat. Jika Enci menyuruhku buru-buru tidur, itu berarti ia punya rencana mengajakku nyulu, mencari ikan dengan menggunakan tombak.

Nyulu sebenarnya, tidak hanya dilakukan oleh orang pulau kami menjelang subuh, selepas isya, atau menjelang tengah malam juga bisa. Ada yang biasanya mengajak keluarga dan anak-anaknya, ada juga yang berangkat bersama teman-temannya.

Kegiatan nyulu di pulau kami, dulunya tak menggunakan sampan atau perahu kecil, hanya berjalan sesekali menyelam dan membidik ikan dengan senapan ikan yang dibuat secara tradisional. Ikan yang disulu, juga biasanya agak beda dengan ikan yang biasa dipancing, seperti sunu, bilaus, kutambak dan beberapa ikan lain, meski beberapa diantaranya tetap sama. Dari kebiasaan nyulu itu jugalah aku paham, bahwa ikan yang diperoleh malam hari di pulau kami, ternyata lebih gurih dan lezat daripada ikan yang dipancing di siang hari.

***

Ketika bulan tengah asyik menyelinap di antara serombongan awan tipis, cahanya tampias menembus pohon-pohon pisang dekat rumah, membuat suasana penghujung malam menjadi temaram. Sementara suara jangkrik terputus-putus mendengar suara kaki penduduk pulau yang telah terjaga dan baru akan memulai aktivitas melaut. Enci telah menyalakan janno pet, petromaks, menyiapkan senapan ikan, tombak, ember dan sebuah sarappo, kacamata untuk menyelam yang dibuat dari kayu dengan kaca sisa dari kaca lemari atau jendela yang sudah tidak terpakai, bertali karet ban bekas, sehingga menyerupai seperti kacamata tukang las.

Aku membawa ember dan sebilah tombak ikan. Menuruni tangga dan berjalan di belakang Enci. Di kejauhan sebuah cahaya bergerak ke arah laut, seperti kunang-kunang. Itu pasti tetanggaku yang akrab dipanggil Jelli, aku lupa nama aslinya. Sosok dengan perawakan sedang tapi berotot itu tengah bersiap diri menenteng perkakas lengkap, bersama lampu senter di tangannya, dia adalah pelaut ulung.

Jelli, lebih sering menghabiskan waktunya di tengah laut. Bangun sebelum subuh, untuk pergi menyulu. Pulang menjelang subuh, mandi dan segera ke langgar dekat rumah. Selepas subuh ia biasanya langsung mengurus beberapa peliharaan ternak milik beberapa orang di pulau kami yang dipercayakan kepadanya untuk diurus. Setelah semua urusan ternak itu selesai, ia pasti langsung bersiap kembali ke laut hingga menjelang magrib. Begitulah seterusnya, hingga akhirnya ia meninggal.

Meninggalnya juga di laut. Suatu hari ia ikut perahu bersama rombongan untuk nebbe  ke Bungin, gundukan pasir putih yang hanya muncul saat laut surut. Letaknya, lumayan jauh dari pulau kami. Ia meninggal ketika perjalanan pulang, tepat tengah  malam. Ketika itu, ombak lumayan besar, sehingga membuat penumpang yang kelelahan memilih untuk tidur di dalam lambung perahu. Menurut perkiraan mereka, Jelli yang saat itu hendak kencing di bagian belakang kapal terjatuh dan tak ada yang tahu, mereka baru sadar setelah perjalanan hampir tiba di pulau kami dan Jelli tidak ada, perahu berputar haluan, mencari Jelli yang terjatuh, namun sayang, jasad Jelli tak juga ditemukan hingga kini, bertahun-tahun setelah kejadian itu.

"Dengan siapa? Mau ke arah mana nyulunya?" Tanya Enci menggunakan bahasa Same, begitu kami berhasil menyusul Jelli, tepat ketika tiba di pantai.

"Saya ke arah utara saja," jawab Jelli.

"Hati-hati, banyak kiampau dan kaleppo!" Teriak Enci, mengingatkan bahwa laut pulau kami bagian utara memang banyak binatang laut yang berbisa seperti kaleppo, binatang yang cangkangnya seperti batu dan memiliki bisa mematikan, banyak juga kiampau, ikan paru yang ekornya juga sangat berbahaya.

Kami pun akhirnya berpisah, kami menyusuri tepi laut yang airnya hampir surut. Ada beberapa cahaya lampu yang tersebar hampir di setiap titik pinggir laut, pastilah para warga yang juga sedang melakukan aktivitas nyulu seperti kami.

Dari pertengahan bulan hingga akhir bulan hijriyah, laut pulau kami di sepertiga malamnya memang ramai dengan para panyulu. Ada yang pergi nyulu untuk mendapatkan ikan dalam jumlah besar, seperti Jelli, hasilnya untuk dijual. Ada juga yang seperti Enci, sekadar untuk memenuhi lauk keluarga dalam sehari.

Begitulah bagi sebagian warga pulau kami, aktivitas nyulu bukan sekadar sampingan tapi bisa juga menjadi aktivitas utama.

Tapi bagi anak-anak seperti aku, aktivitas nyulu ini adalah ajang refreshing. Turun ke laut,  ikut merasakan hangat air laut begitu badan terendam dan dingin luar biasa begitu keluar dari air, adalah keberkahan tersendiri. Kaki bergumpal menjamahi lumpur laut sehingga sepatu 'khusus' untuk melaut seringkali tertinggal, tertanam di lumpur akan menjadi kesan tak ternilai. Tapi, harus hati-hati, lumpur biasanya tempat yang disenangi kiampau, maka cara terbaik dan aman adalah mengambil bekas tapak kaki Enci.

"Berjalan di gelapnya malam menumbuhkan naluri kemandirian, melangkah waspada akan menjadi terbiasa menghadapai kesulitan dalam hidup. Terbiasa dan terlatih mengangkat dan meletakkan kaki kembali pada tanah berlumpur di dasar laut, adalah latihan hidup, bahwa pulang dan pergi, mengangkat dan menapakkan diri di bumi mana saja, punya cara, punya etika dan harus hati-hati!" Begitu Emak mengajarkan maknanya.

Bukan hal yang mudah memang aktivitas nyulu, butuh badan yang kuat untuk menahan dingin, butuh kejelian dalam melihat ikan tangkapan, perlu fokus untuk menghunjamkan tombak. Mungkin hasil tangkapan nyulu tak seberapa, tapi perburuan adalah usaha melihat dan menemukan peluang dalam tradisi nyulu itulah yang menjadi lebih berharga untuk dinikmati.

Bagi banyak orang, barangkali malam adalah tempat untuk melepas penat setelah seharian mengarungi hidup yang berat. Tapi bagi panyulu, malam adalah waktu untuk terus mengintip dan berburu rezeki. Panyulu mencipta ruang baru di setiap bibir laut, setiap teluk, bahwa laut bukan hanya soal samudera luas, tapi lebih dari itu, ada tradisi dan ada banyak kearifan di sana.

Langit malam semakin berpendar kemerahan, sebentar lagi fajar segera tiba. Lamat-lamat dari kejauhan suara tilawah telah terdengar dari pengeras suara langgar, rupanya Jelli telah pulang duluan.

Lantunan itu memberi isyarat kepada kami untuk bergegas mengakhiri aktivitas nyulu. Langit fajar menuju pagi persis di pertengahan bulan ini menjadi saksi. bahwa hasil bukanlah yang utama bagi Jelli, ia tetap harus pulang menjalankan tugasnya sebagai penyeru untuk membangunkan orang-orang agar datang ke langgar, menunaikan salat subuh.

Hasil nyulu diserahkan pada istri,  disisihkan sebagian untuk menjadi lauk, dan sisanya ditawarkan kepada tetangga tetangga atau warga pulau yang tak memiliki lauk, dibarter dengan kelapa, telur atau hasil bumi yang lain. Hasil nyulu tetap bisa dinikmati siapa saja.


Jelang Magrib (malas baca dan edit)

Metro, 21/1/2018
Advertisement